02/05/2025 1573

Membumikan Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara Menuju Indonesia Emas

author photo
By Hatib Rachmawan

Dewan Penasihat PUNDI. Dosen Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Bergerak di bidang perbukuan sebagai Direktur UAD Press.

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Momen ini bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk penghormatan kepada tokoh besar yang telah meletakkan dasar pendidikan nasional, yakni Ki Hajar Dewantara. Beliau adalah pelopor pendidikan yang tidak hanya memperjuangkan akses pendidikan bagi pribumi di masa kolonial, tetapi juga mewariskan filosofi mendalam yang hingga kini masih relevan: "Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani."

Filosofi ini bukan semboyan kosong. Ia adalah kristalisasi dari nilai-nilai luhur pendidikan yang menempatkan manusia sebagai subjek pembelajaran. Pendidikan dalam pandangan Ki Hajar Dewantara adalah proses memanusiakan manusia. Maka tidak heran jika hingga saat ini, semboyan tersebut tetap dijadikan pijakan dalam membangun sistem pendidikan nasional yang inklusif, demokratis, dan berkeadilan.

Menafsirkan Filosofi Ki Hajar Dewantara

Filosofi Ki Hajar Dewantara terdiri dari tiga prinsip utama yang saling melengkapi:

Pertama, Ing Ngarso Sung Tulodo yang berarti "di depan memberi teladan." Dalam konteks ini, seorang pendidik, pemimpin, atau orang tua harus bisa menjadi contoh nyata dalam sikap, perilaku, dan integritas. Keteladanan adalah fondasi pendidikan karakter. Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus menjadi figur yang mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan.

Kedua, Ing Madyo Mangun Karso berarti "di tengah membangun semangat." Seorang guru harus hadir di tengah-tengah murid, memahami kebutuhan mereka, dan menjadi penggerak semangat serta motivasi belajar. Dalam praktiknya, ini berarti menciptakan suasana kelas yang inklusif, interaktif, dan memicu kreativitas serta keberanian siswa untuk menyampaikan gagasan.

Ketiga, Tut Wuri Handayani artinya "dari belakang memberi dorongan." Ini adalah bentuk dukungan moral, psikologis, dan spiritual agar siswa merasa percaya diri dan berani melangkah secara mandiri. Guru hadir sebagai penyemangat dan pemberi kepercayaan kepada siswa, bahwa mereka mampu mengembangkan potensi terbaiknya.

Filosofi ini mencerminkan pendekatan pendidikan yang humanis dan memerdekakan. Di sini, guru bukan sekadar instruktur yang mengisi otak siswa dengan ilmu, melainkan fasilitator yang mengembangkan seluruh aspek diri peserta didik: jasmani, akal, rohani, dan sosial.

Relevansi dalam Konteks Merdeka Belajar

Sejak beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan Indonesia memasuki era baru yang dikenal dengan "Merdeka Belajar". Ini adalah konsep yang mendorong kebebasan berpikir, berkreasi, dan berekspresi dalam dunia pendidikan. Menariknya, semangat Merdeka Belajar sangat sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.

Konsep Merdeka Belajar mengajak guru untuk lebih reflektif dan adaptif dalam metode pembelajaran. Guru tidak lagi menjadi pusat segalanya, tetapi bergeser menjadi mitra belajar. Siswa diberi ruang untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya, sambil tetap dalam bimbingan yang memfasilitasi perkembangan mereka.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Iwan Syahril, pernah menyatakan bahwa Merdeka Belajar merupakan pengejawantahan dari filosofi Ki Hajar Dewantara. Ia mengatakan, "Filosofi Bapak Pendidikan kita adalah jangkar dari konsep Merdeka Belajar yang sedang kita dorong saat ini."

Dengan pendekatan ini, guru diharapkan tidak hanya mengajar berdasarkan kurikulum semata, tetapi juga mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Evaluasi belajar pun tidak lagi hanya berorientasi pada angka, tetapi pada proses, kreativitas, dan nilai-nilai yang dikembangkan siswa.

Menuju Indonesia Emas 2045

Visi besar Indonesia Emas 2045 adalah menciptakan generasi unggul yang mampu bersaing secara global, namun tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan. Di sinilah pendidikan memainkan peran krusial. Tidak cukup hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara moral, spiritual, dan sosial.

Filosofi Ki Hajar Dewantara memberikan kerangka yang sangat sesuai untuk membentuk karakter generasi ini. Keteladanan membangun integritas, kehadiran di tengah siswa menumbuhkan empati dan semangat kolaborasi, dan dorongan dari belakang menciptakan keberanian dan kemandirian.

Jika kita ingin mewujudkan Indonesia Emas, maka pendidikan harus berpihak pada siswa. Sekolah dan guru harus menjadi ruang yang aman dan suportif, bukan tempat yang menakutkan atau menekan. Dalam dunia yang terus berubah, kita tidak bisa lagi mempertahankan cara-cara lama yang mengekang potensi anak. Sudah waktunya membumikan nilai-nilai Ki Hajar Dewantara, tidak hanya dalam pidato dan spanduk, tetapi dalam aksi nyata di ruang kelas, kurikulum, dan interaksi antar pelaku pendidikan.

Pendidikan adalah Jalan Kemerdekaan

Ki Hajar Dewantara pernah berkata, "Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah." Ungkapan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya urusan institusi formal, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh bangsa. Untuk itu, membumikan filosofi beliau tidak hanya menjadi tugas guru, tetapi juga orang tua, pemimpin, dan masyarakat luas.

Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah warisan yang hidup. Ia terus relevan karena menyentuh esensi pendidikan itu sendiri: membebaskan manusia agar mampu berpikir, merasa, dan bertindak secara merdeka dalam kebajikan. Mari kita jadikan filosofi ini sebagai kompas dalam mengarungi dunia pendidikan, menuju Indonesia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berdaya saing tinggi.

Selamat Hari Pendidikan Nasional! Mari terus berinovasi dan berkolaborasi untuk mewujudkan pendidikan Indonesia yang memerdekakan dan memanusiakan.



Prev Post

Pemerintah Tegaskan Komitmen Anggaran Pendidikan 20% APBN di Tengah Tekanan Efisiensi

Next Post

Mendikdasmen Serukan Partisipasi Semesta dalam Peringatan Hardiknas 2025

BACK TO TOP