Mahasiswa magister Ilkom UPN
Di tengah frekuensi bencana yang meningkat lima kali lipat dalam lima puluh tahun terakhir akibat perubahan iklim, kita sering menyaksikan pola yang sama. Ketika bumi berguncang, air meluap, atau bangunan runtuh, yang kacau bukan hanya keadaan di lapangan, melainkan juga arus informasi. Informasi yang terlambat, tidak akurat, atau tidak sesuai kebutuhan dapat memperpanjang kepanikan. Pengalaman saya terjun dalam Search and Rescue (SAR) sekaligus mengelola narasi organisasi di media sosial membuat saya menyadari satu hal: komunikasi yang kaku dan prosedural dapat menjadi “bencana kedua” setelah peristiwa yang sebenarnya.
Bencana tidak pernah berjalan sesuai naskah. Situasi dapat berubah dalam hitungan menit, sementara kebutuhan masyarakat terus bergerak. Pola komunikasi yang hanya mengandalkan tahapan sebelum, saat, dan sesudah bencana tidak lagi cukup ketika krisis berkembang secara dinamis. Komunikasi harus mampu membaca keadaan, memahami kebutuhan publik, dan menyesuaikan pesan dengan tingkat urgensinya. Gagasan inilah yang menjadi dasar Strategi Komunikasi Adaptif dan Situasional.
Situational Crisis Communication Theory (SCCT) memberikan pelajaran penting bahwa komunikasi tidak dapat dilepaskan dari karakter krisis dan persepsi publik terhadap tanggung jawab organisasi. Bencana alam, misalnya, menempatkan organisasi sebagai pihak yang turut menjadi korban sehingga komunikasi lebih membutuhkan instruksi, kecepatan, dan penyesuaian informasi. Krisis akibat kesalahan manusia atau kegagalan manajemen menuntut hal yang berbeda: publik membutuhkan pengakuan, empati, transparansi, dan tanggung jawab. Kesalahan membaca situasi dapat membuat organisasi terdengar defensif ketika masyarakat justru membutuhkan kepastian dan kepedulian.
Pengalaman mengelola media sosial di lingkungan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan menunjukkan bahwa platform digital telah berubah dari sekadar alat publikasi menjadi bagian dari infrastruktur penanggulangan bencana. Ketika informasi bergerak cepat, media sosial dapat mempertemukan kebutuhan dengan sumber daya secara langsung. Masyarakat dapat melaporkan kondisi lapangan, mencari anggota keluarga, menawarkan bantuan, menggalang logistik, hingga mengerahkan relawan tanpa harus menunggu seluruh informasi datang dari institusi formal.
Pengalaman banjir Belgia pada 2021 menunjukkan bahwa setiap platform memiliki fungsi yang berbeda. Facebook dapat menjadi ruang koordinasi lokal ketika komunitas mencari bantuan, logistik, dan relawan secara real-time. Twitter atau X dapat berfungsi sebagai ruang advokasi yang menghubungkan peristiwa lokal dengan persoalan yang lebih luas, termasuk perubahan iklim. Fakta tersebut mengingatkan kita bahwa komunikasi adaptif tidak berarti menyebarkan pesan yang sama ke seluruh platform. Pesan harus diterjemahkan sesuai karakter media dan kebutuhan audiens. Facebook dapat menjadi ruang koordinasi, sementara X dapat menjadi ruang advokasi dan amplifikasi isu.
Persoalannya, banyak organisasi masih memperlakukan media sosial seperti papan pengumuman digital. Informasi dibuat seragam, dipublikasikan, lalu dianggap selesai. Padahal dalam krisis, komunikasi bukan pekerjaan satu arah. Ia merupakan proses membaca keadaan, mendengar respons publik, lalu mengubah pesan berdasarkan perkembangan di lapangan.
Komunikasi adaptif tidak mungkin berjalan tanpa data yang akurat. Dalam pengalaman SAR, satu detik data dapat berarti satu nyawa. Informasi mengenai jumlah korban, lokasi pengungsian, kebutuhan logistik, posisi relawan, hingga kondisi fasilitas kesehatan harus bergerak secara cepat dan terintegrasi. Disaster Management Information System (DMIS) menjadi penting karena keputusan yang baik hanya dapat lahir dari informasi yang diperbarui secara terus-menerus.
Ketiadaan sistem informasi yang kuat dapat menciptakan paradoks dalam penanganan bencana. Bantuan menumpuk di satu lokasi, sementara wilayah lain kekurangan kebutuhan dasar. Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalannya bukan selalu kekurangan bantuan, melainkan kegagalan mengelola informasi. Komunikasi situasional harus mampu mengatakan kepada donor secara spesifik: “Jangan kirim mi instan lagi, kami membutuhkan pakaian dalam dan obat-obatan.” Kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan mengelola makna dan mengarahkan sumber daya.
Hubungan antara organisasi dan masyarakat juga tidak pernah statis. Dalam situasi krisis, masyarakat dapat bergerak dari posisi penerima informasi menjadi mitra penanggulangan bencana. Kepercayaan menjadi modal paling rapuh sekaligus paling berharga. Masyarakat yang dipercaya dan dilibatkan dapat menjadi pelapor kondisi lapangan, relawan, penghubung informasi, sekaligus bagian dari sistem penyelamatan. Karena itu, publik tidak seharusnya diperlakukan hanya sebagai objek yang diberi tahu, tetapi sebagai kekuatan sosial yang dapat diberdayakan untuk membangun ketangguhan mandiri.
Ketangguhan masyarakat tidak dimulai ketika alarm bencana berbunyi. Community resilience dibangun jauh sebelumnya melalui hubungan yang konsisten, komunikasi yang jujur, dan kepercayaan yang dirawat dalam situasi normal. Organisasi yang terbuka ketika tidak ada bencana akan memiliki modal sosial yang lebih kuat ketika krisis datang. Kepercayaan tidak dapat diciptakan dalam satu konferensi pers setelah bencana terjadi.
Kebijakan penanggulangan bencana karena itu perlu menempatkan komunikasi krisis sebagai bagian inti dari operasi, bukan sekadar lampiran teknis. Sistem informasi harus terintegrasi, pengelolaan media sosial harus memahami karakter setiap platform, dan strategi komunikasi harus mampu mengikuti perubahan situasi. Manajer darurat juga membutuhkan kemampuan membaca emosi publik, sebab masyarakat dapat bergerak dari kepanikan dan kesedihan menuju harapan selama proses pemulihan.
Di balik layar komputer maupun di tengah reruntuhan lapangan, tujuan komunikasi tetap sama: memastikan informasi yang benar sampai kepada orang yang tepat pada waktu yang tepat. Dalam situasi darurat, komunikasi adaptif bukan semata-mata tentang menjaga reputasi organisasi. Ia adalah bagian dari tindakan penyelamatan, cara menjaga kepercayaan, dan salah satu fondasi agar masyarakat mampu bangkit ketika bencana telah berlalu.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP