Dewan Penasihat PUNDI. Dosen Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Bergerak di bidang perbukuan sebagai Direktur UAD Press.
Setiap kali ujian tiba, sebagian besar murid Indonesia masih sibuk menghafal. Guru menjejalkan materi, siswa menyerap seperti kaset kosong, lalu mengeluarkan kembali di lembar jawaban. Pola ini bukan hal baru. Paulo Freire, pemikir pendidikan asal Brasil, menyebutnya banking education: pendidikan gaya bank di mana guru “menabungkan” pengetahuan ke dalam kepala murid yang pasif.
Di tengah kritik lama itu, muncul gagasan baru dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti: pendekatan deep learning. Ia menegaskan bahwa deep learning bukan kurikulum baru, melainkan cara belajar yang memperdalam pemahaman, melatih transfer konsep, dan menekankan penerapan pada konteks nyata. Pertanyaannya: apakah ini jalan keluar dari jerat banking education?
Kenyataannya, sekolah-sekolah kita masih sering dikuasai pola ceramah satu arah. Murid patuh, guru dominan, nilai ujian jadi tolok ukur utama. Akibatnya, lulusan kita banyak yang jago hafalan tetapi gagap menghadapi masalah nyata. Kreativitas mati, keberanian bertanya dianggap lancang, dan kesadaran kritis tidak tumbuh.
Freire mengingatkan, pendidikan seperti ini bukan hanya membosankan, tetapi juga berbahaya. Ia melanggengkan ketidakadilan sosial dengan mencetak generasi yang patuh, bukan generasi yang berani mengubah keadaan.
Di sinilah deep learning hadir. Mu’ti menggambarkannya sebagai pendekatan yang mengajak murid memahami esensi, bukan sekadar mengingat. Dalam praktiknya, siswa tidak lagi berhenti pada “rumus dan definisi,” melainkan ditantang menerapkannya pada situasi berbeda: dari proyek lingkungan di desa, simulasi data di kelas, hingga diskusi kritis tentang isu sosial.
Lebih jauh, deep learning juga memberi ruang bagi AI dan koding. Bukan sebagai mata pelajaran wajib, melainkan pilihan yang bisa melatih nalar logis dan literasi digital. AI diposisikan bukan pengganti akal budi, tetapi alat bantu untuk mengasah refleksi dan kreativitas.
Namun, gagasan bagus tidak selalu mulus di lapangan. Banyak guru masih nyaman dengan ceramah, banyak sekolah terikat budaya hierarkis, dan banyak orang tua masih menilai kesuksesan dari rapor. Di titik ini, deep learning berisiko berhenti di jargon jika tidak diiringi perubahan paradigma.
Apalagi, pola pikir “nilai adalah segalanya” sulit dipatahkan. Tanpa reformasi cara menilai, dari ujian hafalan ke penilaian autentik berbasis proyek, deep learning hanya akan menjadi istilah keren tanpa substansi.
Sebenarnya, arah ini sejalan dengan semangat Merdeka Belajar: menekankan kebebasan guru, proyek lintas mata pelajaran, dan pembelajaran kontekstual. Tetapi kita tahu, perubahan sejati tidak lahir dari kebijakan semata. Ia butuh guru yang berani berdialog, siswa yang diberi ruang bersuara, dan orang tua yang mendukung anak untuk belajar kritis, bukan sekadar mengejar angka.
Apakah deep learning mampu membebaskan pendidikan Indonesia dari jebakan banking education? Jawabannya bergantung pada bagaimana kita menerapkannya. Jika hanya berhenti di brosur, ia tak lebih dari kosmetik. Tetapi jika dijalankan dengan keberanian mengubah pola pikir, deep learning bisa menjadi jembatan menuju pendidikan yang benar-benar memerdekakan: membentuk murid yang kritis, kreatif, dan berani mengubah dunia.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal seberapa banyak kita menabung pengetahuan, tetapi seberapa dalam kita memahami, mengolah, dan menggunakannya untuk hidup yang lebih adil.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP