Anggota Dewan Redaksi PUNDI. Mahasiswa Pascasarjana PAI UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pecinta motor klasik, kopi, dan buku.
Dunia modern kita kini tengah dihadapkan pada peradaban yang tampak gemerlap dari luar, namun sesungguhnya rapuh di dalam.
Masyarakat berlomba-lomba membangun citra diri melalui kepemilikan benda-benda konsumtif yang berkilau di etalase digital.
Ruang-ruang media sosial menjadi panggung utama bagi pertunjukan gaya hidup yang hedonistik, seolah nilai manusia ditentukan oleh seberapa banyak ia mengikuti tren.
Fenomena ini tidak muncul dalam ruang hampa; ia bertumbuh subur dalam sistem ekonomi kapitalistik yang menjadikan manusia bukan lagi subjek merdeka, tetapi objek pemasaran.
Kecenderungan masyarakat konsumtif dewasa ini menjadi gejala umum yang mengancam nalar dan eksistensi manusia itu sendiri.
Konsumsi tidak lagi berlandaskan pada kebutuhan, tetapi pada hasrat dan impresi semu. Di sinilah problem sesungguhnya dimulai.
Kapitalisme menginternalisasi hasrat yang tak berujung, mengubah manusia menjadi mesin pembeli tanpa kesadaran kritis.
Pada titik ini, ruang batin manusia kehilangan daya reflektifnya. Inilah bentuk baru penjajahan, di mana kebebasan dikendalikan oleh keinginan yang ditanam secara sistemik melalui media dan iklan.
Krisis moral yang melanda generasi muda adalah akibat lanjut dari kehampaan spiritual yang ditinggalkan oleh peradaban konsumtif tadi.
Gaya hidup instan, budaya kompetisi tanpa etika, serta dominasi citra atas makna menjadi pupuk bagi suburnya dekadensi moral.
Kita menyaksikan bagaimana realitas sosial kita diwarnai oleh tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, hingga hilangnya empati sosial.
Ketika pendidikan lebih sibuk mengejar angka dan prestasi formal daripada membentuk karakter dan akal budi, maka jangan heran jika generasi muda tumbuh tanpa orientasi nilai yang kokoh.
Namun, dalam situasi seperti ini, kita tidak bisa serta-merta melemparkan seluruh kesalahan kepada anak-anak muda.
Kita hidup dalam sistem yang membentuk mereka. Ketika keluarga gagal menjadi ruang dialog dan kasih sayang, ketika sekolah lebih menjadi tempat ujian daripada rumah belajar, dan ketika negara abai terhadap keadilan sosial, maka jangan harap kita akan mencetak generasi yang bermoral.
Alih-alih menjadi subjek yang merdeka dan tercerahkan, mereka justru menjadi korban dari sistem yang tak ramah terhadap pertumbuhan batiniah manusia.
Ironisnya, dalam waktu yang bersamaan, kita juga sedang menyaksikan kerusakan ekologis yang semakin parah.
Penebangan hutan secara besar-besaran, pencemaran air dan udara, serta penggunaan plastik secara masif menunjukkan bahwa manusia modern tidak hanya gagal menjaga sesamanya, tetapi juga gagal menjaga bumi yang menjadi rumah bersama.
Ekspansi ekonomi yang tak terkendali menjadikan alam sebagai objek eksploitasi tanpa batas. Di balik gemerlap pembangunan, tersimpan jejak-jejak kehancuran ekologis yang mengancam masa depan umat manusia.
Di sini kita perlu bertanya secara jujur: untuk siapa sesungguhnya pembangunan ini? Jika pada akhirnya alam rusak, masyarakat miskin tetap tertinggal, dan anak muda kehilangan arah, maka kita patut mencurigai bahwa ada sesuatu yang sangat salah dalam logika kemajuan kita hari ini.
Dalam situasi seperti ini, pendidikan semestinya menjadi oase di tengah gurun. Namun sayangnya, pendidikan kita justru seringkali menjadi bagian dari masalah, bukan solusi.
Alih-alih membebaskan manusia, pendidikan kerap melanggengkan ketimpangan dan menanamkan nilai-nilai kapitalistik secara halus.
Banyak anak-anak bangsa yang harus putus sekolah karena keterbatasan ekonomi, sementara yang lain terus dijejali kurikulum yang tidak membebaskan jiwa mereka.
Pendidikan telah dikerdilkan menjadi sekadar tiket menuju pasar kerja, bukan alat pembebasan dan pencerahan sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa.
Jika kita ingin membangun peradaban yang beradab, maka kita tidak bisa terus menerus menutup mata terhadap kenyataan ini.
Kita perlu membangun kesadaran kolektif untuk melawan arus besar konsumtivisme, membangkitkan kembali nilai-nilai moral dalam keluarga dan masyarakat, serta memulihkan relasi manusia dengan alam semesta.
Kita harus merebut kembali pendidikan sebagai ruang pembentukan manusia seutuhnya, bukan sekadar alat produksi buruh industri.
Kesadaran ini tidak akan hadir secara tiba-tiba. Ia memerlukan gerakan, gerakan yang sadar, reflektif, dan berpihak kepada kemanusiaan.
Kita membutuhkan lebih banyak ruang kritik dan ruang dialog yang tak hanya mempersoalkan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas hidup manusia.
Kita butuh keberanian untuk mendekonstruksi mitos-mitos kemajuan dan membangun kembali pondasi nilai yang selama ini ditinggalkan.
Peradaban yang besar bukanlah peradaban yang menghasilkan banyak produk, tetapi peradaban yang mampu menjaga martabat manusia dan kelestarian alam.
Dan untuk mencapainya, kita harus mulai dari yang paling mendasar: membebaskan pikiran, menguatkan karakter, dan memanusiakan manusia.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP