Mahasiswa Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan. Anggota Riset Pengembangan dan Keilmuan PC IMM Djazman Al-Kindi
Ada satu hal yang cukup mengganggu pikiran saya setelah mengikuti sejumlah diskusi tentang pendidikan dan ekonomi: jangan-jangan persoalan terbesar generasi muda hari ini bukan karena kekurangan informasi, melainkan karena kita terlalu banyak menerima informasi tanpa benar-benar memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita sekolah, kuliah, berorganisasi, membaca berita, dan aktif berbicara tentang perubahan sosial. Namun, ketika ditanya mengapa harga kebutuhan pokok naik, mengapa nilai rupiah berubah, bagaimana kebijakan pemerintah memengaruhi kehidupan masyarakat, atau mengapa pendidikan cenderung menghasilkan pola berpikir yang seragam, kita belum tentu mampu menjelaskannya.
Kita mengetahui banyak hal, tetapi belum tentu memahami hubungan di antara berbagai hal tersebut. Di sinilah persoalannya. Generasi muda hari ini tidak cukup hanya memiliki informasi. Kita membutuhkan kemampuan untuk membaca struktur. Bagi kader muda Muhammadiyah, kemampuan tersebut semestinya menjadi bagian penting dari perkaderan. Kader tidak cukup hanya mengetahui apa yang terjadi, tetapi perlu memahami mengapa sesuatu terjadi, siapa yang terdampak, kepentingan apa yang bekerja di baliknya, dan bagaimana perubahan dapat dilakukan. Salah satu pintu masuk untuk belajar membaca struktur tersebut adalah ekonomi.
Ekonomi sering dipahami secara sederhana sebagai persoalan uang: mendapatkan pekerjaan, memperoleh penghasilan, menabung, berinvestasi, atau menjadi kaya. Padahal, ekonomi jauh lebih luas. Ia berbicara tentang bagaimana sumber daya diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi; siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya tersebut; serta bagaimana keputusan ekonomi memengaruhi kehidupan sosial dan politik.
Uang sendiri menunjukkan bahwa sesuatu yang tampak sederhana di permukaan sesungguhnya memiliki sistem yang kompleks di belakangnya. Dalam sistem moneter modern, nilai uang tidak semata-mata ditentukan oleh bahan pembuatnya, tetapi juga oleh kepercayaan terhadap negara, institusi, kebijakan, serta sistem ekonomi yang menopangnya.
Karena itu, kenaikan harga, perubahan nilai tukar, pajak, utang negara, pengangguran, kemiskinan, hingga ketimpangan tidak cukup dibaca melalui potongan informasi di media sosial. Kita perlu memahami mekanisme yang bekerja di belakangnya.
Di sinilah literasi ekonomi menjadi penting. Literasi ekonomi bukan sekadar kemampuan mengatur keuangan pribadi. Ia juga merupakan kemampuan memahami bagaimana keputusan ekonomi membentuk kehidupan masyarakat. Ketika pemerintah mengubah kebijakan subsidi, misalnya, dampaknya tidak berhenti pada angka dalam APBN. Ia dapat memengaruhi harga, daya beli, biaya produksi, lapangan pekerjaan, bahkan kualitas hidup masyarakat.
Tanpa kemampuan membaca hubungan semacam itu, kritik sosial mudah berhenti pada kemarahan. Kita mungkin mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah, tetapi tidak memahami mengapa kesalahan itu terjadi dan bagaimana memperbaikinya.
Ekonomi penting bukan karena kader Muhammadiyah harus menjadi ekonom. Ekonomi penting karena ia mengajarkan cara melihat apa yang berada di balik sesuatu yang tampak sederhana. Cara berpikir tersebut semestinya juga digunakan ketika kita melihat pendidikan.
Pendidikan seharusnya menjadi ruang bagi manusia untuk memahami dunia. Namun, pendidikan sering kali lebih sibuk mengajarkan bagaimana mendapatkan jawaban yang benar daripada bagaimana menemukan pertanyaan yang tepat.
Sejak sekolah, kita terbiasa dengan ujian, nilai, peringkat, dan berbagai standar keberhasilan. Di perguruan tinggi, kita berhadapan dengan indeks prestasi, ijazah, sertifikat, serta berbagai indikator akademik lainnya. Setelah lulus, pendidikan kemudian semakin erat dihubungkan dengan pekerjaan.
Semua itu tentu memiliki fungsi dan tidak sepenuhnya keliru. Persoalannya muncul ketika ukuran-ukuran tersebut menjadi hampir satu-satunya cara untuk memahami keberhasilan pendidikan. Anak belajar untuk menjawab soal. Mahasiswa belajar untuk mendapatkan nilai. Lulusan belajar untuk mendapatkan pekerjaan. Lalu kita lupa bertanya: manusia seperti apa yang sebenarnya sedang kita bentuk?
Di sinilah pendidikan perlu digugat. Menggugat pendidikan bukan berarti menolak sekolah, guru, universitas, ijazah, atau dunia kerja. Menggugat pendidikan berarti mempertanyakan model pendidikan yang hanya mempersiapkan manusia untuk menyesuaikan diri dengan sistem, tetapi tidak cukup membekali mereka untuk memahami, mengkritik, dan memperbaiki sistem tersebut.
Jika pendidikan hanya dipandang sebagai jalan menuju pasar kerja, sekolah berisiko direduksi menjadi tempat produksi tenaga kerja. Kita mengajarkan bagaimana memperoleh pekerjaan, tetapi kurang mengajarkan bagaimana memahami persoalan sosial di balik dunia kerja.
Kita mengajarkan bagaimana menjadi pekerja yang produktif, tetapi belum tentu mengajarkan bagaimana menjadi warga negara yang kritis. Padahal, pendidikan semestinya tidak hanya menghasilkan manusia yang mampu menjawab pertanyaan. Pendidikan juga harus melahirkan manusia yang berani mempertanyakan keadaan.
Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan manusia yang pintar. Kita membutuhkan manusia yang mampu menciptakan nilai, menyelesaikan persoalan, bekerja sama, mengambil tanggung jawab, dan memberikan dampak bagi lingkungan sosialnya.
Di titik inilah ekonomi dan pendidikan bertemu. Keduanya pada akhirnya berbicara tentang manusia: bagaimana manusia menciptakan nilai dan bagaimana manusia dibentuk agar mampu menciptakan nilai tersebut.
Ekonomi menentukan banyak hal yang membentuk kehidupan pendidikan. Kualitas sekolah, kesejahteraan guru, akses terhadap teknologi, kesempatan belajar, hingga keberlanjutan pendidikan tidak pernah sepenuhnya terlepas dari kondisi ekonomi.
Sebaliknya, pendidikan juga menentukan kualitas manusia yang kemudian menggerakkan ekonomi. Pendidikan yang baik dapat melahirkan manusia yang mampu berpikir kritis, menciptakan inovasi, mengembangkan teknologi, membangun usaha, serta menyelesaikan berbagai persoalan sosial.
Karena itu, membicarakan pendidikan tanpa memahami ekonomi adalah sebuah keterbatasan. Begitu pula membicarakan ekonomi tanpa memahami pendidikan. Keduanya merupakan bagian dari satu ekosistem pembangunan manusia.
Di sinilah tantangan kader muda Muhammadiyah menjadi semakin besar. Kader tidak cukup hanya memahami persoalan keagamaan dan politik. Kader juga perlu memahami ekonomi, pendidikan, teknologi, kebudayaan, serta perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat.
Muhammadiyah sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk menghadapi tantangan tersebut: tradisi ilmu, tradisi amal, dan semangat tajdid. Namun, modal tersebut tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan sejarah.
Apa artinya tradisi ilmu jika kader tidak mampu membaca perubahan ekonomi? Apa artinya tradisi amal jika kader tidak memahami struktur sosial yang menyebabkan kemiskinan? Dan apa artinya tajdid jika kita tidak berani memperbarui cara memahami pendidikan, teknologi, ekonomi, dan perubahan sosial?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena kaderisasi tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang pandai mengulang gagasan lama. Kaderisasi harus mampu melahirkan manusia yang sanggup membawa nilai-nilai lama ke dalam persoalan baru.
Tajdid bukan sekadar memperbarui apa yang kita katakan, tetapi juga memperbarui cara kita membaca realitas. Karena itu, kader muda Muhammadiyah perlu keluar dari ruang diskusi yang hanya berbicara tentang organisasi dan masuk lebih jauh ke dalam persoalan masyarakat.
Belajar bagaimana APBN bekerja. Memahami kebijakan moneter. Membaca ketimpangan ekonomi. Memahami transformasi dunia kerja. Mengkaji perubahan teknologi. Membaca kebijakan pendidikan. Mengerti bagaimana industri memengaruhi kehidupan masyarakat. Semua itu bukan urusan orang lain. Semua itu bagian dari medan perjuangan kader.
Cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak cukup dipahami sebagai target pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau peningkatan pendapatan nasional. Indonesia Emas semestinya juga menjadi proyek pembentukan manusia. Manusia yang mampu berpikir. Manusia yang mampu menciptakan nilai. Manusia yang mampu bekerja sama. Manusia yang memiliki integritas. Dan yang tidak kalah penting, manusia yang mampu mengambil tanggung jawab sosial.
Sebab pertumbuhan ekonomi tanpa manusia yang berkualitas dapat melahirkan ketimpangan baru. Kemajuan teknologi tanpa pendidikan yang kritis dapat menciptakan masyarakat yang semakin mudah dikendalikan oleh informasi. Pendidikan tanpa kesadaran sosial dapat menghasilkan manusia berijazah tetapi tidak memiliki keberpihakan terhadap persoalan masyarakat. Karena itu, tugas kader muda Muhammadiyah bukan sekadar menjadi penonton perubahan.
Kita perlu memahami ekonomi, menggugat pendidikan, menguasai teknologi, dan terus mempertanyakan ke mana semua itu membawa manusia. Pada akhirnya, perubahan sosial tidak dimulai dari seberapa keras kita berbicara tentang perubahan. Ia dimulai dari seberapa dalam kita memahami persoalan yang ingin kita ubah.
Maka, kaderisasi Muhammadiyah hari ini perlu melahirkan kader yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga cerdas membaca struktur, kritis terhadap kebijakan, produktif menciptakan nilai, dan berani mengambil tanggung jawab sosial. Kita tidak sedang menyiapkan kader hanya untuk mengisi struktur organisasi. Kita sedang menyiapkan manusia untuk membaca zaman dan ikut menentukan arah peradaban.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP