Anggota Dewan Redaksi PUNDI. Mahasiswa Pascasarjana PAI UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pecinta motor klasik, kopi, dan buku.
Kita hidup di zaman yang gemar menyebut dirinya modern. Informasi tersedia di genggaman, jawaban hadir dalam hitungan detik, dan dunia terasa begitu dekat lewat layar kecil di tangan kita. Ponsel pintar dipamerkan sebagai simbol kemajuan, internet dirayakan sebagai tanda kebebasan baru. Namun ada ironi yang jarang kita akui: semakin mudah mendapatkan informasi, semakin malas kita berpikir.
Kita terbiasa mencari jawaban instan, membaca judul tanpa memahami isi, dan merasa cukup tahu hanya karena melihat potongan video berdurasi satu menit. Kita lebih cepat bereaksi daripada merenung. Di tengah banjir pengetahuan, kita justru memilih hidup di genangan hiburan.
Perubahan ini tidak terjadi secara kebetulan. Media sosial menanamkan logika baru yang diam-diam menguasai cara kita memandang dunia: yang penting ramai, bukan benar. Ukuran kebenaran bergeser dari ketajaman argumen menjadi jumlah tayangan. Sesuatu dianggap penting bukan karena memberi pemahaman, melainkan karena berhasil memenuhi linimasa.
Algoritma bekerja seperti tangan tak terlihat yang mengatur perhatian kita. Ia menentukan apa yang muncul di layar, apa yang dibicarakan, dan perlahan-lahan apa yang kita anggap benar. Kita merasa bebas memilih, padahal pilihan kita sudah diarahkan. Kita merasa berpikir sendiri, padahal sering kali hanya mengikuti arus yang dibuat mesin.
Dampaknya menjalar ke mana-mana. Remaja mengukur nilai diri dari jumlah komentar. Mahasiswa lebih sibuk merekam momen daripada memahami teks. Politikus berbicara bukan untuk menjelaskan gagasan, tetapi untuk menghasilkan potongan kalimat yang mudah diviralkan. Kata-kata berubah menjadi komoditas, bukan sarana pengetahuan.
Politik yang dulu diidentikkan dengan visi dan program kini berubah menjadi panggung drama digital. Bukan isi yang menentukan, melainkan seberapa provokatif judul berita dan seberapa cepat potongan orasi menyebar. Semua berlomba menjadi viral, seolah viral adalah bentuk tertinggi keberhasilan.
Di titik inilah tragedi itu muncul: otak yang seharusnya digunakan untuk bernalar justru dipelihara dalam keramaian yang membuatnya malas bekerja.
Fenomena viral bukan sekadar hiburan. Ia adalah tanda bahwa masyarakat mulai kehilangan kemampuan membedakan antara yang populer dan yang benar. Ketika pengetahuan diukur dengan jumlah like dan share, publik berhenti bertanya apakah suatu informasi masuk akal.
Kita dibius oleh angka. Semakin banyak penonton, semakin besar kesan bahwa sesuatu itu penting. Logikanya sederhana sekaligus berbahaya: “Kalau ramai, pasti ada gunanya.” Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa keramaian tidak pernah otomatis melahirkan kebenaran.
Akibatnya, kebohongan yang menarik sering menang melawan fakta yang membosankan. Opini yang keras lebih cepat menyebar daripada penjelasan yang hati-hati. Yang bertahan bukan pengetahuan, melainkan hiburan. Manusia perlahan turun derajat: dari makhluk yang berpikir menjadi makhluk yang berkomentar.
Kita lebih bangga menulis kalimat pedas di kolom komentar daripada membaca satu bab buku. Kita merasa kritis karena ikut perdebatan, padahal hanya menambah kebisingan.
Efek paling serius dari budaya viral adalah matinya kepakaran. Dulu seseorang diakui sebagai ahli setelah belajar bertahun-tahun, meneliti, menulis, dan diuji oleh komunitas ilmiah. Kini siapa pun bisa tampil sebagai pakar selama memiliki pengikut banyak.
Gelar akademik kalah pamor dari centang biru. Buku tebal kalah cepat dari utas singkat. Pengetahuan direduksi menjadi konten instan yang harus selesai dikonsumsi sebelum pengguna menggulir layar berikutnya.
Inilah demokratisasi semu. Semua orang diberi panggung yang sama, tetapi tidak semua orang memiliki pengetahuan yang sama. Ketika ukuran kompetensi dihapus, kebodohan akan berbicara sekeras ilmu. Dan karena publik lebih menyukai hal yang sederhana, suara kebodohan sering terdengar lebih menarik.
Media arus utama pun tidak sepenuhnya bebas dari jebakan ini. Komentar selebritas tentang isu serius sering diperlakukan lebih penting daripada pendapat akademisi. Sensasi lebih laku daripada penjelasan. Media yang seharusnya menjadi penjaga nalar publik perlahan berubah menjadi pabrik perhatian.
Kondisi ini tumbuh dari budaya yang menyepelekan pendidikan. Sekolah dipandang sebagai tempat mengejar ijazah, bukan membentuk cara berpikir. Maka jangan heran bila masyarakat lebih percaya figur populer daripada hasil riset.
Ketika kepakaran mati, masyarakat kehilangan kompas. Mereka merasa merdeka beropini, padahal hanya mengikuti arus. Mereka yakin sedang menggunakan hak demokratis, padahal perhatian mereka diarahkan oleh algoritma dan kepentingan pasar.
Lihatlah berbagai sektor. Di bidang kesehatan, hoaks menyebar lebih cepat daripada edukasi medis. Di bidang pendidikan, teori konspirasi lebih mudah dipercaya daripada penjelasan pakar. Dalam politik, drama pribadi lebih menarik daripada gagasan pembangunan.
Ini bukan sekadar kegagalan individu. Ini kegagalan kolektif.
Rakyat kehilangan pijakan. Mereka lebih percaya jumlah share daripada data. Mereka lebih menyukai narasi emosional daripada argumentasi rasional. Demokrasi kehilangan makna karena ruang publik dipenuhi perlombaan menjadi paling heboh.
Peradaban tidak selalu runtuh karena serangan dari luar. Kadang ia runtuh karena warganya sendiri berhenti menghargai akal sehat. Kita sedang menulis kisah itu sambil tertawa di depan layar.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menakutkan: apakah kita rela hidup dalam kebodohan kolektif? Apakah kita puas menjadi manusia dengan otak yang membusuk, asalkan kontennya ditonton jutaan orang?
Jika jawabannya iya, maka kita sedang menggali kubur peradaban kita sendiri.
Tanpa nalar, manusia hanyalah kerumunan yang mudah diarahkan. Tanpa literasi, rakyat hanyalah pasar yang gampang dijual apa saja. Tanpa kepakaran, keputusan publik hanya menjadi permainan citra.
Dan ketika rakyat kehilangan kompas, negara pun kehilangan arah.
Masih ada harapan, tetapi harapan itu tidak lahir dari viralitas. Ia lahir dari keberanian untuk kembali menghargai pengetahuan.
Kita perlu membangun budaya yang tidak mudah takjub pada angka. Viral tidak boleh menjadi ukuran kebenaran. Kepakaran tidak boleh dipinggirkan. Literasi harus diperlakukan sebagai kebutuhan dasar, bukan hobi segelintir orang.
Perubahan memang tidak mudah. Melawan logika viral berarti melawan arus yang sudah menguasai keseharian kita. Tetapi menyerah jauh lebih berbahaya.
Kita membutuhkan keberanian untuk kembali membaca ketika dunia sibuk menggulir layar. Kita membutuhkan keberanian untuk berdialog ketika dunia lebih suka berteriak. Kita membutuhkan keberanian untuk berpikir pelan ketika dunia memuja reaksi cepat.
Kebenaran tidak diukur dari jumlah like atau share. Kebenaran diukur dari ketajaman argumen, kejujuran data, dan kesediaan untuk terus belajar.
Jika langkah itu tidak diambil, maka tragedi otak yang membusuk akan menjadi catatan paling memalukan dari generasi ini. Namun jika kita berani berubah, dunia digital tidak harus menjadi kuburan nalar. Ia bisa menjadi ruang belajar yang menghidupkan kembali martabat manusia.
Dan mungkin, dari sanalah kebangkitan itu dimulai: ketika kita berhenti menjadi penonton pasif keramaian digital, lalu kembali menjadi manusia yang mau berpikir.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP