03/09/2026 18

Tinjauan Ketika Pendidikan Fokus Mencetak Nilai dan Prestasi Tetapi Lupa Membentuk Karakter Manusia

author photo
By Fajar Nurisa Khoirini

Seorang Guru Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki ketertarikan di bidang psikologi dan pendidikan.

Prestasi dan nilai, dua hal yang tidak jauh dan tidak lepas dari dunia pendidikan. Membahas pendidikan seringkali berkaitan dengan angka yang mencakup nilai rapor, peringkat kelas, prestasi, kelulusan hingga anak didik yang diterima. Semua hal tersebut penting. Namun jika kita melihat sisi lain, manusia seperti apa yang sedang dibentuk melalui pendidikan?

Pertanyaan tersebut semakin menarik untuk dibahas, terutama ketika dunia pendidikan berada di masa perubahan zaman cepat. Teknologi berkembang sebagai penunjang pembelajaran, kecerdasan buatan hadir di ruang kelas, informasi diperoleh dalam hitungan detik, anak-anak didik tumbuh dalam dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya. Namun di tengah kemudahan kemajuan tersebut, pendidikan jangan sampai kehilangan tujuan utamanya yaitu membentuk karakter manusia.

Meninjau dari perspektif islam, Islam sejak awal telah menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dalam kehidupan. Rasulullah SAW menerima wahyu pertama berisi perintah iqra : bacalah.  Perintah ini tidak hanya sekadar ajakan persuasif untuk membaca tulisan, namun ajaran bagaimana kita harus bisa membaca dinamika dan problematika kehidupan, membaca dan melihat tanda-tanda kebesaran Allah. 

Pendidikan seharusnya tidak terhenti pada kemampuan menghafal dan menjawab soal saja. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu menggunakan kapasitas diri dan ilmu untuk mengenali kebenaran, memperbaiki kehidupan serta menghadirkan kemaslahatan untuk sesama. 

Ketika Prestasi Menjadi Tujuan Utama 

Tentu kita harus bangga ketika seorang siswa mendapatkan nilai tinggi atau berhasil memenangkan suatu kompetisi. Akan tetapi, prestasi akademik tidak selalu menjadi cermin utuh atau nilai mutlak keberhasilan dunia pendidikan. 

Apa artinya ketika seorang siswa memperoleh nilai sempurna jika tidak mampu menghargai jasa gurunya? Apa arti nilai tinggi dan kemenangan suatu kompetisi jika kebiasaan merendahkan teman terus berjalan? Apa artinya seseorang memiliki pengetahuan dan ilmu yang luas jika hal tersebut tidak membuatnya semakin bertanggung jawab? 

Kita perlu membedakan antara pendidikan dan sekadar persekolahan.

Sekolah merupakan tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Namun pendidikan memiliki makna lebih luas yang menyentuh pengetahuan, karakter, moral, emosi, tanggung jawab hingga hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhannya.

Adab dalam pendidikan islam merupakan bagian penting dalam proses menimba dan mendapatkan ilmu. Seorang yang sedang belajar tidak hanya dituntut untuk cerdas dalam hal akademik, namun juga memiliki tanggung jawab atas karakter dirinya. Bersikap rendah hati, menghormati guru, menghargai ilmu hingga menggunakan ilmunya di jalan yang benar. Maka dari itu, persoalan pendidikan tidak hanya bagaimana membuat anak menjadi pintar, tetapi juga bagaimana memastikan kecerdasannya memiliki arah yang benar. 

Belajar dari Para Tokoh Islam 

Sejarah islam menunjukkan bahwa pendidikan tidak pernah dipisahkan dari pembentukan karakter. 

Ibnu Sina, tidak hanya dikenal sebagai seorang dokter dan ilmuwan besar, tetapi juga melihat bagaimana perspektif islam mendorong umatnya mencintai ilmu dan pengembangan pendidikan. 

Al Ghazali, memberi fokus perhatian besar terhadap hubungan anatar ilmu, akhlak dan pembentukkan manusia. 

Ki Hadjar Dewantara, dalam konteks pendidikan modern memiliki pemikiran dan titik temu yang menarik bahwa pendidikan tidak seharusnya memaksa anak untuk mengikuti kehendak orang tua, anak perlu dibimbing agar mampu tumbuh sesuai potensi dirinya. Gagasan Ki Hadjar Dewantara terkait pendidikan yang menuntun sejalan dengan semangat islam yang memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki Amanah dan potensi. Guru tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga pendamping yang membantu peserta didik menemukan jalan kehidupan. 

KH Ahmad Dahlan, memberi teladan yang relevan bagi dunia pendidikan. Melalui Muhammadiyah, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan manusia yang paham agama tapi manusia yang mampu menjawab persoalan masyarakat. 

Guru Tidak Hanya Sebatas Mengajar, Tetapi Juga Menjadi Teladan

Peran Guru semakin penting di tengah masifnya arus digital .ketika informasi bisa diperoleh dan diakses kapanpun melalui mesin pencari, guru tidak lagi cukup berperan sebagai sumber informasi. Guru harus mampu menjadi seorang teladan, pembimbing dan pendamping. 

Peserta didik mungkin lupa atas materi pelajaran yang disampaikan, namun mereka dapat mengingat bagaimana seorang guru memperlakukan peserta didik di berbagai situasi. Mereka dapat mengingat bagaimana gurunya memberi ruang untuk bertanya, apakah kesalahannya dihargai sebagai proses belajar dan apakah guru mampu percaya bahwa peserta didik dapat berkembang. 

Perspektif Pendidikan Islam, keteladanan memiliki posisi yang penting. Nabi Muhammad SAW merupakan contoh suri teladan bahwa pendidikan tidak cukup hanya dilakukan melalui perkataan, tetapi juga melalui perilaku. Maka dari itu, pendidikan yang baik membutuhkan guru yang tidak hanya menguasai materi dan kurikulum, tetapi mampu memahami karakter manusia. Guru tidak boleh melihat peserta didik hanya dari sebatas capaian angka dalam daftar nilai, melainkan pribadi yang memiliki harapan dan masa depan sesuai dengan potensinya. 

Anak Bukan Proyek Orang Dewasa

Persoalan lain yang perlu diperhatikan dan direnungkan pada dunia pendidikan dalam ambisi orang dewasa terhadap anak.

Tidak sedikit peserta didik yang merasa dirinya harus mendapat nilai baik dan berprestasi agar dianggap berhasil. Nilai menjadi ukuran kasih sayang, peringkat menjadi tolak ukur kebanggan dan kegagalan dianggap sebagai aib. Padahal anak bukan proyek untuk memenuhi ambisi orang tua, sekolah atau masyarakat. Mereka adalah manusia yang sedang bertumbuh dan berproses. 

Pendidikan seharusnya menjadi ruang untuk mencoba, belajar dan menemukan potensi dirinya. Islam mengajarkan pentingnya proses belajar, ikhtiar dan tanggungjawab. Oleh karena itu, kegagalan dalam belajar tidak seharusnya menjadi suatu alasan dalam menempuh proses belajar melainkan sebagai kesempatan dan ruang bertumbuh.

Mengembalikan Ruh Pendidikan

Pendidikan pada akhirnya bukan sekadar tentang berapa banyak materi yang siswa kuasai. Pendidikan adalah tentang manusia seperti apa yang lahir setelah proses belajar selesai. Kita butuh generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas. Tidak hanya berprestasi, tetapi juga bersikap menghargai. Tidak hanya kritis, tetapi juga memiliki adab. tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Disinilah nilai islam memiliki relevansi yang kuat. Tidak hanya mempertentangkan ilmu dan iman, tetapi mengkombinasikan kecerdasan dan akhlak, keduanya harus berjalan beriringan. 

Pendidikan tidak cukup mengejar sekolah unggulan, siswa berprestasi atau lulusan yang kompetitif. Kita perlu pendidikan yang mampu menjawab tantangan kehidupan. Sekolah tidak hanya bertugas mencetak peserta didik menjadi seorang juara, sekolah memiliki tugas membentuk manusia yang beradab, berilmu dan bermanfaat bagi kehidupan. 

Keberhasilan pendidikan sejati tidak diukur dari deretan angka di atas lembar evaluasi, melainkan sejauh mana pengetahuan mampu menjadikan peserta didik memiliki karakter mulia yang terwujud dalam tindakan nyata. Pada hakikatnya, esensi dari proses belajar bukanlah menumpuk wawasan agar manusia tahu lebih banyak, melainkan membimbing jiwa dan perilakunya agar tumbuh menjadi individu yang lebih baik serta bermanfaat bagi sesama.



Prev Post

Guru PPPK Diizinkan Daftar CPNS 2026 Tanpa Syarat Mengundurkan Diri

Next Post

Jawab Tantangan SMK, FKKSS Sleman Gandeng PUNDI Urai Krisis Mismatch Industri

BACK TO TOP