Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Ahmad Dahlan yang aktif dalam organisasi IMM Fakultas Teknologi Industri Universitas Ahmad Dahlan.
Pendahuluan
Media sosial telah berkembang menjadi komponen penting dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Dengan platform seperti TikTok, Instagram, dan X membuat setiap orang dapat dengan mudah membagikan aktivitas, opini, maupun identitas mereka kepada publik. Namun fenomena yang semakin sering diperdebatkan di balik kebebasan adalah bagaimana perempuan digambarkan di media sosial menggunakan standar viral dan algoritma digital. Belakangan ini, Isu standar kecantikan perempuan telah menjadi subjek percakapan di media sosial. Tren seperti “clean girl aesthetic”, “glass skin”, tubuh ideal, hingga gaya hidup mewah menjadi konten yang terus muncul di beranda pengguna. Perempuan yang memenuhi standar tertentu sering mendapatkan lebih banyak perhatian, likes, dan followers daripada perempuan yang tampil apa adanya. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah media sosial benar-benar menjadi ruang bebas berekspresi bagi perempuan, atau justru menciptakan tekanan sosial baru?
Simone de Beauvoir pernah mengatakan dalam bukunya, “Perempuan tidak dilahirkan, tetapi diciptakan oleh lingkungan sosialnya.” [1] Kutipan ini menunjukkan bahwa cara masyarakat melihat perempuan dibentuk oleh konstruksi sosial, termasuk melalui media digital yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam konteks media sosial, bagaimana perempuan "seharusnya" tampil dan diterima oleh publik dipengaruhi oleh budaya viral dan algoritma digital. Algoritma digital sekarang menentukan konten yang menarik dan layak viral, selain masyarakat. Akibatnya, perempuan sering percaya bahwa mereka harus tampil dengan cara yang sempurna untuk mendapatkan validasi sosial di dunia digital. Kondisi ini menjadi masalah besar karena berdampak pada cara perempuan memandang dirinya sendiri, kesehatan mental, hingga peran perempuan dalam masyarakat modern.
Dalam konteks yang lebih luas, realitas ini juga tercermin dalam karya sastra Indonesia. Novel Cantik Itu Luka menggambarkan bagaimana label “cantik” tidak selalu bermakna indah, tetapi justru bisa menjadi sumber luka, penindasan, dan beban sosial bagi perempuan. Hal ini sejalan dengan fenomena media sosial saat ini, di mana kecantikan sering kali menjadi standar utama yang menentukan nilai seorang perempuan di ruang publik digital.
Algoritma dan Budaya Viral di Media Sosial
Algoritma merupakan sistem otomatis yang digunakan media sosial untuk mengatur konten berdasarkan minat dan aktivitas pengguna. Algoritma akan memprioritaskan konten yang memiliki engagement tinggi seperti likes, komentar, dan jumlah tayangan. Semakin banyak interaksi yang diterima suatu konten, maka semakin besar kemungkinan konten tersebut muncul di halaman utama pengguna lain.
Dalam praktiknya, algoritma sering menghasilkan konten perempuan yang memenuhi standar visual tertentu. Konten dengan wajah menarik, tubuh ideal, atau gaya hidup estetik cenderung lebih mudah viral daripada konten edukatif atau diskusi intelektual. Hal ini mengubah wanita menjadi pengguna media sosial dan "objek visual" yang dinilai berdasarkan bagaimana mereka terlihat.
Tren pretty privilege, yaitu ketika seseorang mendapatkan perlakuan lebih baik karena dianggap menarik secara fisik, semakin menunjukkan fenomena ini. Banyak pengguna media sosial berpendapat bahwa perempuan cantik lebih mudah mendapatkan popularitas, kesempatan kerjasama brand, hingga peningkatan jumlah followers. Akibatnya, budaya digital muncul yang menilai perempuan berdasarkan bagaimana mereka terlihat. Media sosial, melalui konten visual yang dikonsumsi oleh pengguna setiap hari, memiliki pengaruh besar terhadap persepsi standar kecantikan perempuan. Paparan standar kecantikan digital secara terus-menerus dapat memengaruhi cara perempuan menilai dirinya sendiri dan meningkatkan kebutuhan akan validasi sosial [2].
Padahal, media sosial seharusnya menjadi ruang untuk menunjukkan kreativitas, pemikiran, dan kemampuan seseorang tanpa harus terikat standar kecantikan tertentu. Sayangnya, algoritma justru memperkuat budaya viral yang lebih mengutamakan visual dibandingkan kualitas isi konten.
Representasi Perempuan dan Standar Kecantikan Digital
Isu standar kecantikan digital menjadi salah satu persoalan yang paling banyak dibahas saat ini. Filter wajah, edit foto, hingga penggunaan artificial intelligence dalam mempercantik tampilan membuat standar kecantikan semakin tidak realistis. Banyak perempuan merasa harus memiliki kulit putih, tubuh langsing, wajah simetris, dan penampilan sempurna agar diterima di media sosial.
Menurut Rosalind Gill dalam bukunya Gender and the Media (2007), media tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga membentuk cara masyarakat memahami identitas dan peran gender. Pernyataan tersebut relevan dengan kondisi media sosial saat ini yang terus membangun standar perempuan ideal melalui konten-konten viral [3].
Jika dikaitkan dengan novel Cantik Itu Luka [4], kecantikan dalam banyak konteks sosial tidak pernah benar-benar netral. Dalam novel tersebut, kecantikan justru menjadi “kutukan sosial” yang membawa tokoh perempuan pada berbagai bentuk eksploitasi dan penderitaan. Hal ini menunjukkan bahwa standar kecantikan tidak hanya membentuk persepsi, tetapi juga dapat menjadi alat kuasa yang menekan perempuan.
Tren seperti clean girl aesthetic misalnya, menggambarkan perempuan ideal sebagai sosok yang selalu rapi, glowing, fashionable, dan produktif. Meskipun terlihat sederhana, tren ini sebenarnya menciptakan tekanan sosial tersendiri karena tidak semua perempuan memiliki kondisi ekonomi maupun fisik yang sama. Selain itu, media sosial juga memunculkan fenomena body shaming dan cyber bullying terhadap perempuan yang dianggap tidak sesuai standar. Perempuan dengan tubuh gemuk, kulit gelap, atau penampilan sederhana sering menjadi sasaran komentar negatif. Hal ini menunjukkan bahwa diskriminasi berbasis penampilan masih ada di dunia digital.
Ironisnya, banyak perempuan akhirnya menggunakan media sosial untuk membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan orang lain. Mereka merasa kurang cantik, kurang sukses, atau kurang menarik dibandingkan dengan perempuan yang viral di internet. Kondisi ini sangat berdampak pada kesehatan mental, terutama bagi remaja perempuan yang masih berada dalam proses pencarian identitas diri.
Perempuan sebagai Korban dan Pelaku Standar Sosial
Menariknya, standar sosial di media sosial tidak hanya dibentuk oleh laki-laki, tetapi juga sesama perempuan. Banyak perempuan tidak menyadari melanggengkan budaya penilaian fisik melalui komentar, tren, dan konten yang mereka bagikan. Fenomena ini menunjukkan bahwa lingkaran sosial yang kompleks diciptakan oleh media sosial.
Perempuan menjadi korban dari standar kecantikan digital, tetapi di sisi lain mereka juga ikut mempertahankan budaya ini untuk mendapatkan pengakuan sosial. Validasi dalam bentuk likes dan komentar positif sering menjadi alasan utama seseorang mengikuti tren tertentu. Budaya "perempuan harus sempurna" juga menjadi lebih kuat di media sosial. Perempuan dituntut memenuhi standar sosial dengan menjadi cantik, pintar, produktif, fashionable, mandiri. Tekanan ini menyebabkan banyak perempuan mengalami kelelahan mental akibat berusaha memenuhi ekspektasi digital yang tidak realistis.
Dampak terhadap Kehidupan Sosial dan Mental
Kehidupan sosial dipengaruhi oleh representasi perempuan yang terlalu berfokus pada penampilan. Pertama, perempuan menjadi lebih rentan mengalami insecurity atau rasa tidak percaya diri. Mereka percaya bahwa mereka harus selalu tampil menarik untuk diterima lingkungan sosial digital. Kedua, media sosial menciptakan budaya perbandingan sosial yang berlebihan. Kehidupan yang terlihat sempurna di internet sering membuat pengguna lupa bahwa banyak konten telah melalui proses editing dan pencitraan.
Penggunaan media sosial yang intens dapat meningkatkan kecenderungan perempuan untuk melakukan perbandingan sosial tentang penampilan fisik mereka [5]. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya rasa tidak percaya diri dan kecemasan terhadap tubuh. Intensitas penggunaan Instagram berkaitan dengan meningkatnya rasa tidak percaya diri pada remaja perempuan karena kebiasaan membandingkan penampilan diri dengan figur yang dianggap ideal di media sosial [6].
Ketiga, tekanan media sosial juga berdampak pada kesehatan mental. Banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kecemasan, stres, hingga depresi, terutama pada remaja perempuan. Selain itu, perempuan yang aktif berbicara di media sosial juga sering mengalami pelecehan online dan komentar seksis. Perempuan sering diserang secara personal ketika mereka menyuarakan pendapat mereka tentang masalah sosial atau politik. Ini menunjukkan bahwa dunia online masih kurang aman bagi perempuan.
Upaya Membangun Representasi yang Lebih Sehat
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan kesadaran kolektif dari masyarakat dan perusahaan teknologi. Sangat Penting bagi platform media sosial untuk lebih memperhatikan dampak algoritma terhadap kesehatan mental pengguna, terutama bagi perempuan. Lebih banyak ruang harus diberikan untuk konten yang mendorong body positivity, self acceptance, dan keberagaman representasi perempuan.
Selain itu, literasi digital sangat penting agar masyarakat memahami bahwa beberapa konten yang ditemukan di media sosial bukan realitas sebenarnya. Pengguna harus lebih kritis terhadap standar sosial yang dibentuk oleh internet dan tidak mudah membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Edukasi mengenai body positivity dan kesehatan mental di media digital dapat membantu perempuan lebih kritis terhadap budaya viral yang tidak realistis.
Perempuan juga perlu didorong untuk menjadi lebih percaya diri menunjukkan kemampuan, pemikiran, dan karya mereka tanpa harus terikat pada standar kecantikan tertentu. Representasi perempuan seharusnya tidak hanya tentang penampilan, tetapi juga tentang kecerdasan, kreativitas, kepemimpinan, dan kontribusi sosial.
Penutup
Cara perempuan digambarkan di ruang publik digital telah diubah oleh media sosial. Di era budaya algoritma dan viral saat ini, perempuan sering dinilai berdasarkan standar penampilan visual dan standar kecantikan untuk mendapatkan perhatian publik. Namun, seperti yang digambarkan dalam Novel Cantik Itu Luka, kecantikan tidak selalu berarti membahagiakan atau ideal; itu bisa menjadi luka ketika standar kecantikan dijadikan standar yang membatasi manusia, terutama perempuan.
Fenomena ini menimbulkan tekanan sosial baru yang berdampak pada kesehatan mental perempuan, rasa percaya diri mereka, dan kebebasan mereka untuk berbicara. Namun, apabila digunakan secara bijak, media sosial juga dapat berfungsi sebagai tempat pemberdayaan. Oleh karena itu, perempuan tidak hanya harus dinilai berdasarkan bagaimana mereka terlihat, tetapi juga berdasarkan apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka bisa lakukan, dan apa yang mereka berikan untuk masyarakat. Ruang media sosial dapat menjadi tempat yang lebih aman, inklusif, dan setara bagi perempuan dengan peningkatan kesadaran digital.
Daftar Pustaka
[1] S. D. E. Beauvoir et al., The Second Sex. United States by: Vintage Books, 2011.
[2] N. Salsabilla, A. Putri, and N. W. Astuti, “HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL,” vol. 7, no. 2, pp. 496–506, 2023.
[3] R. Gill, Gender and The Media. Cambridge CB2 1UR, UK.: Polity Press, 2007.
[4] E. Kurniawan, Cantik Itu Luka. Yogyakarta: AKYPress, 2002.
[5] J. Fardouly and L. R. Vartanian, “Negative comparisons about one ’ s appearance mediate the relationship between Facebook usage and body image concerns,” Body Image, vol. 12, pp. 82–88, 2015, doi: 10.1016/j.bodyim.2014.10.004.
[6] F. Sukma, A. Ningsih, and N. Rokhmah, “Pengaruh body shaming terhadap body image remaja perempuan � Cognicia,” vol. 11, no. 1, pp. 79–84, 2023, doi: 10.22219/cognicia.v11i1.24983.
Tags: Media Sosial Perempuan Feminisme
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP