Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta
Kathmandu, 11 September 2025 - Nepal memasuki babak krisis politik terparah dalam dua dekade terakhir setelah Perdana Menteri KP Sharma Oli dan Presiden Ram Chandra Poudel mengundurkan diri di tengah kerusuhan nasional.
Demonstrasi yang dipicu pemblokiran media sosial berubah menjadi kekacauan massal, dengan massa membakar kompleks pemerintahan Singha Durbar yang menaungi parlemen dan kementerian penting. Rumah-rumah pejabat, termasuk kediaman mantan PM Sher Bahadur Deuba, turut menjadi sasaran amuk.
Sekitar 13.500 narapidana melarikan diri dari penjara setelah massa menyerbu fasilitas tersebut, memperparah situasi keamanan. Sedikitnya 30 orang tewas dalam bentrokan dengan aparat.
Dengan kekosongan eksekutif, militer Nepal di bawah Panglima Ashok Raj Sigdel mengambil alih kendali keamanan. Sigdel menyerukan dialog damai, namun tetap memberlakukan patroli dan jam malam di Kathmandu.
Kondisi ini memunculkan tanda tanya besar: apakah militer hanya menjadi penjaga sementara, atau justru mengisi kekosongan politik lebih lama. Banyak kalangan menilai Nepal kini berada di persimpangan jalan, antara transisi sipil inklusif atau kemunduran ke arah rezim militer.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP