28/08/2026 21

Karhutla Meluas, Kabut Asap Ancam Kesehatan dan Ganggu Aktivitas Warga

author photo
By Redaksi PUNDI

Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta

PONTIANAK - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali berdampak pada kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia. Kabut asap yang menyelimuti kawasan Pontianak, Kalimantan Barat, dan Pekanbaru, Riau, menyebabkan kualitas udara memburuk hingga mengancam kesehatan serta mengganggu berbagai aktivitas masyarakat.

Di Pontianak, kualitas udara pada Jumat (28/8/2026) tercatat mencapai kategori berbahaya. Berdasarkan pemantauan ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup yang dilaporkan Kompas TV, indeks standar pencemaran udara (ISPU) di wilayah tersebut telah berada di atas angka 400.

Kondisi serupa terjadi di Pekanbaru. Pada Jumat pagi, indeks kualitas udara dilaporkan mencapai angka 645 dengan konsentrasi PM2,5 sekitar 398 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut menunjukkan paparan polusi udara yang sangat tinggi akibat kabut asap karhutla.

Kasus ISPA Mulai Meningkat

Dampak paling langsung dari memburuknya kualitas udara dirasakan pada sektor kesehatan. Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat sekitar 5–10 persen dalam sepekan terakhir, bersamaan dengan munculnya kabut asap. Meski demikian, pemerintah mengingatkan bahwa peningkatan kasus ISPA tidak seluruhnya dapat dipastikan disebabkan oleh asap karhutla karena terdapat faktor kesehatan lainnya.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih. Dokter spesialis paru Feni Fitriani Taufik mengimbau masyarakat mengurangi paparan asap dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kualitas udara.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Pontianak juga mengingatkan bahwa paparan polutan dari kabut asap dapat berdampak terhadap perkembangan paru-paru anak. Karena itu, kabut asap tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan kesehatan masyarakat.

Aktivitas Sekolah Terganggu

Kabut asap juga mulai mengganggu kegiatan pendidikan. Pemerintah Kota Pontianak sebelumnya menyesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi peserta didik PAUD, TK, SD, SMP, dan pendidikan kesetaraan ketika kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat atau berbahaya.

Di Pekanbaru, pembelajaran daring untuk jenjang PAUD hingga SMP diperpanjang hingga 28 Agustus 2026 karena kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Pemerintah meminta anak-anak mengurangi aktivitas di luar rumah untuk menghindari paparan kabut asap.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada wilayah yang terbakar. Ketika asap bergerak menuju kawasan permukiman, aktivitas pendidikan, pekerjaan, hingga mobilitas masyarakat ikut terdampak.

Transportasi dan Mobilitas Ikut Terganggu

Kabut asap juga berpotensi mengganggu sektor transportasi. Di Bandara Supadio Pontianak, jarak pandang yang turun hingga di bawah 1.000 meter sebelumnya menyebabkan gangguan terhadap sejumlah jadwal penerbangan. Enam penerbangan terdampak akibat kondisi tersebut.

Di Jambi, kabut asap juga menyebabkan jarak pandang di Bandara Sultan Thaha turun hingga sekitar 800 meter. Kondisi tersebut membuat dua penerbangan dari Jakarta harus dialihkan ke bandara lain.

Karhutla Bukan Sekadar Persoalan Kebakaran

Rangkaian dampak tersebut memperlihatkan bahwa karhutla merupakan persoalan multidimensi. Api yang membakar hutan dan lahan dapat berkembang menjadi masalah kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman titik api. Pencegahan munculnya kebakaran baru, pemantauan kualitas udara, perlindungan kelompok rentan, serta pembatasan aktivitas ketika kualitas udara memburuk menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak karhutla.

Selama titik api dan kabut asap masih muncul, masyarakat perlu terus memantau informasi kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker yang sesuai, mengurangi aktivitas fisik di luar rumah, serta segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami gangguan pernapasan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko paparan asap.

Dengan demikian, karhutla bukan hanya persoalan lingkungan yang terjadi di kawasan hutan dan lahan. Ketika asap memasuki ruang hidup masyarakat, dampaknya dapat dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari udara yang dihirup, anak-anak yang harus belajar dari rumah, hingga terganggunya perjalanan dan aktivitas ekonomi.


Prev Post

Sekolah Milik Semua Anak

BACK TO TOP