30/04/2026 30

PC IMM Bantul Gelar PID Nasional Non-PTMA, Perkuat Ijtihad Perkaderan di Tengah Tantangan Zaman

author photo
By Redaksi PUNDI

Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta

Pelatihan Instruktur Dasar (PID) Nasional Non-PTMA yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kabupaten Bantul pada 17–19 April 2026 bukan sekadar agenda seremonial perkaderan. Di tengah tantangan organisasi mahasiswa yang semakin pragmatis, individualistik, dan kehilangan orientasi ideologis, kegiatan ini hadir sebagai ruang konsolidasi intelektual dan penguatan arah kaderisasi IMM agar tetap relevan menjawab perkembangan zaman.

Bertempat di Rumah Yatim dan Dhuafa Surya Kasih, Kasihan, Bantul, kegiatan yang mengusung tema “Ijtihad Perkaderan Meneguhkan Peran Instruktur IMM Non-PTMA dalam Menjawab Tantangan Zaman” tersebut diikuti oleh peserta dari internal PC IMM Bantul dan PC IMM Banyumas. Kehadiran peserta lintas cabang menunjukkan bahwa kaderisasi tidak dapat dibangun secara parsial, melainkan membutuhkan jejaring gerakan yang saling menguatkan dalam menghadapi kompleksitas persoalan umat, bangsa, dan organisasi.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta terlibat dalam rangkaian diskursus yang sangat intens mengenai metode belajar, analisis kebutuhan kaderisasi, hingga penyusunan kurikulum perkaderan berbasis lokal. Diskursus ini menjadi ruang dialektika kader untuk membaca kembali arah kaderisasi IMM agar tidak terjebak pada pola-pola lama yang stagnan dan seremonial. Dalam forum tersebut, peserta didorong untuk memahami bahwa kaderisasi harus mampu menjawab realitas kader-kader di masing-masing Cabang dan Komisariat, sehingga tidak tercerabut dari kebutuhan dan tuntutan pola berpikir karakteristik kaderisasi, dan zaman.

PID Nasional Non-PTMA menjadi ruang refleksi bahwa instruktur bukan hanya melakukan “kaderisasi” dalam forum perkaderan, melainkan penjaga arah ideologis organisasi dan penggerak kesadaran kritis kader.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, budaya instan, dan melemahnya tradisi literasi di kalangan mahasiswa, IMM dihadapkan pada tantangan besar untuk melahirkan kader yang tidak hanya aktif secara organisatoris, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir, sensitivitas sosial, dan keberpihakan terhadap problem rakyat. Karena itu, agenda PID ini menjadi penting sebagai ikhtiar membangun instruktur yang mampu menghadirkan proses kaderisasi yang dialogis, transformatif, dan membebaskan.

Ketua Umum PC IMM Bantul periode 2025–2026, Immawati Hani’ Ats-Tsaqofiyah, menegaskan bahwa PID merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menyiapkan kader yang memiliki kemauan dan kemampuan dalam memberikan kontribusi nyata bagi gerakan Islam Berkemajuan di masa depan. Menurutnya, kaderisasi tidak boleh berhenti pada rutinitas formal atau sekadar menggugurkan agenda struktural, tetapi harus menjadi ruang pembentukan karakter, peneguhan nilai, dan pengasahan visi keumatan serta kebangsaan.

Pernyataan tersebut menjadi relevan jika melihat realitas bahwa sebagian gerakan mahasiswa hari ini mulai kehilangan daya kritis dan cenderung terjebak pada orientasi simbolik. Dalam situasi demikian, IMM dituntut menghadirkan model kaderisasi yang tidak hanya menghasilkan kader yang “siap forum”, tetapi juga kader yang mampu membaca realitas sosial, merespons problem kemanusiaan, dan menghadirkan solusi melalui gerakan intelektual maupun praksis sosial.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut para master instruktur sebagai narasumber dan penguji selama tiga hari, yaitu Hatib Rahmawan, selaku Master of Training dan Rahmat Saleh, selaku Secretary of Training. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dalam memastikan proses kaderisasi berjalan tidak hanya secara administratif, tetapi juga substantif dan ideologis.

Melalui PID Nasional Non-PTMA ini, PC IMM Bantul menunjukkan bahwa kaderisasi harus terus bergerak menyesuaikan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai dasar gerakan. Sebab di tangan para instrukturlah arah masa depan organisasi ditentukan: apakah IMM hanya menjadi organisasi mahasiswa biasa, atau tetap menjadi gerakan intelektual profetik yang melahirkan kader-kader berilmu, berakhlak, dan berpihak pada cita-cita kemanusiaan serta keadilan sosial.

Prev Post

Mengurai Benturan Mentalitas Gen-Z dan Realitas Industri

BACK TO TOP