25/06/2025 1142

Kampus, Mahasiswa, dan Kapitalisme

author photo
By Fikri Haikal

Anggota Dewan Redaksi PUNDI. Mahasiswa Pascasarjana PAI UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pecinta motor klasik, kopi, dan buku.

Kemegahan-kemegahan kampus hari ini, tidak berbanding lurus dengan kesadaran mahasiswanya. Pernyataan ini bertolak dari keadaan kampus yang perlahan-lahan menjelma menjadi arena “asing” bagi pemikiran kritis. Kampus, seharusnya menjadi arena dalam menyelesaikan sisa-sisa revolusi yang belum pernah tuntas dan menegaskan posisinya sebagai laboratorium keilmuan.

Naasnya, kampus menjadi pabrik produksi massal tenaga kerja. Imbasnya, kampus menjadi komoditas pasar. Pernyataan ini bertolak dari perjanjian General Agreement on Trade in Sevise (GATS), yang memposisikan “pendidikan” sebagai jasa yang diperjualbelikan.

Kosekuensi lain dengan adanya perjanjian itu, mahasiswa tidak lagi ditempa untuk menjadi insan yang berpikir kritis, melainkan dirancang agar cepat lulus dan terjual di pasar kerja. Artinya, proses belajar, seminar, dan diskusi di dalam kelas maupun di luar kelas, yang diagendakan oleh kampus, hanya bersifat pragmatis.

Tidak mengherankan bahwa yang muncul dipermukaan, kampus-kampus memperebut peringkat akreditasi dan membanggakan serapan mahasiswa yang berhasil di serap oleh dunia kerja. Bahkan, sejak di bangku awal perkuliahan, mahasiswa sudah disuguhkan dan dijanjikan “masa depan cera”; sebuah dongen yang meninabobokan. Maka, tidak mengherankan mahasiswa hari ini tidak mampu menguasai filsafat ilmu dan berpikir kritis, karena mereka belajar untuk memenuhi checklist keterampilan teknis yang diminta industri.

Sifat kampus yang demikian, menggunakan sifat liberalisme yang sistemnya adalah kapitalisme. Sistem kapitalisme global membutuhkan pendidikan (sekolah dan universitas) untuk melanggengkan “struktur” sosialnya.

Maka, secara fisik dan budaya dapat kita tinjau dari munculnya pendidikan bertaraf internasional (untuk kelas atas), terakreditasi unggul (kelas menengah), dan tidak terakreditasi (kelas pekerja atau proletariat), serta para peneliti atau akademisi tidak lagi diarahkan untuk menggugat ketimpangan, melainkan untuk memenuhi target publikasi. Kampus akhirnya terjebak pada logika efisiensi, akreditas, kepatuhan prosedur, kritik dianggap ancaman, dan pembangkangan intelektual dibungkam dengan evaluasi administratif.

Mahasiswa sebagai Objek

Kampus hari ini dengan sifatnya yang liberalisme, memposisikan mahasiswa sebagai objek. Mahasiswa hari-hari ini diasumsikan sebagai hard disk kosong yang harus diisi dan hanya perlu patuh untuk mengikuti instruksi teknis tanpa ruang diskusi berkelanjutan. Disinilah terjadi yang disebut dosen sebagai operator kurikulum dan kuliah menjadi transaksi tugas dan nilai, bukan lagi perjumpaan gagasan.

Akibatnya, nalar kritis mahasiswa tumpul; kemampuan untuk bertanya, mempertanyakan, menggugat, dan merumuskan ulang realitas menjadi mandul. Lebih ironisnya lagi, organisasi-organisasi mahasiswa (baik ekstra maupun intra), terjebak dalam pusaran logika proyek daripada menjadi kantong-kantong pemikiran kritis. Alhasil, kritik mahasiswa terhadap situasi kampus pun kehilangan daya gigitannya, karena ruangnya telah steril menggikuti logika yang sama.

Pendidikan Tanpa Kemanusiaan

Pergeseran fundamental dunia pendidikan sejak terlibat dengan perjanjian GATS telah kehilangan ruhnya dan menjadi pencetak tenaga kerja ulung. Kmpus tidak lagi menjadi kunci utama untuk membebaskan bangsa dari keterbelakangan, kebodohan, dan penjajahan, atau alih-alih menjadi membangkitkan kesadaran, kampus telah menjadi patuh terhadap pasar.

Mahasiswa akhirnya direduksi menjadi angka, grafik, dan sertififat. Mahasiswa tidak lagi menjadi subjek untuk meragukan, kesangsian, atau perunungan, semua harus cepat lulus, lulus tepat waktu, dan siap kerja. Situasi ini adalah bentuk dehumanisasi yang nyata dan menghilangkan kedalam berpikir kritis mahasiswa.

Tidak mengherankan mahasiswa lebih mengenal software daripada filsafat, lebih akrab dengan presentasi daripada perdebatan. Kualitas mahasiswa tidak lagi diukur dari sejauh mana mahasiswa berpikir dan bertindak, tetapi dari seberapa cepat terserap dalam dunia kerja. Alhasil, mahasiswa dijadikan objek yang siap dipoles, bukan subjek yang menginterogasi kompleksitas dunia.

Mahasiswa bukanlah layanan produksi yang siap didistribusikan, melainkan subjek yang berpikir, merasa, dan bertindak. Memang pantaslah kita mengenang kembali kutipan dari Max Horkheimer dan Theodor W. Adorno; manusia modern cenderung memperlakukan sesamanya sebagai objek manipulasi sistem yang teknokratis. Menyedihkannya, kampus adalah wujud nyata dari kutukan manusia modern itu.

Membuka Mata, Bergerak Bersama

Ironi terbesar dari situasi ini adalah: semakin terbuka ruang demokrasi, semakin tumpul kesadaran kritis mahasiswa. Padahal, jika kita menengok sejarah, generasi mahasiswa di masa lalu mampu bergerak melampaui tekanan politik. Mereka berani menggugat sistem di tengah bahaya pembungkaman. Kini, saat represifitas itu tidak lagi sekuat dulu, keberanian itu justru lenyap.

Tentu kita tidak sedang meromantisasi masa lalu. Tetapi setidaknya, kita bisa belajar satu hal: perubahan tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari keberanian berpikir dan bergerak. Maka, tugas mahasiswa hari ini bukan hanya menghafal diktat atau merancang presentasi, tetapi membongkar asumsi-asumsi dasar yang membuat pendidikan kehilangan rohnya.

Kualitas kampus tidak akan datang dari belas kasihan para birokrat kampus. Ia hanya mungkin muncul dari mahasiswa yang berani menggugat dan menuntut ruang berpikir yang sehat. Tanpa itu, kampus hanya akan menjadi arena simulasi akademik belaka—kosong secara intelektual, dan lumpuh secara sosial. Seperti yang pernah diajarkan Che Guevara, mahasiswa seharusnya dididik untuk tidak selalu percaya pada omong kosong dan niat baik penguasa, karena di balik niat baiknya ada sisi pragmatisme yang siap menerkam kita semua.



Prev Post

Tangisan di Balik Gerbang Sekolah

Next Post

PENDIDIKAN SEJARAH DAN KEPENTINGAN SEJARAH

BACK TO TOP