Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta
Yogyakarta — “Industri butuh lulusan yang siap belajar, proaktif, dan tidak baperan,” kata M. Afi Prabowo, selaku Business Manager NASMOCO, saat berbicara di saresehan Kick Off Penelitian Budaya Industri untuk SMK yang diselenggarakan PUNDI di Burza Hotel, Senin (25/5). Acara ini mengumpulkan seluruh kepala SMK dari DIY untuk membahas kesenjangan antara sekolah dan dunia usaha.
Afi menyoroti perbedaan tuntutan sekolah dan industri: sekolah menekankan simulasi, teori, dan nilai akademik, sedangkan industri menilai fokus pada hasil kerja, problem solving nyata, dan kerja tim. Ia merekomendasikan pendekatan link-and-match yang lebih erat, pembaruan teknologi di sekolah, dan peningkatan kemampuan digital serta bahasa untuk meningkatkan daya serap lulusan.
Pandangan ini diperkuat oleh Prof. Dr. Fatwa Tentama, yang menyatakan bahwa employability skills seperti komunikasi, disiplin, dan work ethic tidak dapat ditangani sepenuhnya oleh pelatihan di tempat kerja; pembentukan karakter tersebut harus dimulai di sekolah. Keduanya sepakat bahwa teaching factory perlu diperkuat dan distandarisasi untuk mencerminkan praktik industri nyata.
Diskusi juga menyinggung program korporasi seperti Toyota T-Tep yang sudah menjalankan pelatihan guru dan siswa serta pengembangan teaching factory. Menurut peserta, kolaborasi semacam ini dapat menjadi model pengurangan gap antara kompetensi lulusan SMK dan kebutuhan industri.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP