25/11/2025 252

Realitas di Balik Slogan Guru Hebat

author photo
By Rahmad Boli Raya

Mahasiswa S1 Bimbingan Konseling UAD Kabid Ekowir PC IMM Djazman

Setiap 25 November, kita merayakan Hari Guru Nasional dengan penuh kemeriahan. Spanduk bertebaran, upacara digelar, dan pidato-pidato penuh apresiasi mengalun dari berbagai podium. Tahun ini, tema yang diusung adalah “Guru Hebat, Indonesia Kuat”. Sebuah slogan yang begitu megah, begitu inspiring, tapi sayongnya terasa begitu jauh dari realitas yang dihadapi para guru di lapangan.

Saya menulis ini bukan dari sinisme, melainkan dari keprihatinan mendalam. Sebagai seseorang yang menyaksikan langsung dinamika dunia pendidikan, saya melihat ada jurang yang menganga antara retorika perayaan dan substansi perubahan nyata bagi profesi guru.

Hari Guru Nasional, yang seharusnya menjadi momentum refleksi dan perbaikan konkret, malah terasa seperti ritual tahunan yang hanya memoles permukaan tanpa menyentuh akar masalah.

Manipulasi Angka dan Janji Kosong

Mari kita bicara soal “kenaikan gaji” yang ramai diperbincangkan menjelang Hari Guru Nasional tahun ini. Pemerintah dengan bangga mengumumkan kenaikan gaji hingga Rp 2 juta untuk guru non-ASN. Angka yang terdengar menggiurkan, bukan? Tapi tunggu dulu, kita perlu membaca lebih teliti. Ternyata, yang disebut kenaikan Rp 2 jutan itu sebenarnya hanya kenaikan Rp 500 ribu dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 2 juta pada tunjangan sertifikasi yang sudah ada sejak 2008. Ini bukan terobosan baru, melainkan sekadar penyesuaian program lama yang memang sudah waktunya dinaikkan setelah 16 tahun stagnan.

Lebih ironis lagi, dari sekitar 3 juta guru di Indonesia, hanya 600 ribu yang akan menerima manfaat ini karena harus memenuhi syarat sertifikasi PPG. Jadi, 2,4 juta guru lainnya? Mereka tetap berjuang dengan gaji yang pas-pasan, bahkan ada yang masih di bawah UMR. Data menunjukkan Indonesia masuk 10 besar negara dengan gaji guru paling rendah di dunia, dengan rata-rata tahunan hanya USD 14.408. Bandingkan dengan Jerman yang mencapai USD 77.000 atau Singapura USD 58.000. Kita bahkan kalah jauh dari Vietnam.

Ini bukan soal membandingkan diri dengan negara maju. Ini soal menghargai profesi yang kita klaim sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Bagaimana kita bisa berharap guru fokus mendidik generasi penerus bangsa kalau mereka harus pusing memikirkan bagaimana membayar cicilan motor, biaya sekolah anak, atau sekadar makan layak sebulan penuh?

Ancaman dari Berbagai Arah

Kalau soal kesejahteraan masih bisa kita perdebatkan dengan angka-angka, maka soal keamanan dan kenyamanan guru ini sudah menyentuh wilayah yang lebih mengerikan. Data KPAI 2024 mencatat kasus kekerasan di sekolah melonjak 100% menjadi 573 kasus. Yang mengejutkan, 43,9% pelakunya adalah guru sendiri. Angka ini seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ada guru yang melakukan kekerasan terhadap murid entah itu fisik, verbal, atau psikologis. Ini tentu tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun.

Tapi di sisi lain, kita juga perlu bertanya mengapa sampai terjadi? Apakah guru-guru kita dibekali dengan metode manajemen kelas yang memadai? Apakah mereka punya akses ke pelatihan kesehatan mental? Apakah beban kerja mereka sudah proporsional?

Yang lebih memprihatinkan, 10,2% guru justru menjadi korban kekerasan. Mereka dipukul murid, dianiaya orang tua, bahkan dikriminalisasi hanya karena tindakan disipliner yang seharusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Seorang guru bisa dilaporkan ke polisi hanya karena menegur siswa atau memberi hukuman ringan. Dalam iklim seperti ini, bagaimana guru bisa merasa aman menjalankan tugasnya? Pemerintah memang mengumumkan kerja sama dengan Polri untuk perlindungan hukum guru. Tapi sekali lagi, ini hanya pengumuman.

Di lapangan, guru-guru masih berjalan di atas cangkang telur, takut salah langkah, takut dituntut, takut viral di medsos. Mereka bukan hanya butuh “perlindungan hukum” yang bersifat reaktif, tapi juga sistem yang secara proaktif menciptakan lingkungan kerja yang aman dan kondusif.

Profesionalisme Tanpa Dukungan Sistem

Tema Guru Hebat sebenarnya mengandung ekspektasi luar biasa tinggi. Kita ingin guru yang kompeten, kreatif, inovatif, berdedikasi, sabar, dan masih banyak lagi atribut positif lainnya. Tapi pertanyaannya apakah kita sudah menyediakan ekosistem yang mendukung guru untuk menjadi hebat? Guru diharapkan terus meningkatkan kompetensi, ikut berbagai pelatihan, berinovasi dalam metode pengajaran, bahkan mengintegrasikan teknologi digital dalam pembelajaran. Semua itu bagus, sangat bagus. Tapi dengan gaji yang minim, fasilitas sekolah yang terbatas, dan beban administratif yang menumpuk, dari mana energi dan sumber daya mereka untuk menjadi “hebat”?

Belum lagi soal disparitas antara guru di kota besar dan daerah terpencil. Guru di Jakarta mungkin masih bisa akses internet untuk mencari materi pembelajaran terkini, tapi bagaimana dengan guru di pelosok Papua atau Lembata sana yang bahkan listrik masih sering mati? Kita bicara tentang standar nasional, tapi kita lupa bahwa kondisi guru kita sangat beragam dan tidak bisa dipukul rata.

Hari Guru Ritual atau Momentum Perubahan?

Saya tidak mengatakan bahwa Hari Guru Nasional tidak penting. Apresiasi itu perlu, pengakuan itu penting. Tapi apresiasi tanpa aksi konkret hanya akan menjadi basa-basi yang menyakitkan. Guru tidak butuh pujian di atas panggung, mereka butuh kebijakan yang nyata memperbaiki nasib mereka. Yang kita butuhkan bukan slogan-slogan megah atau tema-tema inspiratif.

Pertama, kita butuhkan adalah kenaikan gaji yang signifikan dan merata untuk semua guru, bukan hanya yang bersertifikat. Kesejahteraan guru harus menjadi prioritas anggaran, bukan sekadar pos pelengkap. Kalau kita jujur mengakui bahwa guru adalah pilar bangsa, seharusnya komitmen itu tercermin dalam angka-angka anggaran yang nyata, bukan hanya dalam retorika indah saat upacara.

Kedua, kita butuh sistem perlindungan hukum yang jelas dan tegas, bukan hanya sekadar kerja sama dengan Polri yang sifatnya reaktif. Guru harus tahu persis batasan wewenangnya, apa saja hak-haknya, dan bagaimana mekanisme perlindungan ketika berhadapan dengan masalah hukum. Jangan sampai guru takut mendisiplinkan siswa karena khawatir dilaporkan. Lingkungan kerja yang terus-menerus dalam ketakutan tidak akan menghasilkan pengajaran yang berkualitas. Ketiga, pelatihan berkelanjutan yang komprehensif. Bukan hanya soal metode pengajaran atau integrasi teknologi, tapi juga manajemen kelas, kesehatan mental, dan resolusi konflik. Guru yang sehat mental dan terlatih dengan baik akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang positif, dan ini akan mengurangi kasus-kasus kekerasan yang ironisnya justru banyak dilakukan oleh guru sendiri. Masalahnya bukan semata-mata pada karakter guru, tapi pada sistem yang tidak membekali mereka dengan skill yang memadai.

Keempat, pengurangan beban administratif yang tidak perlu. Guru-guru kita terlalu banyak mengurus dokumen, laporan, dan administrasi yang sebenarnya bisa disederhanakan atau bahkan dihapus. Biarkan guru fokus pada apa yang seharusnya mereka lakukan: mendidik, menginspirasi, dan membimbing anak-anak. Administrasi memang penting, tapi tidak seharusnya menjadi beban yang menggerogoti waktu dan energi guru untuk tugas utamanya. Kelima, perbaikan infrastruktur sekolah secara merata, terutama di daerah terpencil. Bagaimana guru bisa mengajar dengan baik kalau gedung sekolah bocor, tidak ada toilet yang layak, atau bahkan tidak ada buku yang cukup?

Kita bicara tentang standar nasional, tapi kenyataannya masih banyak sekolah di pelosok yang bahkan tidak punya listrik stabil. Disparitas ini harus menjadi prioritas, kalau kita serius ingin meratakan kualitas pendidikan.

Jangan Biarkan Guru Berjuang Sendirian

Setiap kali kita menyebut guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”, sebenarnya kita sedang mengakui bahwa kita tidak memberikan penghargaan yang layak untuk mereka (Guru). Kita meromantisasi perjuangan mereka tanpa berusaha meringankan beban yang mereka pikul. Indonesia kuat bukan karena guru hebat. Indonesia kuat karena kita sebagai bangsa mampu menciptakan sistem yang membuat guru bisa menjadi hebat. Sistem yang menghargai mereka bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan kebijakan konkret yang menyentuh realitas kehidupan mereka sehari-hari.

Hari Guru Nasional seharusnya menjadi cermin untuk melihat seberapa jauh kita sudah berubah, bukan sekadar panggung untuk melontarkan janji-janji manis. Kalau tahun depan kita masih merayakan dengan slogan megah tapi tanpa perubahan substansial, maka kita hanya melanggengkan kepura-puraan yang menyakitkan. Guru-guru kita tidak butuh pujian kosong. Mereka butuh para pembuat kebijakan turun ke lapangan, melihat realitas mereka, mendengar keluh kesah mereka, dan yang paling penting mengubah kebijakan yang selama ini hanya menguntungkan narasi, bukan menyelesaikan masalah.

Jadi, selamat Hari Guru Nasional.  Terimakasih Para Guru HEBAT. Semoga tahun depan, kita punya lebih banyak aksi daripada slogan.



Prev Post

Kuliah Umum Prodi Bimbingan dan Konseling UNESA Kampus 5 Magetan: “Komunikasi Terapeutik untuk Gener

Next Post

Ribuan Pesepeda Padati Jalanan, JLFR ke-187 Semarakkan Malam Yogyakarta

BACK TO TOP