Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta
Hari Populasi Sedunia diperingati sejak 1989 setelah dunia mencapai lima miliar penduduk pada 11 Juli 1987. Sejak saat itu, peringatan ini menjadi ruang refleksi internasional mengenai dampak perubahan demografi terhadap pembangunan, layanan publik, dan kesejahteraan masyarakat.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menekankan bahwa masa depan dunia bergantung pada keberanian negara untuk berinvestasi pada pendidikan, kesehatan reproduksi, pekerjaan yang layak, serta pelibatan generasi muda dalam pengambilan keputusan. Menurutnya, pertumbuhan penduduk harus diimbangi dengan peningkatan kualitas manusia agar mampu menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.
Pendidikan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak oleh perubahan demografi. Pertumbuhan jumlah anak usia sekolah yang tidak diiringi dengan penyediaan ruang kelas, tenaga pendidik, dan anggaran pendidikan berpotensi meningkatkan ketimpangan akses belajar serta menurunkan kualitas pembelajaran.
UNICEF juga menyoroti bahwa masih banyak anak dari kelompok rentan yang menghadapi hambatan memperoleh pendidikan yang layak akibat ketimpangan pendanaan dan layanan pendidikan di berbagai negara.
Sementara itu, UNFPA menilai bahwa pembangunan manusia harus berjalan beriringan dengan pemenuhan hak reproduksi, terutama bagi perempuan dan anak perempuan. Perwakilan UNFPA Indonesia, Anjali Sen, menyatakan bahwa setiap individu berhak menentukan masa depan, termasuk memperoleh akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan yang memadai.
Melalui Hari Populasi Sedunia, PBB mengajak seluruh negara menjadikan pendidikan sebagai bagian utama dari strategi kependudukan sehingga pertumbuhan populasi dapat menjadi kekuatan pembangunan, bukan beban sosial di masa mendatang.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP