11/02/2026 5

Sambut Ramadan, Wamen Fajar Gencarkan Pendidikan Karakter Lewat Gerakan Indonesia ASRI

author photo
By Redaksi PUNDI

Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta

Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menjadikan momentum Ramadan sebagai sarana penguatan pendidikan karakter sekaligus pengarusutamaan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) di lingkungan pendidikan dan masyarakat. Ramadan, menurutnya, bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan “sekolah kehidupan” yang melatih disiplin, empati, kejujuran, serta tanggung jawab sosial dan ekologis.

Dalam sejumlah kesempatan menyambut Ramadan, Fajar menegaskan bahwa nilai-nilai keagamaan harus diterjemahkan ke dalam praktik nyata yang membentuk karakter peserta didik. Ia menilai pendidikan karakter tidak cukup berhenti pada pengajaran normatif, tetapi harus hadir dalam kebiasaan sehari-hari yang dirasakan langsung oleh siswa.

Ramadan adalah ruang pendidikan paling konkret. Di situ ada latihan disiplin waktu, pengendalian diri, kepekaan sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan. Jika dijalani dengan kesadaran, umat bisa naik kelas-bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam akhlak dan tanggung jawab kebangsaan,” ujar Fajar.

Dalam konteks itulah, Gerakan Indonesia ASRI dikaitkan secara erat dengan nilai keimanan. Fajar mengingatkan bahwa kebersihan, kesehatan, dan keindahan lingkungan bukan isu teknis semata, melainkan bagian dari pengamalan iman. Prinsip kebersihan sebagian dari iman menjadi fondasi moral untuk membangun budaya hidup bersih dan tertib di sekolah, masjid, dan ruang publik.

Ia juga menyinggung kondisi darurat sampah nasional yang hingga kini belum tertangani secara optimal. Menurutnya, Ramadan justru menyediakan momentum strategis untuk mengoreksi perilaku kolektif, mulai dari kebiasaan konsumsi berlebihan hingga pengelolaan sampah yang tidak bertanggung jawab. Praktik-praktik baik selama Ramadan, seperti mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, dan menjaga kebersihan lingkungan, didorong agar menjadi kebiasaan berkelanjutan, bukan sekadar rutinitas musiman.

Gerakan Indonesia ASRI sendiri merupakan gagasan nasional yang dicanangkan Presiden sebagai gerakan lintas sektor untuk membangun budaya hidup bersih, tertib, dan berkelanjutan. ASRI merupakan akronim dari Aman, Sehat, Resik, dan Indah, yang mencerminkan cita-cita lingkungan hidup yang nyaman, sehat, bersih, dan tertata. Fokus gerakan ini mencakup penanganan sampah, penataan ruang publik, serta perbaikan kualitas permukiman.

Fajar menekankan bahwa Gerakan Indonesia ASRI tidak boleh dipahami sebagai program administratif atau seremonial belaka. Di sektor pendidikan, gerakan ini harus diterjemahkan menjadi kesadaran kolektif dan praktik keseharian yang hidup di satuan pendidikan. Sekolah, menurutnya, adalah ruang strategis untuk menanamkan etika publik sejak dini.

Implikasinya, satuan pendidikan didorong mengintegrasikan nilai-nilai Ramadan dengan kegiatan konkret, seperti kerja bakti rutin, pembiasaan membuang dan memilah sampah, pengurangan penggunaan plastik saat kegiatan buka puasa bersama, serta penguatan literasi lingkungan dalam kegiatan keagamaan. Program Ramadan seperti pesantren kilat, kajian keislaman, dan bakti sosial diposisikan sebagai wahana pembelajaran karakter ekologis yang utuh.

Kesalehan tidak cukup tampak dalam ritual, tetapi harus hadir dalam ketaatan pada aturan, etika publik, dan kepedulian terhadap lingkungan. Di situlah pendidikan karakter menemukan maknanya yang paling nyata,” tegas Fajar.

Melalui pendekatan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berharap Ramadan menjadi momentum transformasi budaya di sekolah-dari sekadar kegiatan keagamaan rutin menjadi proses pendidikan karakter yang berdampak jangka panjang bagi peserta didik dan masyarakat luas.



Prev Post

Kemendikdasmen Masifkan Program PKK dan PKW 2026, Sasar Lebih dari 21 Ribu Anak Putus Sekolah dan Pe

BACK TO TOP