23/05/2025 513

Aksesibilitas Teknologi AI: Peran Kritis Pendidikan Islam

author photo
By Hani Puji

Sekretaris Bidang IMMawati DPD IMM Jawa Tengah

“It has become appallingly obvious that our technology has exceeded our humanity” – Albert Einstein

Di tengah kemajuan dan kecanggihan teknologi yang kian berkembang pesat, berbagai dampak tentu dirasakan baik itu dampak positif hingga dampak negatif sekalipun. Arus digitalisasi merasuk ke dalam segala aspek kehidupan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan bahkan agama. Revolusi teknologi digital bukan hanya diperuntukkan kaum elit saja. Penguasa, rakyat biasa, orang dewasa hingga anak-anak balita bisa dengan mudah menjangkaunya.

Mengulas apa yang dikatakan Einstein diatas bahwa teknologi telah melampaui sisi kemanusiaan kita, menunjukkan adanya kekhawatiran terhadap perkembangan teknologi itu sendiri. Teknologi memang berkembang sangat cepat dan pesat, namun hal itu tidak dibarengi oleh perkembangan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak berkembang secepat itu. Alih-alih berkembang justru malah mengalami kemunduran atau degradasi.

Kecepatan yang tidak berimbang itulah yang kemudian mengakibatkan sisi kemanusiaan manusia tenggelam, tergerus oleh teknologi. Implikasinya adalah teknologi yang hidup berdampingan dengan manusia seharusnya dapat digunakan dalam hal-hal positif dan berdampak kemajuan jika penggunanya mampu mengendalikan dengan baik. Misalnya saja dapat digunakan dalam membantu mensukseskan penyelenggaraan berbagai bidang salah satunya pendidikan. Sebaliknya jika manusia kehilangan sisi kemanusiaannya, teknologi canggih justru akan menjadi alat perang yang tajam seperti penyebaran hoax, penipuan hingga kekerasan.

Temuan teknologi canggih salah satunya adalah teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelegence (AI) yang saat ini marak digunakan, tentu akan berdampak negatif dan menimbulkan kerugian pada diri sendiri bahkan orang lain jika tidak digunakan dengan bijak.

Aksesibilitas AI, Sisi Kemanusiaan yang Hilang

Mengutip apa yang dikatakan Elon Musk, “AI is a fundamental risk to the existence of human civilization, with AI we are summoning the demon”

Elon Musk memberi peringatan kepada kita jika AI tidak digunakan dengan bijak. Tentu saja sangat boleh berkawan dengan AI, karena tidak dipungkiri AI membantu pekerjaan kita. Bahkan dalam membuat artikel ini sekalipun dibantu oleh kecanggihan teknologi AI khususnya dalam mencari data dan istilah-istilah.

Namun tidakkah kita sadar bahwa dengan sering mengandalkan AI juga berdampak kurang baik pada diri kita sendiri. Menggunakan AI secara berlebihan dan tidak bijak sejatinya akan membuat otak menjadi malas berpikir dan tentunya menjadi bodoh. Karena otak tak lagi diajak berpikir keras, berpikir kritis dan menganalisis lantaran memilih menempuh jalan kilat ninja menggunakan bantuan kecerdasan buatan AI.

Berbicara sisi kemanusiaan, nyatanya penggunaan AI dapat menggerus humanisme dimana empati tak lagi dimiliki, etika dan moral diabaikan, kreativitas tak lagi dianggap penting, kesadaran dan tanggungjawab pun menjadi hilang.

Mari menengok realita dalam dunia pendidikan misalnya, tidak sedikit mahasiswa hingga pelajar sekalipun menyelesaikan tugasnya dengan AI, bahkan sebagian guru juga tak luput dengan AI ini. Boleh saja memanfaatkan kemudahan AI namun harusnya hanya sebagai referensi bukan pengganti. Karena hal itu dapat menghambat dan menurunkan daya kritis juga analisis.

Oleh karena itu penting untuk merawat dan memelihara nilai-nilai kemanusiaan ditengah maraknya AI. Karena humanitas bukanlah sesuatu yang dapat diprogram, melainkan sesuatu yang harus ditumbuhkan, dirawat dan dijaga dengan bijaksana.

Peran Kritis Pendidikan Islam Menjawab Tantangan teknologi AI

Merespon tantangan zaman yang telah mengikis nilai-nilai kemanusiaan, maka pendidikan Islam seharusnya menjadi pilar yang paling ampuh. Selain dari mencegah dan mengobati, pendidikan Islam seharusnya juga mampu menyadarkan.

Pendidikan Islam hari ini tidak boleh lagi jika hanya sekedar transfer pengetahuan agama berbasis tekstual. Pendidikan Islam haruslah menjadi aspek pembentukan karakter, etika, moral dan kepribadian yang luhur.

Sebagai sistem pendidikan yang berakar pada wahyu dan akal, pendidikan Islam memiliki tanggung jawab besar dalam menjawab era digital. Tujuannya bukan hanya menciptakan individu yang cakap teknologi, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, dan mampu menjaga nilai-nilai Islam di tengah derasnya arus inovasi. Agar sisi kemanusiaan tetap terawat dan terpelihara dari pengikisan dan keterasingan.

Ditengah arus perkembangan teknologi yang disertai kemunduran moralitas seperti saat ini, maka pendidikan Islam perlu mengambil peran kritis dalam menjawab tantangan zaman. Diantara yang perlu dilakukan adalah pertama, menciptakan proses pendidikan yang humanis, bukan sekedar ramah namun bertujuan menjadikan manusia sebagai manusia yang utuh mampu mengenali diri sendiri dengan baik. Kedua, mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam teknologi, khususnya dalam hal penguatan karakter serta menanamkan etika dan moral dalam penggunaan teknologi. Ketiga, mengembangkan kurikulum yang disesuaikan dengan arus perkembangan teknologi, termasuk didalamnya menyangkut pentingnya literasi teknologi. Agar teknologi digunakan secara bijak untuk membantu bukan menggantikan peran. Akan sangat berbahaya jika hal ini tidak ditanamkan secara mengakar.

Terakhir yang perlu diingat adalah bahwa Islam merupakan agama yang damai dan penuh kasih sayang. Sayangnya dalam praktik pendidikan Islam lebih banyak memperkenalkan Islam dimulai dari aturan, perintah dan larangan. Padahal Tuhan lebih banyak memberikan cinta dan kasih sayang daripada perintah dan larangan. Hal fundamental inilah yang harus menjadi perhatian dalam praktik pendidikan Islam. Agar fondasi iman seorang individu kuat dan tidak mudah tergerus oleh zaman.


Prev Post

Pendidikan Bermutu untuk Semua, Presiden Dorong Percepatan Jawaban atas Tantangan Pendidikan Nasiona

Next Post

Direktur Pundi Serahkan Komik Buya kepada Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah

BACK TO TOP