20/08/2026 18

Militerisme Dunia Anak

author photo
By Yeyen Febrilia

Dosen PGSD UNMUH BABEL. dan Mahasiswa Doktoral Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta.

Beberapa waktu ini banyak sekali kita melihat pelatihan pemerintah, kegiatan masyarakat, dan sekolah-sekolah yang dibuat semi militer. Kita juga sering membayangkan militerisme melalui gambar yang sangat jelas, misalnya tentara berseragam, senjata, medan perang, kendaraan tempur, atau anak-anak yang dipaksa menjadi tentara. Gambaran tersebut memang nyata dan tidak boleh diabaikan. Namun, ada bentuk militerisme lain yang jauh lebih halus dan justru karena terlalu biasa, sering tidak kita sadari.

Militerisme dapat hadir dalam kehidupan anak-anak melalui permainan, film, olahraga, sekolah, museum, bahkan cara kita berbicara tentang keamanan dan keberanian. Saya sepakat dengan salah satu gagasan penting yang ditawarkan J. Marshall Beier dan Jana Tabak (2020) dalam tulisan Children, Childhoods, and Everyday Militarism. Mereka mengajak kita melihat bahwa militerisme tidak hanya berlangsung di medan perang atau melalui perekrutan anak sebagai tentara, tetapi juga dapat meresap ke dalam kehidupan sehari-hari anak-anak yang bahkan hidup jauh dari zona konflik. Persoalannya bukan semata-mata apakah seorang anak pernah memegang senjata atau mengenakan seragam militer. Pertanyaan yang lebih penting adalah nilai-nilai seperti apa yang sedang kita anggap wajar dalam kehidupan anak?

Dalam kehidupan sehari-hari, anak belajar memahami dunia bukan hanya melalui buku pelajaran. Mereka belajar melalui permainan, tontonan, percakapan orang dewasa, media sosial, olahraga, lingkungan sekolah, dan berbagai simbol yang mereka jumpai.

Ketika kepahlawanan selalu digambarkan melalui kemampuan mengalahkan musuh, ketika keberanian selalu dikaitkan dengan kekuatan fisik, atau ketika ancaman selalu dianggap harus dihadapi dengan kekerasan, secara perlahan anak dapat belajar bahwa kekerasan merupakan respons yang normal terhadap masalah.

Beier dan Tabak juga (2020) menunjukkan bahwa naturalisasi bahaya dapat berjalan bersama dengan penghargaan terhadap respons tertentu sehingga menghasilkan normalisasi militerisasi. Praktik tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi saling memperkuat melalui narasi sejarah, budaya, ritual, dan berbagai praktik sosial.

Hal ini menjadi semakin menarik ketika masuk ke ranah budaya populer. Film anak-anak, misalnya, dapat menggunakan narasi tentang kepahlawanan, ketangguhan, pengorbanan, ancaman, dan kemenangan. Ketika pola tersebut terus diulang, ia berpotensi membuat hubungan antara ancaman, kepahlawanan, dan kekerasan terasa alamiah bagi penonton muda.

Tentu, bukan berarti setiap film tentang perang, permainan perang, atau pakaian bergaya militer otomatis membuat anak menjadi militeristik. Justru di sinilah pentingnya berpikir kritis. Yang perlu diperhatikan bukan hanya objeknya, tetapi bagaimana objek tersebut dimaknai, digunakan, dan dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari. 

Sekolah sering dipandang sebagai ruang aman bagi anak. Di dalamnya anak belajar, bermain, membangun pertemanan, dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari masyarakat. Namun, sekolah juga merupakan ruang tempat nilai-nilai sosial diproduksi dan diwariskan.

Beier dan Tabak menunjukkan bahwa militerisasi dapat masuk melalui berbagai praktik pendidikan, misalnya kegiatan sekolah yang disponsori militer, kunjungan ke museum perang, pengenalan artefak militer, bahkan dalam konteks tertentu melalui kurikulum. Pengalaman tersebut dapat membentuk pandangan bahwa militer merupakan pilihan masa depan yang menarik atau bahwa karakter positif seperti disiplin dan keterampilan tertentu secara alami berkaitan dengan institusi militer. Di sinilah pendidikan perlu mengambil posisi yang lebih reflektif.

Pendidikan karakter, misalnya, tentu penting. Disiplin, keberanian, tanggung jawab, ketangguhan, dan kepemimpinan merupakan nilai-nilai yang baik. Namun, kita perlu bertanya, apakah nilai-nilai tersebut harus selalu dibingkai melalui hierarki, kepatuhan, kompetisi, atau kemampuan menghadapi ancaman?

