19/08/2026 6

Belajar dari Gempa Flores, Sekolah Tahan Bencana Mendesak Dibangun

author photo
By Redaksi PUNDI

Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta

FLORES – Gempa tektonik yang mengguncang daratan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menunjukkan pentingnya pembangunan fasilitas pendidikan yang mampu bertahan menghadapi bencana alam. Kerusakan sejumlah satuan pendidikan akibat gempa menjadi pengingat bahwa aspek keselamatan perlu ditempatkan sebagai bagian utama dalam pembangunan infrastruktur sekolah.

Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per 16 Agustus 2026 mencatat sebanyak 253 satuan pendidikan terdampak akibat gempa Flores. Jumlah tersebut terdiri atas 199 satuan pendidikan jenjang PAUD/TK, SD, SMP, dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang berada di bawah kewenangan kabupaten serta 54 satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SLB yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi.

Satuan pendidikan yang terdampak tersebut termasuk sejumlah ruang kelas baru hasil program Revitalisasi 2026, di antaranya SDN Wae Wulan dan SDI Lengko Randang.

Kerusakan bangunan sekolah tidak hanya menjadi persoalan infrastruktur. Kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu keberlangsungan proses pembelajaran bagi peserta didik di wilayah terdampak.

Apabila proses pemulihan berlangsung terlalu lama, peserta didik berisiko kehilangan waktu belajar dan menghadapi gangguan terhadap keberlanjutan pendidikan. Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena pemerintah masih berupaya menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS).

Di lapangan, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) dan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) terus melakukan pendataan serta penanganan terhadap satuan pendidikan yang terdampak bencana.

Dalam situasi tanggap darurat, penyelenggaraan pendidikan menjadi salah satu kebutuhan yang perlu segera dipulihkan. Pemerintah melalui Kemendikdasmen perlu memastikan peserta didik tetap memperoleh ruang belajar meskipun fasilitas sekolah mengalami kerusakan.

Sekolah darurat di sekitar lokasi pengungsian dapat menjadi salah satu solusi untuk menjaga proses pembelajaran tetap berlangsung. Ruang belajar sementara, termasuk tenda komunal, dapat digunakan sembari menunggu proses pemulihan dan pembangunan kembali fasilitas pendidikan.

Keberadaan ruang belajar sementara juga memiliki fungsi lebih dari sekadar menjaga keberlangsungan pembelajaran. Rutinitas bersekolah dapat membantu memberikan struktur aktivitas bagi anak-anak yang berada dalam situasi tidak menentu setelah bencana.

Namun, penanganan darurat tidak cukup untuk menjawab persoalan kerentanan fasilitas pendidikan di wilayah rawan bencana.

Gempa Flores menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali standar keamanan bangunan sekolah, khususnya di daerah yang memiliki tingkat risiko gempa tinggi. Desain bangunan tahan gempa, jalur evakuasi, serta simulasi kebencanaan perlu menjadi bagian integral dalam pembangunan fasilitas pendidikan.

Mitigasi bencana juga tidak seharusnya ditempatkan sebagai pelengkap dalam pembangunan sekolah. Keselamatan peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan harus menjadi pertimbangan utama sejak tahap perencanaan, pembangunan, hingga pemeliharaan bangunan.

Rekonstruksi fasilitas pendidikan di Flores nantinya dapat menjadi kesempatan untuk membangun sekolah yang tidak hanya layak digunakan sebagai ruang belajar, tetapi juga mampu memberikan perlindungan ketika bencana kembali terjadi.

Dengan demikian, pelajaran penting dari gempa Flores bukan hanya mengenai bagaimana memulihkan sekolah yang rusak, tetapi juga bagaimana memastikan sekolah tidak menjadi ruang yang membahayakan keselamatan warga pendidikan ketika bencana datang kembali.



Prev Post

Di Balik Aksi #MerebutKemerdekaan, Apa yang Sebenarnya Diperjuangkan Mahasiswa?

BACK TO TOP