Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta
Jakarta – Bank Indonesia (BI) angkat bicara soal melemahnya rupiah yang kini bergerak di sekitar Rp17.950 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot, Kamis (15/10/2026) pagi. Bank sentral menilai tekanan ini bersumber dari faktor global, bukan masalah yang berasal dari dalam negeri saja.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa pemicu utamanya adalah rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan pasar. Data itu mendorong ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan kembali menaikkan suku bunga.
Faktor lainnya adalah ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut menahan harga minyak dunia di atas US$105 per barel.
Dampaknya terlihat di pasar keuangan global. Indeks dolar AS (DXY) melonjak ke level tertinggi sejak Mei 2025, sementara imbal hasil surat utang AS tenor dua tahun naik 12 basis poin menjadi 4,90 persen. Menurut Erwin, memburuknya sentimen risk-off memperkuat dolar AS dan memicu aliran modal keluar dari portofolio negara berkembang, terutama saat imbal hasil obligasi meningkat.
Erwin menilai pergerakan rupiah sejalan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan. Data BI mencatat rupiah terdepresiasi 0,17 persen secara kuartalan (quarter-to-date) pada kuartal IV 2026. Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 masih berada di level US$146,3 miliar.
BI menegaskan komitmennya untuk tetap hadir di pasar, menjaga mekanisme pasar berjalan baik, dan mengawal stabilitas moneter. Intervensi dilakukan lewat transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta DNDF dan operasi pasar spot di dalam negeri.
Selain itu, BI membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Bank sentral juga mengelola struktur suku bunga dengan menjaga likuiditas yang memadai di pasar uang.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP