30/10/2026 11

Fenomena Squishy dan Tantangan Pendidikan Nasional

author photo
By Farid Setiawan

Direktur Pegiat Pendidikan Indonesia. Anggota Dewan Pendidikan DIY. Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan.

Di sebuah pertokoan, rak-rak dipenuhi mainan lunak yang dapat diremas (squishy) dan produk berlabel stress relief toy atau mainan pereda stres. Berbentuk roti, buah, hingga karakter lucu, mainan ini dipasarkan untuk membantu meredakan ketegangan melalui aktivitas sederhana. Banyak pelajar dan bahkan orang tua yang mengantarkan anaknya untuk membeli mainan itu. Pemandangan tersebut tentu tidak membuktikan bahwa stres murid meningkat. Namun, fenomena ini membuka pertanyaan yang lebih relevan bagi dunia pendidikan: apakah sekolah telah menyediakan lingkungan yang membantu murid menghadapi tekanan secara sehat?

Pertanyaan itu berangkat dari pemahaman bahwa stres tidak hanya berkaitan dengan tuntutan yang dihadapi, tetapi juga dengan cara seseorang menilai tuntutan tersebut dan kemampuannya untuk mengatasinya. Dalam teori stres dan koping Lazarus dan Folkman, pengalaman stres dipengaruhi oleh penilaian individu serta sumber daya yang tersedia untuk menghadapi situasi. Ujian, tugas, konflik pertemanan, dan ketakutan menghadapi kegagalan dapat menjadi sumber tekanan bagi murid. Pengaruhnya berbeda-beda, bergantung pada kondisi pribadi dan dukungan yang mereka peroleh. Karena itu, membantu murid mengelola stres perlu disertai upaya membangun lingkungan belajar yang memberi ruang untuk bertanya, melakukan kesalahan, dan memperoleh bantuan.

Protret Psikologis Murid di Indonesia

Pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis anak juga tercermin dalam data nasional. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa dari sekitar tujuh juta anak yang menjalani skrining pada periode 2025–2026, sekitar 338 ribu mengalami gejala kecemasan dan 363 ribu menunjukkan gejala depresi. Sementara itu, PISA 2022 mencatat bahwa 16 persen murid berusia 15 tahun di Indonesia merasa kesepian di sekolah. Kedua temuan ini memang tidak membuktikan bahwa sekolah menjadi penyebab masalah psikologis, tetapi menunjukkan pentingnya memperhatikan pengalaman sosial dan rasa aman murid.

Perhatian tersebut perlu diterjemahkan ke dalam bentuk dukungan yang sesuai dengan persoalan yang dihadapi murid. Mainan pereda stres mungkin memberikan kelegaan sesaat bagi sebagian orang, tetapi tidak menggantikan penanganan terhadap sumber masalah. Murid yang kesulitan memahami pelajaran membutuhkan dukungan belajar, sedangkan mereka yang mengalami perundungan memerlukan perlindungan dan tindak lanjut yang tepat. Guru perlu mendengarkan kesulitan murid dan mengenali kapan bantuan lebih lanjut diperlukan. Dengan demikian, stres tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan pribadi, tetapi juga sebagai pengalaman yang perlu dipahami dalam konteks lingkungan belajar.

Dari Regulasi ke Praktik Sekolah

Arah tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN). Kebijakan ini mencakup perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, pemenuhan kebutuhan spiritual, serta keadaban dan keamanan digital. Cakupan ini menempatkan keamanan dan kenyamanan sebagai bagian dari budaya dan tata kelola sekolah, bukan semata-mata urusan penertiban atau penanganan pelanggaran. Kebijakan tersebut patut diapresiasi karena mengakui pentingnya kondisi murid dalam penyelenggaraan pendidikan. Pekerjaan selanjutnya adalah memastikan bahwa prinsip-prinsipnya benar-benar tercermin dalam keputusan dan kebiasaan sehari-hari di sekolah.

Perubahan itu dapat dimulai dari praktik pembelajaran dan cara warga sekolah berinteraksi. Guru, misalnya, dapat menegakkan standar akademik tanpa mempermalukan murid yang melakukan kesalahan. Laporan perundungan perlu ditangani secara aman dan adil, sementara beban tugas, pola penilaian, dan komunikasi di kelas perlu dikelola secara proporsional. Tujuannya bukan menghilangkan disiplin atau menurunkan tuntutan akademik, melainkan memastikan bahwa tuntutan belajar disertai arahan dan dukungan yang memadai. Budaya sekolah yang aman dan nyaman terbentuk ketika prinsip tersebut memengaruhi tindakan nyata, bukan hanya tercantum dalam dokumen atau disampaikan melalui sosialisasi.

Guru memiliki peran penting dalam proses ini karena berinteraksi langsung dengan murid setiap hari. Kemampuan mendengarkan, berkomunikasi secara empatik, dan mengenali tanda awal kesulitan perlu menjadi bagian dari kompetensi profesional guru. Namun, guru bukan pengganti guru Bimbingan dan Konseling (BK), konselor, atau psikolog profesional. Sekolah perlu menyediakan jalur dukungan yang jelas melalui kerja sama kepala sekolah, guru, guru BK, orang tua, dan tenaga profesional sesuai kebutuhan murid. Karena itu, pelaksanaan BSAN harus ditopang oleh sistem sekolah yang memadai, bukan hanya bergantung pada kepekaan pribadi masing-masing guru.

Mengukur Keberhasilan

Sistem dukungan tersebut perlu disertai evaluasi yang memperhatikan pengalaman murid. Kelengkapan dokumen dan jumlah kegiatan sosialisasi dapat menunjukkan bahwa program telah dijalankan, tetapi belum cukup untuk membuktikan perubahan budaya sekolah. Sekolah perlu mengetahui apakah murid merasa aman, berani menyampaikan kesulitan, dan memahami ke mana harus mencari bantuan. Umpan balik dapat dihimpun melalui mekanisme yang aman dan ditindaklanjuti dengan perbaikan yang jelas. Dengan cara ini, evaluasi menjadi sarana untuk memperbaiki kehidupan belajar, bukan sekadar memenuhi kebutuhan administrasi.

Fenomena mainan pereda stres mungkin hanya mencerminkan tren konsumsi, tetapi dapat menjadi pintu masuk untuk memikirkan kembali pengalaman murid di sekolah. Pemerintah telah menyediakan landasan melalui BSAN. Kini, sekolah perlu menerjemahkannya menjadi pembelajaran yang manusiawi, hubungan yang saling menghormati, dan dukungan yang dapat diakses ketika murid menghadapi kesulitan. Keberhasilan kebijakan pada akhirnya ditentukan oleh perubahan yang benar-benar dirasakan murid di sekolah. Sebab, sekolah yang aman dan nyaman adalah institusi yang salalu hadir dan membantu murid menghadapi tantangan tanpa kehilangan rasa aman dan harga dirinya.



Prev Post

Kemendikdasmen Akui Penyaluran PIP 2026 Belum Optimal, Janjikan Perombakan Data dan Percepatan di Wi

Next Post

Pelemahan Rupiah dan Risiko dari Hilangnya Kepercayaan Investor terhadap Pasar Modal

BACK TO TOP