Bukankah keberanian juga berarti berani mengakui kesalahan? Bukankah kepemimpinan juga berarti mampu mendengarkan? Bukankah ketangguhan juga berarti mampu meminta pertolongan? Dan bukankah menyelesaikan konflik tanpa kekerasan justru merupakan bentuk keberanian yang jauh lebih sulit?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting agar pendidikan tidak sekadar mengajarkan anak bagaimana bertahan menghadapi dunia yang dianggap berbahaya, tetapi juga mengajarkan mereka bagaimana mengubah dunia agar menjadi lebih aman.

Ada satu hal lain yang menurut saya sangat penting dari gagasan bahwa anak tidak boleh dipandang hanya sebagai objek. Dalam banyak pembahasan mengenai militerisme, anak sering ditempatkan sebagai korban baik korban perang, korban kekerasan, atau korban propaganda. Perspektif tersebut penting, tetapi tidak cukup. Anak juga merupakan subjek yang mampu menafsirkan, menerima, mengubah, bahkan menolak berbagai pesan yang mereka temui. Artinya, kita tidak boleh berasumsi bahwa anak yang memainkan permainan perang otomatis menjadi anak yang menyukai kekerasan. Sebaliknya, kita perlu bertanya bagaimana anak memahami permainan tersebut.

Permainan bahkan dapat menjadi ruang bagi anak untuk bernegosiasi dengan pengalaman kekerasan dan otoritas. Penelitian yang dibahas dalam artikel tersebut menunjukkan bahwa bermain dapat menjadi ruang bagi anak untuk menegosiasikan bahkan melawan pengalaman kekerasan, otoritas negara, dan representasi politik yang dominan.

Dengan demikian, tugas orang dewasa yakni keluarga bukan sekadar melarang. Tugas yang lebih penting adalah membuka ruang percakapan. Ketika anak menonton film perang, misalnya, kita dapat bertanya Mengapa tokoh tersebut disebut pahlawan? Apakah semua konflik harus diselesaikan dengan kekuatan? Siapa yang disebut musuh? Bagaimana perasaan orang yang berada di pihak lain? Apakah ada cara lain untuk menyelesaikan konflik? Pertanyaan sederhana seperti itu dapat mengubah anak dari konsumen pasif menjadi pembaca kritis terhadap dunia di sekitarnya.

Masa kanak-kanak idealnya bukan sekadar masa persiapan menuju kedewasaan. Anak adalah manusia yang hidup pada saat ini, dengan pengalaman, pemikiran, perasaan, dan kemampuan untuk membentuk lingkungan sosialnya. Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika terlalu banyak mendefinisikan dunia anak melalui bahasa ancaman. Rumah dianggap aman, sekolah dianggap aman, sementara ruang publik dianggap berbahaya. Kita menunjukkan bagaimana kehidupan anak sering dipisahkan ke dalam ruang-ruang yang dianggap aman baik rumah, sekolah, dan pusat rekreasi, sementara ruang publik dikonstruksikan sebagai ruang yang penuh risiko.

Jika anak terus-menerus diajarkan bahwa dunia adalah tempat yang berbahaya, maka keamanan dapat dipahami bukan sebagai kondisi yang dibangun bersama, melainkan sebagai sesuatu yang harus dicapai melalui kontrol, perlindungan, dan kekuatan. Di sinilah pendidikan memiliki tanggung jawab besar. Kita perlu mengajarkan anak bahwa keamanan bukan hanya soal memiliki kekuatan untuk menghadapi musuh. Keamanan juga berarti memiliki lingkungan yang adil, hubungan sosial yang sehat, kemampuan menyelesaikan konflik, keberanian berdialog, dan kesediaan melindungi mereka yang rentan.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah anak boleh mengenal militer. Anak tentu perlu memahami sejarah, konflik, pertahanan negara, dan berbagai realitas politik dunia. Yang perlu kita hindari adalah ketika militerisme menjadi satu-satunya lensa untuk memahami keberanian, keamanan, kepemimpinan, dan penyelesaian konflik.

Anak tidak membutuhkan dunia yang sepenuhnya steril dari konflik. Anak membutuhkan kemampuan untuk memahami konflik tanpa menganggap kekerasan sebagai satu-satunya jawabannya.

Mungkin inilah tantangan terbesar pendidikan hari ini: bukan sekadar melindungi anak dari kekerasan, tetapi juga memastikan bahwa dalam proses melindungi mereka, kita tidak justru mengajarkan bahwa dunia pada dasarnya adalah tempat yang harus dihadapi dengan ketakutan, kepatuhan, dan kekuatan. Sebab masa depan yang damai tidak lahir dari anak-anak yang paling siap berperang, melainkan dari anak-anak yang mampu membayangkan bahwa konflik dapat diselesaikan dengan cara yang berbeda.



Prev Post

Demokratisasi Kebenaran: Antara Popularitas dan Otoritas

BACK TO TOP