11/09/2026 7

Tim SAR Perluas Pencarian Lima Jurnalis dan Tiga Kru Kapal yang Hilang di Selat Sunda

author photo
By Redaksi PUNDI

Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta

PANDEGLANG - Tim SAR gabungan terus memperluas operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di perairan Selat Sunda. Memasuki hari keempat pencarian pada Jumat (11/9/2026), area operasi diperluas menjadi empat sektor utama dan satu sektor khusus dengan cakupan sekitar 3.243,7 mil laut persegi.

Delapan orang tersebut diketahui berada di kapal cepat Arupadhatu 1 untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Rombongan dilaporkan hilang kontak setelah melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau pada Senin (7/9/2026).

Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut yakni M. Bagus Khoirunnas, pewarta foto ANTARA; Arie Basuki, fotografer Merdeka.com; Yudistiro Pranoto, fotografer iNews; Firman Daus, jurnalis Anadolu Agency; serta Donal Husni, jurnalis lepas.

Sementara itu, tiga kru kapal Arupadhatu 1 terdiri atas Warta yang bertugas sebagai kapten, Surakman sebagai anak buah kapal (ABK), dan Heriyanto sebagai pemandu.

Rombongan berada di kawasan Selat Sunda untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sebelum komunikasi terputus, awak kapal sempat mengirimkan informasi dan dokumentasi mengenai kondisi gunung melalui pesan komunikasi. Setelah itu, keberadaan rombongan dan kapal tidak lagi diketahui.

Tim SAR kemudian melakukan pencarian dengan mengerahkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga masyarakat dan nelayan. Sejumlah kapal SAR digunakan untuk menyisir wilayah perairan yang diduga menjadi jalur atau lokasi terakhir keberadaan rombongan.

Pada hari keempat, wilayah pencarian diperluas berdasarkan hasil evaluasi operasi sebelumnya dan perhitungan kemungkinan pergerakan kapal. Tim SAR menggunakan metode SAR Map Prediction untuk memperkirakan arah pergerakan berdasarkan kondisi arus, angin, serta karakteristik perairan.

Penyisiran dilakukan di sejumlah wilayah sekitar Selat Sunda, termasuk Pulau Sertung, Pulau Rakata, Pulau Panjang, Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, hingga perairan Tambling, Tanggamus, dan wilayah barat laut Selat Sunda.

Perluasan wilayah pencarian dilakukan karena hingga memasuki hari keempat, keberadaan delapan orang tersebut maupun kapal Arupadhatu 1 belum ditemukan. Dengan memperluas sektor pencarian, tim berharap dapat meningkatkan peluang menemukan keberadaan rombongan berdasarkan kemungkinan pergeseran posisi akibat kondisi laut.

Operasi pencarian juga menghadapi tantangan karena berlangsung di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau yang masih memiliki aktivitas vulkanik. Gunung tersebut berada pada status Level III atau Siaga. Kondisi tersebut membuat proses pencarian harus dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan personel sekaligus dinamika kondisi perairan dan aktivitas gunung.

Dalam situasi tersebut, koordinasi antarunsur menjadi bagian penting dalam operasi pencarian. Tim SAR tidak hanya mengandalkan penyisiran melalui jalur laut, tetapi juga memanfaatkan berbagai informasi terakhir yang diterima dari rombongan serta teknologi pendukung untuk menentukan wilayah yang perlu diperiksa.

Hingga hari keempat, pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal masih terus dilakukan. Perluasan area operasi menjadi langkah lanjutan untuk menemukan keberadaan rombongan yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat mengenai tingginya risiko kerja jurnalistik di kawasan rawan bencana. Aktivitas peliputan di lapangan, khususnya di wilayah dengan kondisi alam yang dinamis, membutuhkan kesiapan keselamatan, koordinasi, serta pemantauan kondisi lingkungan secara berkelanjutan.

Prev Post

Ketika Korban Berani Bersuara, Perlindungan Harus Mengikuti

BACK TO TOP