Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta
Ketika anak-anak lain bebas memilih tas sekolah yang mereka inginkan, Isna kecil justru harus menabung sendiri dari uang jajannya untuk membeli tas barunya. Ia rela tidak jajan selama berhari-hari, belajar menekan keinginan demi memenuhi kebutuhannya sendiri. Dari situlah benih kemandirian dan ketangguhan itu mulai tumbuh. Sebuah tas mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi Isna kecil, ia adalah lambang perjuangan dan cita-cita. Ia belajar bahwa tidak semua hal bisa didapat dengan mudah—dan dari usia yang begitu dini, ia sadar bahwa usaha adalah jembatan menuju impian.
Lahir di Bantul pada 1 September 1988, Isna Ratnarahmawati tumbuh dalam keluarga guru yang sederhana. Ayah ibunya aktif dalam dunia pendidikan sekaligus organisasi kemuhammadiyahan. Suasana religius yang hangat menyelimuti masa kecilnya. Nilai-nilai Islam, kesederhanaan, dan rasa syukur menjadi napas kehidupan sehari-hari. Di rumah, ia diajarkan prinsip hidup: jika punya, bersyukur; jika tidak, tetap lapang dada. Kesederhanaan itu tidak membuatnya merasa kurang, justru membentuk karakter yang tangguh, tahan banting, dan rendah hati.
Pendidikan formalnya dimulai dari TK ABA, tempat ibunya juga mengabdi. Setiap pagi, ia dibonceng naik sepeda sejauh dua kilometer menuju sekolah. Dari TK hingga SMA, semangat belajarnya tidak pernah surut. Ia melanjutkan ke SD Negeri Pungkuran, lalu ke SMP Negeri 2 Pleret, dan SMAN 1 Sewon. Lingkungan pendidikan negeri dan swasta Muhammadiyah membuatnya terbiasa hidup dalam dua dunia: nilai-nilai spiritual dan tuntutan akademik. Meskipun berasal dari keluarga sederhana, ia tidak pernah merasa minder. Sebaliknya, ia selalu yakin bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib.
Kecintaan Isna terhadap dunia pendidikan membawanya melanjutkan studi ke Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Selama kuliah, ia sudah aktif mengajar. Dari mengajar mengaji di TPA dengan honor Rp5.000 per pertemuan, mengajar les Bahasa Inggris, hingga menjadi guru SD selama lebih dari tiga tahun. Ia tidak hanya mencari tambahan untuk biaya hidup, tetapi juga mulai menemukan makna sejati dari mengajar—yaitu berbagi ilmu dan membentuk karakter. Di tengah kesibukan akademik dan berbagai pekerjaan sambilan, Isna tetap menunjukkan ketekunan yang luar biasa.
Tahun 2013, ia lulus dari UNY dan langsung diterima mengajar di SMP Muhammadiyah Pleret. Sekolah ini bukan sekolah favorit. Jumlah siswanya masih sangat sedikit, fasilitas seadanya, dan tantangan datang dari berbagai arah. Ia mengajar dengan gaji hanya Rp360.000 per bulan, dan harus menghadapi murid-murid yang sulit diatur. Namun Isna tidak menyerah. Ia percaya, jika dijalani dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, semua akan berbuah manis pada waktunya.
Lebih dari sekadar mengajar di kelas, Isna juga turun langsung ke masyarakat untuk mencari murid baru. Ia menjelajah wilayah perbukitan, masuk ke rumah-rumah warga di daerah marginal, bahkan menyambangi kawasan tempat pembuangan sampah. Bersama tim promosi sekolah, ia menyapa keluarga demi keluarga, menawarkan pendidikan sebagai harapan masa depan anak-anak mereka. Sering kali mereka kalah bersaing dengan sekolah lain, tetapi ia tidak patah semangat. Ia yakin, sekolah yang kecil pun bisa tumbuh besar jika dikerjakan dengan sepenuh hati.
Tahun 2017 menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Saat mengikuti pelatihan Baitul Arqam, ia diminta menggambarkan cita-cita lima tahun ke depan. Di selembar kertas, ia menggambar dirinya berdiri di depan sekolah, bersama suami dan anak, serta menuliskan satu kata besar: S2. Siapa sangka, gambaran itu menjadi nyata. Ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris, dan lulus pada tahun 2020.
Tak berhenti di sana, Isna mulai dipersiapkan untuk mengemban amanah yang lebih besar. Pimpinan Daerah Muhammadiyah melihat potensi dan konsistensinya. Pada tahun 2022, ia diangkat menjadi Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah Pleret. Namun, tak lama setelah pelantikannya, ujian berat datang. Ayahnya, sosok yang selama ini menjadi sumber semangat dan panutan, wafat. Kehilangan itu sangat menguras emosi dan fisik. Berat badannya turun drastis, tetapi ia tetap berdiri. Dalam kesedihan yang dalam, ia tetap datang ke sekolah, tetap menyapa guru dan siswa, tetap menjalankan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepadanya.
Sebagai kepala sekolah perempuan, Isna menghadapi banyak tantangan. Dinamika antar guru, perbedaan pendapat dalam pengambilan kebijakan, hingga tuntutan administratif yang menumpuk. Namun, ia memilih untuk tidak melawan dengan kekuasaan. Ia hadir sebagai pemimpin yang mendengarkan, berdialog, dan mengajak semua pihak berjalan bersama. Ia percaya bahwa sekolah adalah rumah besar, dan kepala sekolah bukan raja, melainkan pelayan bagi warganya.
Di tengah kesibukannya, Isna tetap menjalankan peran sebagai istri dan ibu dari dua anak. Ia membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga tanpa kehilangan arah. Baginya, menjadi ibu rumah tangga tidak harus mengorbankan cita-cita. Justru dari keluargalah ia mendapat energi untuk terus berkontribusi dalam dunia pendidikan. Ia ingin menunjukkan bahwa perempuan bisa berdaya di ruang publik tanpa kehilangan identitas di ruang privat.
Isna Ratnarahmawati adalah contoh nyata bahwa ketekunan, kesabaran, dan niat baik bisa mengubah jalan hidup. Dari anak kecil yang menabung demi tas sekolah, kini ia menjadi pemimpin pendidikan yang menginspirasi. Karena bagi Isna, setiap mimpi—asal diiringi usaha dan doa—adalah doa terbaik yang suatu hari bisa terwujud nyata.
penulis: Saifun Rifki Adi Saputra
Tags: pendidikan kepalasekolah pleret
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP