Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta
YOGYAKARTA – Kegiatan bersepeda malam Jogja Last Friday Ride (JLFR) ke-187 kembali menjadi sorotan masyarakat Yogyakarta. Pada Jumat malam, 28 November 2025, ribuan pesepeda memadati sejumlah ruas jalan kota, menegaskan konsistensi ajang gowes rutin setiap Jumat terakhir di akhir bulan ini.
Kegiatan ini dinilai positif oleh masyarakat karena mendorong gaya hidup sehat serta mempererat ikatan di antara komunitas pesepeda. Tidak hanya diikuti oleh orang dewasa, JLFR ke-187 juga diramaikan anak-anak yang ikut bersepeda bersama orang tua mereka, menjadikannya kegiatan keluarga yang inklusif.
Sejak selepas waktu Isya, peserta mulai berdatangan dan berkumpul di beberapa titik temu yang telah ditentukan panitia. Mengenakan helm, lampu sepeda, serta atribut komunitas masing-masing, rombongan kemudian bergerak beriringan melewati jalan-jalan utama Yogyakarta. Suasana malam berubah semarak oleh dering bel sepeda, sorak peserta, dan barisan pesepeda yang memanjang.
Bagi warga, JLFR bukan sekadar kegiatan rekreasi, tetapi juga bentuk edukasi hidup sehat dan ramah lingkungan. Kegiatan ini dinilai mampu mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pada malam itu serta mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan. “Anak-anak jadi tertarik bersepeda, bukan hanya bermain gawai. Lingkungan juga lebih bersih dari asap kendaraan,” ujar salah satu warga yang menyaksikan dari tepi jalan.
Beragam komunitas sepeda tampak hadir, mulai dari komunitas sepeda lipat, sepeda balap, sepeda gunung, hingga pesepeda santai yang datang bersama keluarga. Sebagian peserta menghias sepeda mereka dengan lampu warna-warni sehingga menambah semarak pemandangan malam. Barisan sepeda yang berkelap-kelip menjadi tontonan menarik bagi warga di sepanjang rute.
Perwakilan panitia JLFR menyampaikan bahwa konsistensi hingga gelaran ke-187 ini menjadi bukti kuat bahwa bersepeda telah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian warga Yogyakarta. “Kami ingin menunjukkan bahwa bersepeda itu menyenangkan, sehat, dan bisa dilakukan siapa saja. Dari anak-anak sampai orang tua, semua bisa ikut selama mematuhi aturan keselamatan,” ujar salah satu koordinator kegiatan.
Dari sisi sosial, JLFR juga menjadi ruang temu dan silaturahmi antarpesepeda. Banyak peserta mengaku memperoleh teman baru melalui kegiatan ini. Mereka saling bertukar informasi tentang rute favorit, agenda gowes berikutnya, hingga tips perawatan sepeda. “Awalnya saya ikut sendiri, sekarang setiap akhir bulan sudah punya rombongan tetap,” kata seorang peserta.
Meski demikian, panitia terus mengingatkan peserta untuk menjaga ketertiban dan keselamatan di jalan. Penggunaan helm, lampu penerangan, serta kepatuhan terhadap rambu lalu lintas menjadi poin utama. Panitia juga berkoordinasi dengan pihak terkait agar arus lalu lintas tetap tertib dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.
Dengan antusiasme yang terus terjaga hingga JLFR ke-187, kegiatan ini diperkirakan akan tetap menjadi agenda yang dinanti di Yogyakarta setiap akhir bulan. Selain sebagai ajang berkumpulnya komunitas pesepeda, JLFR turut mengukuhkan citra Yogyakarta sebagai kota yang ramah pesepeda dan peduli pada gaya hidup sehat.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP