16/08/2026 18

Pendidikan yang Memuliakan Manusia

author photo
By Farid Setiawan

Direktur Pegiat Pendidikan Indonesia. Anggota Dewan Pendidikan DIY. Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan.

Ada sesuatu yang perlu kita renungkan ketika berbicara tentang pendidikan. Seorang anak dapat menghafal banyak hal, memperoleh nilai tinggi, menyelesaikan berbagai tugas, dan bahkan memenangkan kompetisi di dalam dan luar negeri. Tetapi semua itu belum otomatis membuat proses belajarnya menjadi mendalam. Pendidikan dapat membuat anak mengetahui banyak jawaban, sementara ia belum cukup diberikan ruang untuk memahami mengapa dirinya belajar, untuk apa pengetahuan itu digunakan, dan bagaimana pengetahuan tersebut berhubungan dengan kehidupannya. Di sinilah pertanyaan pendidikan yang humanis menemukan relevansinya: apakah pendidikan hanya ingin membuat manusia semakin pintar, atau juga ingin membuatnya semakin manusiawi?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting ketika Indonesia mulai menempatkan Pembelajaran Mendalam (PM) sebagai salah satu arah penguatan mutu pendidikan. Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua (2025) telah menegaskan bahwa PM bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran. Ia didefinisikan sebagai pendekatan yang memuliakan, melalui pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan dengan mengintegrasikan olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik. Bahasa kebijakan ini menarik karena pendidikan tidak lagi semata-mata dipandang sebagai proses menyampaikan materi, tetapi sebagai proses yang seharusnya membuat manusia tumbuh secara utuh.

Pembelajaran Mendalam dan Gagasan Pendidikan yang Memanusiakan

Gagasan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam perjalanan pendidikan di Indonesia. Dulu, kita pernah mengenal istilah Cara Belajar Siswa Aktif, PAKEM, PAIKEM, pembelajaran kontekstual, pembelajaran berbasis pengalaman, dan pembelajaran berdiferensiasi. Naskah Akademik PM sendiri mengakui bahwa berbagai pendekatan tersebut telah berkembang, tetapi masih menghadapi persoalan dalam konsep maupun implementasinya. Karena itu, PM lebih tepat dipahami sebagai upaya memperdalam dan mengintegrasikan berbagai praktik baik yang sebelumnya berjalan secara parsial.

Di sinilah pendidikan humanis memberi sudut pandang yang penting. Pendidikan humanis memandang murid sebagai pribadi yang memiliki pengalaman, kebutuhan, potensi, emosi, dan cara berkembang yang berbeda, bukan sekadar penerima materi. Kajian Wijaya et al. (2025) terhadap 16 penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat memperkuat motivasi, keterlibatan, kemandirian, dan capaian belajar karena pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan murid. Namun, kajian yang sama juga menunjukkan persoalan berupa pemahaman guru yang belum merata, beban administrasi, keterbatasan waktu, fasilitas, dan kesenjangan digital.

Temuan itu memberi pelajaran sederhana. Memanusiakan murid bukan berarti menurunkan tuntutan belajar, melainkan memahami bahwa setiap anak datang ke ruang kelas dengan pengalaman dan kebutuhan yang tidak selalu sama. Guru tetap perlu menjaga tujuan dan standar pembelajaran, tetapi jalan untuk mencapainya dapat disesuaikan dengan karakteristik murid. Karena itu, pendidikan humanis bukan pendidikan tanpa disiplin atau tantangan; ia adalah pendidikan yang memberikan tantangan tanpa kehilangan penghormatan terhadap manusia yang sedang bertumbuh.

Pembentukan Karakter Beserta Tantangannya

Praktik di sekolah menunjukkan bahwa gagasan tersebut bukan sekadar wacana. Penelitian Wardhani et al. tentang pendidikan karakter di sekolah dasar menunjukkan pentingnya learning by doing, atau belajar melalui tindakan dan pengalaman langsung, agar nilai tidak berhenti sebagai materi yang dijelaskan guru. Sementara itu, penelitian Annur et al. (2026) di tiga madrasah di Palembang menemukan praktik presentasi, diskusi, dan pembelajaran melalui pengalaman yang memberi ruang lebih besar kepada murid untuk terlibat dalam proses belajar. Namun penelitian tersebut juga menemukan hambatan berupa jarak hierarkis antara guru dan murid, pembelajaran yang masih berpusat pada guru, tekanan target kurikulum, hafalan, dan orientasi memperoleh nilai tinggi.

Di titik inilah tiga prinsip PM menjadi penting, yakni berkesadaran, bermakna, dan juga menggembirakan. Berkesadaran berarti murid terlibat secara utuh dalam proses belajar, termasuk menyadari pikiran, perasaan, dan lingkungan di sekitarnya. Bermakna berarti pengetahuan dikaitkan murid dengan pengalaman serta kehidupan nyata, sedangkan menggembirakan berkaitan dengan rasa ingin tahu, antusiasme, motivasi, interaksi, dan tantangan yang mendorong murid untuk terus belajar. Ketiga prinsip tersebut kemudian diwujudkan melalui pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.

Di sinilah PM berpotensi membawa perubahan terhadap wajah pendidikan nasional. Perubahan pendidikan sesungguhnya tidak selalu dimulai dari perubahan besar dalam dokumen kebijakan. Ia dimulai dari sesuatu yang lebih dekat, yakni apa yang terjadi setiap hari di ruang kelas. Ketika murid tidak lagi sekadar mendengar tetapi memahami, tidak hanya menghafal tetapi mengaplikasikan, dan tidak berhenti pada jawaban tetapi mampu merefleksikan pengalaman belajarnya, maka sesungguhnya wajah pendidikan sedang berubah dari dalam. PM karena itu dapat menjadi pintu masuk bagi perubahan pendidikan nasional yang dimulai dari ruang kelas.

Perubahan itu juga terlihat dalam delapan dimensi profil lulusan PM, meliputi keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Susunan tersebut menunjukkan bahwa manusia yang hendak dibentuk pendidikan tidak direduksi menjadi manusia yang unggul secara akademik. Ada dimensi moral, intelektual, sosial, personal, fisik, dan kewargaan yang ingin dikembangkan secara bersamaan. Dengan kata lain, sekolah tidak hanya diminta menghasilkan anak yang pintar, tetapi manusia yang mampu menggunakan kepintarannya untuk menjalani kehidupan dengan baik.

Jangan Sampai Pembelajaran Mendalam Dilaksanakan Secara Dangkal

Namun, justru di sinilah kita perlu berhati-hati. PM yang dirancang untuk mengatasi pembelajaran dangkal dapat kehilangan makna apabila berubah menjadi istilah baru dalam dokumen sekolah, proyek yang dikerjakan sekadar untuk memenuhi tuntutan, atau refleksi yang hanya menjadi lembar administrasi. Pembelajaran yang menggembirakan pun dapat kehilangan kedalamannya jika hanya diterjemahkan sebagai aktivitas yang menyenangkan tanpa pemahaman dan tantangan intelektual. Kebijakan yang ingin mengatasi pembelajaran dangkal tidak boleh dilaksanakan dengan cara yang dangkal.

Karena itu, perubahan tidak dapat hanya dibebankan kepada guru. Naskah Akademik PM sendiri menempatkan pengurangan beban administrasi sebagai bagian penting agar guru memiliki waktu untuk merancang aktivitas pembelajaran yang berorientasi pada profil lulusan, sekaligus mendorong penguatan kapasitas profesional guru. Guru diharapkan menjadi aktivator dan motivator yang membantu murid mengeksplorasi, berkreasi, menghubungkan konsep, serta belajar sesuai karakteristiknya. Tidak mungkin membangun pendidikan yang memanusiakan murid melalui sistem yang tidak memberi ruang bagi guru untuk menjadi manusia yang berpikir, belajar, dan berkembang.

Hal yang sama berlaku bagi asesmen. PM mengarahkan asesmen agar tidak hanya melihat hasil, tetapi juga proses, memberikan umpan balik, dan menjadi sarana refleksi bagi murid maupun guru. Jika pembelajaran ingin mendalam tetapi ukuran keberhasilannya tetap ditentukan oleh angka, maka sekolah akan selalu memiliki alasan untuk kembali mengajar demi angka. Karena itu, perubahan pedagogi perlu berjalan bersama perubahan cara kita memahami keberhasilan belajar.

Pada akhirnya, PM layak dibaca bukan sekadar sebagai perubahan pendekatan mengajar, tetapi sebagai kesempatan untuk mengembalikan pendidikan Indonesia kepada pertanyaan yang lebih mendasar, yakni manusia seperti apa yang hendak kita bentuk melalui sekolah? Perubahan itu memang dirumuskan dalam kebijakan, tetapi wajahnya akan ditentukan oleh apa yang terjadi di ruang kelas: ketika guru dan murid bertemu, berdialog, mencoba, salah, memperbaiki, memahami, dan menemukan makna. Pendidikan yang mendalam pada akhirnya bukan hanya membuat manusia mengetahui lebih banyak hal. Tetapi pendidikan itu mampu membantu manusia memahami dirinya, menghidupkan pengetahuannya, menghargai sesamanya, dan memberi makna bagi kehidupannya. Inilah esensi dari pendidikan yang memuliakan manusia.


Prev Post

Merdeka Mengajar, Merdeka Belajar! Catatan Seorang Guru Menghadapi Generasi Z

Next Post

Orang Tua Korban MBG Minta BGN Buka Penyebab Dugaan Keracunan

BACK TO TOP