Dewan Penasihat PUNDI. Dosen Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Bergerak di bidang perbukuan sebagai Direktur UAD Press.
Jumat, 31 Januari 2024. Pagi itu, mentari menyapu lembut langit Yogyakarta, menyisakan hawa sejuk yang masih bertahan dari sisa-sisa malam. Di atas jalanan yang mulai ramai, seorang lelaki paruh baya melaju dengan motor tuanya. Shogun merah, yang setia menemaninya bertahun-tahun, kini ia pacu secepat mungkin. Namun, bagaimana pun dipaksa, mesin tua itu tetap tak bisa menyaingi waktu.
Hatib Rachmawan, nama lelaki itu. Kini ia mengajar di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Ia paham benar bahwa jarak 45 menit dari rumahnya ke lokasi Pelatihan Instruktur DPD IMM DIY bukan sesuatu yang bisa dipersingkat dengan sekadar keinginan. Gedung Pelatihan Kesenian, yang lebih akrab disebut BBPPMPV, berdiri di Kilometer 14 Jalan Kaliurang, menanti kehadirannya.
Di dalam ruangan redup, kursi-kursi telah terisi oleh 30 peserta. Muda-mudi harapan bangsa itu mengenakan jas merah, duduk dengan sikap penuh harap. Mereka datang dari berbagai penjuru negeri—Sulawesi, Sumatera Utara, Banten, dan tentu saja Yogyakarta yang menjadi tuan rumah bagi mayoritas peserta.
Di depan, seorang lelaki kurus berdiri, setia mendampingi para peserta. Rahmat Saleh, sang moderator. Matanya terlihat lelah, namun sorotnya tetap tajam, penuh perhatian. Ia tahu, tugasnya bukan sekadar membacakan agenda, tetapi menjaga ritme jalannya diskusi.
Hatib Rachmawan melangkah masuk. Pandangannya menyapu ruangan, mengenali semangat yang dulu pernah membakar dadanya saat ia sendiri masih mengenakan jas merah serupa. Perjalanan panjangnya di dunia perkaderan sejak 2010, dari MPK PP hingga kini menjadi MPKSDI PP Muhammadiyah, telah menempa dirinya. Ia adalah saksi, sekaligus penjaga api yang terus menyala.
Di hadapan mereka, ia mulai berbicara—bukan sekadar ceramah, tetapi wejangan dari pengalaman.
"Instruktur di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus memiliki tiga kompetensi. Tanpa itu, jangan mengaku instruktur profesional," suaranya tegas, menghentak kesadaran para peserta.
Dari sudut ruangan, seorang peserta dari Sumatera mengangkat tangan. Ada kegelisahan di matanya.
"Apa tiga kompetensi itu, Pak?" tanyanya penuh ingin tahu.
Hatib tersenyum tipis, seakan pertanyaan itu memang ia tunggu.
"Pertama, kompetensi ideologis. Ini bukan sekadar memahami Muhammadiyah dan Islam, tetapi meresapi Prinsip Islam Berkemajuan. Pengamalan, penghayatan, dan penerapan nilai-nilai Islam harus menjadi napas keseharian kita. Bacaan Al-Qur’an harus baik, ibadah harus terjaga, sikap Islami harus terpancar dalam kehidupan."
Ruangan hening. Semua mendengar. Semua menyerap.
"Kedua, kompetensi pedagogis. Seorang instruktur bukan sekadar berbicara, tetapi mendidik. Ia harus menguasai filosofi pembelajaran, metode yang tepat, teknik komunikasi, hingga sistem evaluasi. Tanpa pemahaman ini, bagaimana mungkin perkaderan bisa berkembang?"
Beberapa peserta tampak mengangguk, seakan menemukan celah yang selama ini kosong dalam pemahaman mereka.
Hatib lalu menarik napas dalam, sebelum melanjutkan bagian terakhir.
"Dan yang ketiga, kompetensi administrasi. Terlihat sepele, bukan? Tapi inilah fondasi. Digitalisasi instrumen perkaderan, surat-menyurat, laporan, syahadah—semua harus tertata. Jika ini diabaikan, organisasi bisa lumpuh tanpa kita sadari."
Rahmat Saleh tetap berdiri di tempatnya. Meski lelah, ia terus memperhatikan jalannya sesi. Ia tahu, ini bukan sekadar forum, tetapi momen yang bisa menentukan arah perkaderan ke depan.
Seketika, ruangan terasa lebih berat. Tidak karena tekanan, tetapi karena kesadaran yang perlahan tumbuh. Bahwa selama ini, ada lubang yang tak disadari.
Di penghujung sesi, suasana berubah. Para peserta tak lagi hanya mendengar—mereka berdiskusi, menyusun komitmen, merancang langkah berikutnya. Evaluasi sistem perkaderan menjadi agenda, revisi menjadi keharusan, dan Muktamar menjadi tujuan berikutnya.
Di luar gedung, mentari sudah lebih tinggi, menerangi langkah-langkah yang kini lebih mantap.
Tags:
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP