Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah | Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY
Bulan suci Ramadhan selain sebagai bulan ibadah, sejatinya juga bulan pendidikan (syahrut tarbiyah) dengan segala proses belajar di dalamnya. Sebagai bulan pendidikan, Ramadhan diharapkan dapat memberikan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning) bagi umat Islam. Dalam teori pendidikan, konsep ini merujuk pada proses ketika pengalaman dan pengetahuan baru masuk ke dalam diri manusia bukan sekadar hapalan dan ritual belaka, lebih dari itu pembelajaran yang dialami terintegrasi ke dalam struktur kesadaran manusia. David Ausubel (1918-2008) adalah psikolog yang mengembangkan konsep ini dengan melihat proses belajar sebagai proses di mana informasi baru dihubungkan secara jelas dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah dimiliki. Dalam konteks ini, menurut Ausubel, pembelajaran tidak diposisikan sekadar sebagai proses menghafal informasi, namun lebih dari itu, memahami materi dan menghubungkannya dengan pengetahuan dan pengalaman sebelumnya.
Ramadhan sebagai Pembelajaran Bermakna
Bulan Ramadhan, jika dibaca melalui kacamata Ausubel, sejatinya bukanlah semata-mata rangkaian kewajiban ritual belaka, lebih dari itu, ramadan adalah kegiatan pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). Berbagai ritual yang ada dalam Ramadhan itu menjadi bermakna bukan karena ia diwajibkan, melainkan karena ia dialami dan dihubungkan dengan kesadaran yang sudah lebih dahulu tumbuh di dalam diri.
Dalam pemahaman kita dan tentu diajarkan sejak kecil, bahwa kesabaran, empati dan pengendalian diri adalah sifat dan sikap yang penting dalam kehidupan. Di bulan Ramadhan, nilai-nilai tersebut tidak sekadar diketahui, lebih dari itu, tetapi dialami secara langsung. Lapar dan haus membuat konsep empati terhadap kaum dhuafa tidak lagi serba abstrak dan teoritis, namun konkret. Itulah meaningful learning.
Puasa menciptakan jarak antara keinginan dan pemenuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita terbiasa merespons dorongan secara spontan, bila lapar segera makan, bila haus segera minum, bila marah segera meluap. Puasa memperkenalkan jeda. Dan dalam jeda itulah, manusia kemudian belajar bahwa ia tidak sepenuhnya ditentukan oleh nalurinya. Ia memiliki kemampuan untuk menahan, menimbang dan sekaligus memilih. Kebebasan, dalam konteks ini, bukanlah kemudian mengikuti semua dorongan nafsu, melainkan mengendalikannya.
Pengalaman menahan diri ini memiliki dimensi kognitif yang penting. Seseorang yang berpuasa belajar untuk melihat ulang relasi antara tubuh dan kehendak nafsu. Ia menyadari bahwa tubuhnya memiliki kebutuhan, namun dirinya tidak identik dan melekat dengan kebutuhan itu. Kesadaran semacam ini tidak lahir dari ceramah-ceramah agama, namun dari pengalaman eksistensial. Dalam bahasa pendidikan, inilah momen ketika pengalaman mengubah struktur pemahaman.
Namun puasa tentu tak berhenti pada dimensi individual dan personal belaka. Ia juga menyentuh ranah sosial. Rasa lapar yang biasanya bersifat privat, menjadi pengalaman kolektif selama Ramadhan. Dari sinilah tumbuh kesadaran bahwa kekurangan itu bukan sekadar data dan laporan statistik, tetapi kenyataan setiap hari yang dialami oleh sebagian manusia. Ketika seseorang merasakan lapar sepanjang hari, ia mendapatkan gambaran tentang kehidupan mereka yang tidak memiliki pilihan untuk berbuka dengan hidangan yang cukup. Empati yang lahir dari pengalaman semacam ini tentu berbeda dengan konsep empati yang hanya bersumber dari wacana. Ramadhan menyediakan ruang untuk pembiasaan itu melalui zakat, infak, dan sedekah yang intensif. Namun semua praktik itu hanya akan menjadi pembelajaran bermakna jika ia dipahami sebagai ekspresi kesadaran, bukan sekadar kewajiban administratif.
Selain empati, puasa juga melatih disiplin. Sahur sebelum fajar dan berbuka pada waktu yang ditentukan mengubah ritme hidup. Dalam dunia modern yang cenderung cair dan permisif, ritme ini menghadirkan struktur. Disiplin waktu dalam puasa bukan sekadar soal kepatuhan pada jadwal, melainkan latihan membangun konsistensi. Manusia belajar bahwa hidupnya dapat ditata, bahwa ada aturan yang tidak mengekang, tetapi justru membebaskan dari kekacauan dorongan yang tak terkendali.
Di titik ini, puasa memperlihatkan dirinya sebagai proses pembentukan karakter. Banyak orang mungkin mampu menahan lapar, tetapi tidak semua mampu menahan amarah, gosip, atau dorongan untuk berlaku tidak jujur. Rasulullah mengingatkan bahwa puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan dan perilaku. Dengan kata lain, puasa menuntut integrasi antara pengalaman fisik dan etika sosial. Tanpa integrasi itu, ia kehilangan maknanya.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah transformasi yang dihasilkan puasa bersifat sementara atau berkelanjutan. Pembelajaran yang bermakna tidak berhenti pada momen pengalaman; ia harus menembus waktu. Jika setelah Ramadhan seseorang kembali pada pola lama tanpa perubahan sikap, maka proses belajar itu belum sepenuhnya terjadi. Ia mungkin telah menjalankan ritual, tetapi belum menginternalisasi makna.
Takwa sebagai Tujuan
Al-qur’an memberikan arah yang jelas mengenai tujuan puasa. Dalam QS. Al-Baqarah [2]: 183 ditegaskan: “La‘allakum tattaqūn” , agar kamu bertakwa. Ayat ini menandaskan capaian pembelajaran (learning outcome) yang hendak dicapai. Bahwa lapar bukan tujuan, bukan pula penurunan berat badan. Lebih dalam dari itu, tujuan utama puasa adalah takwa sebagai suatu kesadaran moral dan spiritual. Dengan demikian, puasa sejak awal dirancang sebagai proses pembentukan kesadaran. Ia bukanlah aktivitas biologis belaka.
Lapar dan dahaga memang menjadi pengalaman paling kasat mata dalam puasa. Namun pengalaman biologis itu sejatinya hanya pintu masuk. Artinya, jika berhenti pada rasa lapar dan dahaga, puasa akan menjadi sekadar latihan fisik yang dibungkus simbol religius. Ia baru menjadi bermakna ketika rasa lapar itu dipikirkan, direnungkan dan dihubungkan dengan sesuatu yang lebih dalam. Dalam Al-Baqarah [2]: 185 ditegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, “hudan linnās”, petunjuk bagi manusia. Maka Ramadhan itu adalah ruang dimana teks suci dan pengalaman hidup dipertemukan. Lapar menjadi konteks dan wahyu menjadi orientasi utama.
Akhirnya, sebagai bagian dari bulan pendidikan dan pembelajaran, Ramadhan patut diisi dengan berbagai aktivitas pedagogis yang membina diri agar menjadi pribadi yang bertakwa. Di mana ritual dijadikan sebagai instrumen pembiasaan guna melahirkan kesadaran. Dengan kesadaran seperti inilah, maka Ramadhan tak akan berlalu begitu saja.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP