04/09/2026 11

Ekspedisi Dahlan Muda: Ikhtiar BEM UAD Menyalakan Asa Pendidikan di Mentawai

author photo
By Redaksi PUNDI

Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta

Muara Sikabaluan, Kepulauan Mentawai. Di tengah gelombang Samudra Hindia yang memisahkan Kepulauan. Mentawai dari daratan Sumatra, sekelompok mahasiswa dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menapakkan kaki dengan satu misi besar: mengabdi, belajar, dan menumbuhkan kepekaan sosial melalui program bertajuk Ekspedisi Dahlan Muda. Program ini digagas oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UAD sebagai bentuk nyata kontribusi mahasiswa terhadap masyarakat di wilayah yang selama ini kerap luput dari perhatian pembangunan, khususnya dalam aspek pendidikan dan sosial-keagamaan.

Ekspedisi Dahlan Muda bukan sekadar kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) biasa. Program ini dirancang sebagai gerakan pengabdian lintas disiplin yang menempatkan mahasiswa langsung di tengah realitas sosial masyarakat Mentawai. Sebuah masyarakat adat dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang khas, namun masih menghadapi berbagai tantangan struktural, mulai dari keterbatasan akses pendidikan, minimnya fasilitas ekonomi digital, hingga kebutuhan pembinaan keagamaan yang belum sepenuhnya merata.

Selama masa pengabdian, tim Ekspedisi Dahlan Muda menjalankan serangkaian program yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat, di antaranya pendampingan digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar produk lokal Mentawai dapat menjangkau pasar yang lebih luas, penyerahan hibah buku bacaan untuk Rumah Belajar Anak Suku Mentawai di kawasan Taman Nasional Siberut, hibah Al-Qur'an dan Iqra untuk masjid setempat yang bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah

Muhammadiyah (LazisMu) Wilayah DIY, hingga koordinasi bersama Kantor Urusan Agama (KUA) Desa untuk mengoptimalkan program pembinaan mualaf. Rangkaian program ini menegaskan bahwa pengabdian yang dijalankan bersifat komprehensif tidak berhenti pada satu sektor saja, melainkan menyasar kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.

Presiden Mahasiswa BEM UAD, Muhammad Ilham, menegaskan bahwa Ekspedisi Dahlan Muda merupakan wujud konkret dari nilai-nilai Muhammadiyah yang selama ini menjadi ruh gerak mahasiswa UAD, yakni pencerahan dan pemberdayaan umat. Menurutnya, program ini sengaja dirancang untuk membawa mahasiswa keluar dari zona nyaman ruang kelas dan bersentuhan langsung dengan persoalan riil di lapangan.

Kami ingin mahasiswa UAD tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga punya keberpihakan yang jelas terhadap persoalan-persoalan sosial di masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini jarang tersentuh program pengabdian. Mentawai kami pilih karena di sanalah kami melihat kebutuhan itu sangat nyata, sekaligus banyak potensi yang belum tergarap maksimal,” ujar Ilham.

Ia menambahkan, Ekspedisi Dahlan Muda diharapkan menjadi program tahunan yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial yang berhenti begitu masa pengabdian usai. Menurutnya, keberlanjutan dampak menjadi indikator utama keberhasilan program, bukan sekadar dokumentasi kegiatan.

Kami tidak ingin ekspedisi ini hanya meninggalkan foto dan laporan kegiatan. Yang kami kejar adalah dampak jangka panjang UMKM yang benar-benar naik kelas, anak-anak yang makin gemar membaca, jamaah yang makin nyaman beribadah, dan mualaf yang merasa didampingi. Itu semua adalah indikator keberhasilan yang sesungguhnya,” tegasnya.

Senada dengan itu, Menteri Pendidikan BEM UAD, Muhammad Zulfikar, menjelaskan bahwa secara filosofis, Ekspedisi Dahlan Muda hadir sebagai ikhtiar memperluas cakrawala mahasiswa melalui penghayatan langsung

atas realitas pendidikan dan sosial yang ada saat ini, khususnya masyarakat Mentawai. “Ekspedisi Dahlan Muda ini sebenarnya hadir sebagai ikhtiar memperluas cakrawala mahasiswa melalui penghayatan langsung atas realitas pendidikan dan sosial yang ada saat ini khususnya masyarakat Mentawai. Kegiatan ini menjadi ruang dialektika antara pengetahuan akademik dan kearifan lokal yang acap kali luput dari ruang kelas. Lebih dari perjalanan, ekspedisi ini merupakan laku pengabdian untuk menumbuhkan kepekaan, keberpihakan, dan tanggung jawab intelektual mahasiswa kepada bangsa dan negara. Dengan demikian, Dahlan Muda diharapkan mampu mengejawantahkan kapabilitas ilmunya menjadi praksis yang berkemanfaatan,” ungkap Zulfikar.

Pernyataan Zulfikar tersebut menegaskan posisi Ekspedisi Dahlan Muda bukan sekadar agenda teknis pengabdian masyarakat, melainkan juga proyek intelektual yang berusaha mempertemukan dua ranah pengetahuan yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri: pengetahuan akademik yang dipelajari mahasiswa di bangku kuliah, dan kearifan lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat adat seperti Mentawai.

Dialektika antara keduanya, menurutnya, menjadi kunci lahirnya pemahaman yang lebih utuh dan kontekstual bagi mahasiswa. Dari sisi output, program ini dirancang menghasilkan capaian yang terukur dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat penerima manfaat. Di sektor ekonomi, target utamanya adalah terpetakannya UMKM lokal secara digital sehingga produk-produk masyarakat Mentawai dapat diakses pasar yang lebih luas. Di sektor pendidikan, program berfokus pada peningkatan akses bahan bacaan bagi anak-anak di kawasan Taman Nasional Siberut sebagai upaya menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Sementara di sektor sosial-keagamaan, program

diarahkan pada penguatan sarana ibadah serta optimalisasi pembinaan bagi para mualaf, agar proses transisi keagamaan yang mereka jalani mendapat pendampingan yang layak dan berkelanjutan.

Namun demikian, luaran yang menjadi andalan utama sekaligus pembeda dari Ekspedisi Dahlan Muda adalah produksi film dokumenter yang mengangkat kekayaan budaya masyarakat Mentawai. Film ini dirancang bukan sekadar dokumentasi kegiatan, melainkan karya audiovisual yang secara khusus mengangkat kearifan lokal, tradisi, dan kehidupan sehari-hari masyarakat adat Mentawai secara mendalam dan otentik. Karya ini rencananya akan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bentuk perlindungan dan pengakuan resmi atas orisinalitas karya, sekaligus dipromosikan secara luas melalui berbagai kanal, mulai dari tingkat nasional hingga internasional. Melalui film dokumenter ini, BEM UAD berharap budaya Mentawai dapat dikenal lebih luas oleh publik, sekaligus menjadi wujud kontribusi mahasiswa dalam pelestarian dan

pengarusutamaan kebudayaan Indonesia di panggung global.

Selain output yang bersifat langsung kepada masyarakat, Ekspedisi Dahlan Muda juga dirancang untuk menghasilkan output internal bagi mahasiswa peserta itu sendiri. Pengalaman lapangan yang intens diharapkan menempa jiwa kepemimpinan, empati sosial, serta kemampuan problem solving mahasiswa dalam menghadapi persoalan nyata yang kompleks dan lintas sektor sebuah bekal yang sulit didapatkan hanya melalui pembelajaran di ruang kelas. Ke depan, BEM UAD berencana menjadikan Ekspedisi Dahlan Muda sebagai program berkelanjutan dengan cakupan wilayah yang terus diperluas. Evaluasi dan pemetaan kebutuhan masyarakat akan terus dilakukan pasca-kegiatan, sehingga program-program lanjutan dapat dirancang lebih tepat sasaran berdasarkan kondisi riil di lapangan, bukan sekadar asumsi dari luar.

Kehadiran Ekspedisi Dahlan Muda di Kepulauan Mentawai menjadi bukti bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai jembatan antara dunia akademik dan masyarakat akar rumput. Melalui program ini, BEM UAD ingin menegaskan bahwa pengabdian bukanlah kegiatan seremonial semata, melainkan bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab intelektual dan moral mahasiswa terhadap bangsa. Dengan semangat itu, harapannya, jejak yang ditinggalkan Dahlan Muda di Mentawai bukan sekadar kenangan perjalanan, melainkan perubahan nyata yang terus tumbuh dan dirasakan masyarakat, jauh setelah tim mahasiswa kembali ke kampus.

Sumber : Berita disusun oleh Tim KKN Ekspedisi Dahlan Muda pada 4 September 2026 di Desa Muara Sikabaluan.

Prev Post

Hampir 2.000 Orang Diduga Keracunan Usai Santap MBG, Keamanan Pangan Jadi Sorotan

BACK TO TOP