18/08/2026 18

Di Balik Aksi #MerebutKemerdekaan, Apa yang Sebenarnya Diperjuangkan Mahasiswa?

author photo
By Redaksi PUNDI

Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta

Kemerdekaan Indonesia tidak selalu dimaknai sebatas terbebas dari penjajahan. Bagi sebagian mahasiswa, kemerdekaan juga berkaitan dengan sejauh mana masyarakat memperoleh akses pendidikan, pekerjaan, kesejahteraan, kebebasan berpendapat, serta kesempatan untuk menentukan masa depannya.

Gagasan tersebut menjadi latar aksi mahasiswa di Jakarta yang mengusung tema #MerebutKemerdekaan. Gerakan ini muncul sehari setelah peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan membawa sejumlah persoalan yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah dalam kehidupan masyarakat.

Aksi mahasiswa tersebut melibatkan sejumlah organisasi dan kelompok mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Dua kawasan yang menjadi pusat konsolidasi massa adalah Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.

Mengapa Mahasiswa Membawa Isu "Merebut Kemerdekaan"?

Tema #MerebutKemerdekaan digunakan mahasiswa untuk mempertanyakan makna kemerdekaan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Ketua BEM Universitas Indonesia, Yatalathof Ma'shum Imawan atau Athof, menjelaskan bahwa aksi tersebut tidak dimaksudkan sebagai kegiatan perayaan kemerdekaan. Mahasiswa justru ingin mempertanyakan kondisi masyarakat setelah Indonesia merdeka selama lebih dari delapan dekade.

Pertanyaan yang mereka ajukan berkaitan dengan persoalan yang masih dirasakan masyarakat, mulai dari keterbatasan lapangan pekerjaan, akses pendidikan dan kesehatan, hingga kebebasan dalam menyampaikan aspirasi.

Dalam pandangan mahasiswa, persoalan tersebut tidak semata-mata merupakan persoalan ekonomi. Mereka mengaitkannya dengan persoalan kedaulatan dan kemampuan masyarakat untuk menentukan kehidupan yang lebih baik.

Dengan demikian, istilah "merebut kemerdekaan" digunakan sebagai simbol perjuangan untuk memastikan bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada status Indonesia sebagai negara yang telah merdeka, tetapi juga hadir dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Delapan Tuntutan Mahasiswa

Aksi tersebut membawa sejumlah tuntutan yang mencakup persoalan pendidikan, ekonomi, kebijakan pemerintah, hingga kebebasan sipil.

Tuntutan pertama adalah pendidikan gratis hingga perguruan tinggi. Mahasiswa menilai pendidikan harus dapat diakses masyarakat tanpa terbebani persoalan biaya.

Kedua, mahasiswa meminta evaluasi terhadap sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Ketiga, mereka menyoroti harga kebutuhan pokok dan meminta pemerintah memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Keempat, mahasiswa turut membawa persoalan keterjangkauan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berkaitan dengan biaya transportasi dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Kelima, mereka menolak tindakan represif terhadap masyarakat yang menyampaikan pendapat.

Keenam, mahasiswa menyoroti peran aparat di ruang sipil serta persoalan yang mereka kaitkan dengan militerisme.

Ketujuh, mereka menuntut adanya jaminan terhadap kebebasan berpendapat dan berorganisasi.

Kedelapan, mahasiswa mendorong pemberdayaan ekonomi rakyat agar kebijakan pembangunan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Delapan tuntutan tersebut menunjukkan bahwa aksi tidak hanya berfokus pada satu kebijakan. Isu yang dibawa mencakup persoalan kesejahteraan sekaligus persoalan demokrasi dan kebebasan sipil.

Siapa yang Terlibat?

Gerakan tersebut melibatkan berbagai kelompok mahasiswa.

Di kawasan Bundaran HI, kelompok yang disebut dalam pemberitaan antara lain BEM UI, Front Mahasiswa Nasional UI, BEM Politeknik Negeri Jakarta, BEM Institut Pertanian Bogor, serta mahasiswa lintas kampus.

Sementara di kawasan Monas, aksi melibatkan Aliansi Majelis Perjuangan Rakyat yang di antaranya terdiri atas BEM Universitas Negeri Jakarta, BEM Universitas Trilogi, BEM Institut STIAMI, BEM Universitas Paramadina, serta Koalisi Aktivis Banten Bangkit.

Keberagaman kelompok tersebut menunjukkan bahwa isu yang dibawa tidak hanya berasal dari satu organisasi mahasiswa.

Suara Mahasiswa: Kemerdekaan Harus Dirasakan

Athof sebagai Ketua BEM UI menjadi salah satu suara mahasiswa yang memberikan penjelasan mengenai latar belakang gerakan.

Ia mempertanyakan makna kemerdekaan apabila masyarakat masih menghadapi persoalan lapangan pekerjaan, akses pendidikan dan kesehatan, serta keterbatasan ruang untuk menyampaikan pendapat.

Pernyataan tersebut memperlihatkan cara mahasiswa melihat kemerdekaan dari perspektif yang lebih luas. Kemerdekaan tidak hanya dipahami sebagai sejarah perjuangan melawan kolonialisme, tetapi juga sebagai kondisi ketika masyarakat mempunyai kesempatan untuk hidup layak dan menyampaikan aspirasi tanpa rasa takut.

Perspektif tersebut kemudian menjadi dasar kritik mahasiswa terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

Respons Pemerintah: Menjaga Jakarta Tetap Kondusif

Di sisi lain, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga keamanan dan kondusivitas Jakarta.

Pramono memandang kemerdekaan pada masa kini tidak lagi diwujudkan melalui perjuangan bersenjata. Menurutnya, kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kemampuan masyarakat untuk saling mendengar, mengurangi ego, dan bekerja bersama.

Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, salah satu bentuk mengisi kemerdekaan adalah memberikan pelayanan publik yang baik sehingga masyarakat dapat merasa aman, terlindungi, dan nyaman.

Pandangan tersebut memberikan perspektif yang berbeda dengan tuntutan mahasiswa. Jika mahasiswa menggunakan momentum kemerdekaan untuk mengkritisi berbagai persoalan yang dianggap belum selesai, pemerintah daerah menekankan pentingnya menjaga ruang publik tetap aman dan kondusif.

Polisi Siapkan Pengamanan

Dari sisi keamanan, kepolisian menyiapkan ribuan personel untuk mengantisipasi aksi massa di Jakarta.

Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat Iptu Erlyn Sumantri menyebut 8.242 personel gabungan disiapkan untuk pengamanan. Personel berasal dari unsur Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Pusat, serta jajaran kepolisian lainnya.

Pengamanan dilakukan untuk menjaga kegiatan penyampaian pendapat tetap berlangsung tertib sekaligus memastikan aktivitas masyarakat di sekitar lokasi demonstrasi dapat berjalan.

Keterangan kepolisian tersebut memperlihatkan bahwa aksi mahasiswa dipandang sebagai kegiatan yang membutuhkan pengamanan dalam skala besar, terutama karena berlangsung di sejumlah kawasan strategis Jakarta.

Demonstrasi sebagai Ruang Kritik Publik

Aksi mahasiswa pada dasarnya merupakan salah satu bentuk penyampaian pendapat di ruang publik. Dalam sejarah Indonesia, mahasiswa juga beberapa kali menjadi kelompok yang menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah dan kondisi sosial-politik.

Karena itu, isu yang dibawa dalam aksi #MerebutKemerdekaan dapat dilihat sebagai bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai makna kemerdekaan setelah 81 tahun Indonesia berdiri.

Pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah Indonesia telah merdeka, melainkan bagaimana kemerdekaan tersebut diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah masyarakat telah memperoleh pendidikan yang mudah diakses? Apakah kebutuhan dasar dapat dijangkau? Apakah masyarakat memiliki kesempatan ekonomi yang cukup? Dan apakah kebebasan berpendapat benar-benar dapat dijamin?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena kemerdekaan tidak hanya berkaitan dengan sejarah, tetapi juga dengan kondisi masyarakat pada masa kini.

Kemerdekaan sebagai Perjuangan yang Berkelanjutan

Perdebatan antara mahasiswa, pemerintah, dan aparat mengenai aksi tersebut pada akhirnya menunjukkan bahwa makna kemerdekaan dapat dilihat dari berbagai perspektif.

Bagi mahasiswa, kemerdekaan perlu terus diperjuangkan melalui pemenuhan hak masyarakat, kesejahteraan, kebebasan sipil, serta kebijakan yang dianggap berpihak kepada rakyat.

Bagi pemerintah, kemerdekaan juga berarti menjaga stabilitas, memberikan pelayanan publik, serta menciptakan ruang yang aman bagi masyarakat.

Sementara bagi aparat keamanan, tantangannya adalah memastikan penyampaian aspirasi dapat berlangsung tanpa mengganggu keamanan dan ketertiban umum.

Karena itu, aksi #MerebutKemerdekaan tidak hanya dapat dipandang sebagai demonstrasi mahasiswa. Gerakan tersebut juga menjadi pengingat bahwa mengisi kemerdekaan merupakan proses yang terus berlangsung.

Lebih dari delapan dekade setelah Proklamasi, pertanyaan tentang pendidikan, kesejahteraan, keadilan, kebebasan, dan kedaulatan rakyat masih menjadi bagian dari percakapan publik.

Pada akhirnya, makna kemerdekaan tidak hanya ditentukan oleh bagaimana bangsa Indonesia berhasil merebut kemerdekaan pada masa lalu, tetapi juga oleh bagaimana negara dan masyarakat memastikan kemerdekaan tersebut benar-benar dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Prev Post

Istana Minta Publik Pahami Utuh Pernyataan Prabowo soal Upah Pengupas Bawang

Next Post

Belajar dari Gempa Flores, Sekolah Tahan Bencana Mendesak Dibangun

BACK TO TOP