Seorang pria kelahiran Yogyakarta saat ini sedang berkuliah di Fakultas kedokteran UAD dan menjadi Ketua Bidang Kesehatan PC IMM Djazman Al Kindi
Dalam Islam, kepemimpinan tidak sekadar tentang memengaruhi, membimbing, dan mengarahkan kelompok menuju kesuksesan kolektif. Ia adalah tanggung jawab moral dan spiritual. Kepemimpinan adalah etika yang berpijak pada tauhid, keadilan, dan pengabdian terhadap nilai-nilai ilahiyah. Sebuah kepemimpinan yang mengakar pada keberpihakan terhadap kebenaran, keberanian menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan komitmen membangun peradaban berkeadilan.
Dalam konteks Muhammadiyah, kepemimpinan bukanlah jabatan administratif semata, melainkan upaya melahirkan kader-kader teladan: berintegritas dalam dakwah, cakap secara intelektual, dan tangguh dalam keterampilan sosial. Sebagai gerakan tajdid (pembaharuan), sejak kelahirannya pada 1912, Muhammadiyah telah meletakkan fondasi kepemimpinan yang bersumber dari nilai-nilai profetik: transendensi, humanisasi, dan liberasi. Inilah yang kita kenal sebagai kepemimpinan profetik.
Kita hidup dalam era yang diwarnai oleh percepatan teknologi dan perubahan sosial yang nyaris tanpa kendali. Generasi muda Muhammadiyah tidak hanya berhadapan dengan krisis moral dan kerapuhan spiritual, tetapi juga ketimpangan penguasaan keterampilan yang dibutuhkan di era digital. Kemajuan teknologi memang membuka akses informasi, mempercepat interaksi, dan menciptakan peluang inovatif. Namun pada sisi lain, arus informasi yang deras juga membawa tsunami misinformasi, konten negatif, dan budaya instan yang menggerus nalar kritis dan etika kolektif.
Menurut laporan World Economic Forum (2023), lebih dari 60% anak muda mengakses konten digital lebih dari 7 jam per hari, sebagian besar berupa hiburan konsumtif dan opini dangkal tanpa pondasi literasi. Survei Kominfo (2022) bahkan menunjukkan bahwa 68% pemuda Indonesia belum memiliki literasi digital kritis-mulai dari etika digital, filter informasi, hingga tanggung jawab sosial.
Kita menyaksikan bagaimana banyak pemuda unggul dalam aspek teknis namun miskin orientasi nilai. Akibatnya, muncul figur-figur publik muda yang lebih fokus pada pencitraan diri ketimbang karakter dan kontribusi substantif. Mereka bergerak, tapi tanpa arah. Mereka populer, tapi tidak relevan secara moral.
Di tengah situasi ini, kita perlu menengok kembali apa yang dimaksud dengan kepemimpinan profetik. Kuntowijoyo menyebut bahwa kenabian memiliki tiga dimensi utama: transendensi (keterhubungan kepada Tuhan), humanisasi (penghormatan terhadap martabat manusia), dan liberasi (pembebasan dari penindasan dan kebodohan). Maka seorang pemimpin profetik adalah mereka yang menyatukan spiritualitas dengan kecakapan sosial dan visi pembebasan.
Muhammadiyah telah menyediakan instrumen ideologis dan praksis untuk menumbuhkan kepemimpinan model ini. Melalui Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), serta sistem kaderisasi di IPM, IMM, dan Pemuda Muhammadiyah, ditanamkan integrasi tiga dimensi utama:
Pertama, Spiritualitas: berakar pada tauhid, ibadah, dan akhlak mulia
Kedua, Keterampilan sosial-manajerial: adaptif dalam kerja kolektif dan organisasi
Ketiga, Pengetahuan dan keilmuan: menjadi ulul albab yang berpikir mendalam dan kontekstual
Ketiga aspek ini bukan hanya komplementer, tetapi harus menjadi satu kesatuan utuh. Tanpa spiritualitas, ilmu bisa jadi alat kesombongan. Tanpa keterampilan, idealisme akan lumpuh. Dan tanpa pengetahuan, gerakan menjadi tumpul dan kehilangan arah.
Proses pengkaderan di Muhammadiyah harus dirancang untuk membentuk pemimpin profetik yang visioner, kritis, dan memiliki integritas. Maka penting bagi kita untuk:
Pertama, Menguatkan pembinaan spiritual secara kontinyu: bukan hanya hafalan ritual, tapi pemaknaan mendalam terhadap tauhid sosial dan etika profetik.
Kedua, Menyelenggarakan pelatihan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan literasi digital agar kader siap menghadapi dunia nyata yang kompleks.
Keempat, Mendorong kajian kritis, riset sosial, dan diskusi publik sebagai latihan berpikir reflektif dan mendalam terhadap realitas.
Kelima, Membangun komunitas belajar yang progresif dan kolaboratif dengan pendekatan multidisiplin dan transdisiplin, sehingga kader tidak terjebak dalam sektarianisme berpikir.
Spiritualitas menjadi batas disorientasi berpikir, keterampilan menjadi alat gerak, dan pengetahuan menjadi kompas arah perjuangan. Kepemimpinan profetik bukanlah mitos idealistis, tapi tujuan praksis yang bisa diraih dengan kesungguhan dan sistem yang matang.
Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini adalah panggilan transformasi diri yang menjadi pondasi transformasi sosial. Kepemimpinan profetik bukan dimulai dari mimbar tinggi, tetapi dari keberanian untuk berubah dan membentuk diri dalam nilai.
Maka, kader muda Muhammadiyah harus tampil sebagai agen perubahan moral dan intelektual, bukan sekadar penggerak kegiatan. Dalam dunia yang dipenuhi kegaduhan digital, kita memerlukan pemimpin yang jernih dalam berpikir, tajam dalam bertindak, dan tulus dalam niat.
Inilah saatnya kita menyalakan kembali lentera tajdid-dengan spiritualitas yang hidup, keterampilan yang tajam, dan pengetahuan yang membebaskan.
Tags: Kepemimpinan Muhammadiyah Profetik
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP