16/08/2026 120

Merdeka Mengajar, Merdeka Belajar! Catatan Seorang Guru Menghadapi Generasi Z

author photo
By Fajar Nurisa Khoirini

Seorang Guru Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki ketertarikan di bidang psikologi dan pendidikan.

Saat ini dunia pendidikan semakin terasa kompleks dengan berbagai macam perkembangan. Berbicara tentang dunia pendidikan, tentu tidak jauh dari seorang pendidik dan anak didik. Mendidik anak-anak pada zaman sekarang memiliki tantangan yang jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Generasi Z merupakan dominasi peserta didik di masa sekarang yang tumbuh bersama internet, gawai, media sosial, dan perkembangan teknologi yang sangat cepat (Zis, S. F dkk 2021). Cara mendidik Gen Z tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan cara mendidik generasi sebelumnya.

Gen Z bukanlah generasi dengan label generasi yang malas, kurang disiplin, atau terlalu bergantung pada teknologi. Mereka memiliki potensi yang luar biasa, cepat beradaptasi dengan teknologi, berani menyampaikan pendapat, kreatif dalam menghasilkan sesuatu, serta memiliki akses pengetahuan yang luas (Pujiono, A. 2021). Namun, potensi tersebut datang bersama tantangan. Sebagai guru, saya melihat bahwa anak-anak hari ini membutuhkan pendampingan agar teknologi yang mereka gunakan tidak justru mengendalikan cara mereka berpikir dan menjalani kehidupan.

Salah satu tantangan yang paling terasa adalah perubahan pola belajar. Peserta didik terbiasa mendapatkan informasi dengan cepat, mencari jawaban melalui internet hanya dalam hitungan detik. Hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memudahkan memperoleh berbagai informasi dan jawaban. Kondisi ini tentu memberi manfaat besar dalam pembelajaran. Namun, saya melihat ada risiko ketika kemudahan tersebut justru membuat siswa lebih tertarik mendapatkan jawaban daripada memahami proses untuk menemukan jawaban.

Guru tidak lagi cukup hanya menjadi penyampai materi karena informasi sudah tersedia di mana-mana. Guru harus menjadi pendamping yang membantu peserta didik memahami, menyaring, dan menggunakan informasi dengan benar. Siswa perlu diajarkan bukan hanya bagaimana mencari jawaban, tetapi bagaimana bertanya, berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, dan mempertanggungjawabkan apa yang mereka sampaikan.

 Tantangan selanjutnya adalah media sosial. Bagi Gen Z, media sosial bukan sekadar tempat hiburan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mereka berkomunikasi, mencari informasi, membangun pertemanan, menunjukkan kreativitas, bahkan membentuk gambaran tentang dirinya melalui media sosial. Namun, di balik manfaat kemudahan sosial media tersebut terdapat persoalan yang perlu menjadi perhatian dunia pendidikan, seperti perundungan digital, penyebaran informasi palsu, kecanduan gawai, budaya membandingkan diri, hingga tekanan untuk mengikuti tren.

Sebagai guru, saya tidak ingin mengatakan kepada siswa bahwa media sosial itu buruk atau melarang mereka menggunakannya, namun saya ingin menegaskan kepada mereka bagaimana menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab. Mereka perlu memahami bahwa tidak semua informasi harus dipercaya, tidak semua komentar harus dibalas, dan tidak semua tren harus diikuti. Kemampuan untuk berhenti sejenak, berpikir, kemudian menentukan pilihan merupakan bentuk kemerdekaan yang sangat penting.

Dalam konteks inilah saya memahami kembali makna kemerdekaan dalam pendidikan. Merdeka bukan berarti peserta didik bebas melakukan apa saja tanpa batas. Merdeka berarti mereka diberikan ruang untuk berpikir, bertanya, berpendapat, mencoba, dan berkembang sesuai dengan potensinya, sekaligus memahami konsekuensi dari setiap pilihan yang dibuat.

Sebagai tenaga pendidik, saya percaya bahwa setiap anak memiliki keunikan. Ada siswa yang unggul dalam akademik, tetapi ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa dalam seni, olahraga, organisasi, teknologi, komunikasi, atau bidang lainnya. Pendidikan seharusnya tidak memaksa semua anak menjadi sama. Justru pendidikan harus membantu setiap anak menemukan kekuatan dirinya. Sayangnya, kita masih sering melihat keberhasilan siswa hanya melalui angka. Nilai ujian, peringkat kelas, dan prestasi akademik masih menjadi ukuran yang sangat dominan. Padahal, kehidupan tidak hanya membutuhkan kemampuan mengerjakan soal. Anak juga membutuhkan karakter, kejujuran, empati, keberanian, kemampuan bekerja sama, kreativitas, dan ketahanan menghadapi kegagalan.

Sebagai guru, saya merasa bahwa salah satu tugas terbesar dalam pendidikan bukan sekadar membuat siswa pintar, tetapi membuat mereka memiliki kemauan untuk terus belajar. Saya ingin siswa memahami bahwa kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Kesalahan bukan akhir dari perjalanan. Justru dari kesalahan seseorang dapat belajar dan berkembang. Ruang kelas seharusnya menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk bertanya, mencoba, dan memperbaiki diri, inilah hakikat pendidikan yang merdeka.

Guru juga harus merdeka dalam mengajar, bukan dalam arti bebas tanpa tanggung jawab, tetapi memiliki ruang untuk berinovasi sesuai kebutuhan peserta didik. Guru perlu belajar, mengikuti perkembangan zaman, memahami karakter generasi baru, serta menggunakan teknologi secara bijaksana. Tidak mungkin kita meminta siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat jika gurunya sendiri berhenti belajar. Kemerdekaan membutuhkan tanggung jawab. Peserta didik harus memahami bahwa memiliki kebebasan berpendapat bukan berarti bebas menghina. Kebebasan menggunakan media sosial bukan berarti bebas menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya. Kebebasan menggunakan teknologi bukan berarti bebas mengambil jalan pintas dalam setiap tugas. Pendidikan harus membantu mereka memahami batas antara hak dan tanggung jawab.

Pada akhirnya, saya melihat Gen Z bukan sebagai  generasi yang bermasalah yang harus dihadapi, tetapi sebagai generasi yang harus dipahami. Mereka lahir di zaman yang berbeda dan memiliki cara berinteraksi dengan dunia yang berbeda. Tugas seorang guru bukan memaksa mereka menjadi seperti generasi sebelumnya, tetapi membimbing mereka agar mampu menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

Kemerdekaan Indonesia yang kita peringati setiap tahun seharusnya tidak berhenti pada upacara dan simbol-simbol kebangsaan. Kemerdekaan juga harus hadir di ruang kelas. Ketika seorang siswa berani bertanya, berani berpendapat, mampu berpikir kritis, menghargai perbedaan, menggunakan teknologi secara bijak, dan bertanggung jawab atas pilihannya, sesungguhnya nilai-nilai kemerdekaan sedang tumbuh.

Sebagai seorang tenaga pendidik, saya percaya bahwa perjuangan kemerdekaan pada zaman sekarang memiliki bentuk yang berbeda. Jika dahulu para pahlawan berjuang melawan penjajahan, maka tugas kita hari ini adalah melawan kebodohan, rendahnya literasi, ketergantungan terhadap teknologi, kemalasan berpikir, serta hilangnya karakter dan adab.

Maka, merdeka mengajar dan merdeka belajar bukan sekadar slogan. Keduanya adalah tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa Gen Z tumbuh bukan hanya menjadi generasi yang cakap menggunakan teknologi, tetapi juga generasi yang mampu menggunakan kebebasannya dengan bijaksana. Sebab, pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya tentang membuat anak mengetahui banyak hal, tetapi tentang menuntun mereka menjadi manusia yang mampu berpikir, memilih, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi sesama.


Prev Post

Gempa M 7,7 Guncang Flores, Longsor Putus Jalur Trans Flores Ende-Bajawa

Next Post

Pendidikan yang Memuliakan Manusia

BACK TO TOP