Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta
MOSKOW - Umat Islam di Rusia menghadapi tantangan unik selama bulan Ramadhan dengan durasi puasa yang mencapai 16-17 jam, bahkan di beberapa wilayah utara bisa mencapai 22 jam. Meski demikian, semangat menjalankan ibadah puasa tetap tinggi dengan berbagai strategi adaptasi yang mereka terapkan.
Penyesuaian pola makan menjadi kunci utama dalam menghadapi durasi puasa yang panjang. Muslim Rusia biasa melakukan sahur sekitar pukul 02.00 atau 03.00 dini hari, sebelum waktu imsak yang jatuh sekitar pukul 04.30 pagi. Sementara berbuka puasa dilakukan sekitar pukul 19.30 atau 21.00 malam, tergantung lokasi mereka berada.
"Waktu sahur dan berbuka di Rusia berubah setiap hari. Waktu berbuka mundur sekitar 3-4 menit dan waktu sahur maju 3-4 menit setiap harinya," ujar Imam Ravil Gainutdin, Ketua Dewan Mufti Rusia.
Pemilihan jenis makanan juga menjadi perhatian khusus. Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Eropa yang mengonsumsi makanan sederhana seperti susu dan selai, Muslim Rusia lebih memilih makanan bergizi tinggi dan berkalori cukup untuk menjaga panas tubuh di suhu dingin.
Menu berbuka dan sahur di Rusia didominasi oleh makanan khas seperti Plov (nasi dengan daging sapi atau domba), Syurpa (sup daging dengan kentang dan wortel), serta Khingalsh atau Chepalgash (makanan tepung dengan isian labu atau keju cottage).
Meski durasi puasa panjang, kondisi iklim Rusia yang relatif dingin justru menjadi keuntungan tersendiri. Suhu yang rendah membuat mereka tidak mudah merasa haus dibandingkan berpuasa di negara beriklim panas. Namun tantangan tetap ada, terutama saat musim panas ketika suhu bisa mencapai lebih dari 30°C hingga 40°C.
Untuk menguatkan semangat selama berpuasa, aktivitas komunal dan spiritual menjadi sangat penting. Masjid-masjid di Rusia aktif menyediakan takjil dan makanan berbuka puasa secara gratis. Shalat tarawih berjamaah yang dimulai pukul 21.00 hingga 23.30 malam juga menjadi momen spiritual yang dinantikan.
"Kami membentuk komunitas sesama Muslim untuk saling mendukung, terutama bagi mahasiswa atau perantau," kata Fatima Ismailova, mahasiswa asal Dagestan yang tinggal di Moskow.
Meskipun menghadapi tantangan durasi puasa yang panjang, umat Muslim di Rusia tetap menjalankan ibadah puasa dengan penuh semangat dan keimanan, menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan yang penuh berkah dan keistimewaan di negeri beruang merah tersebut.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP