Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta
JAKARTA - Maraknya konferensi ilmiah yang diragukan validitasnya menjadi perhatian dalam dunia pendidikan tinggi. Di tengah meningkatnya tuntutan publikasi ilmiah sebagai syarat pengembangan karier dosen, muncul kekhawatiran bahwa sebagian forum akademik justru dimanfaatkan sebagai bisnis yang mengedepankan keuntungan finansial dibandingkan dengan kualitas ilmiah. Hasil investigasi Kompas menunjukkan adanya dugaan keterlibatan sejumlah akademisi dalam penyelenggaraan maupun promosi konferensi yang terindikasi sebagai konferensi predator.
Fenomena tersebut berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan akademisi untuk memperoleh angka kredit sebagai dasar kenaikan pangkat. Salah satu jalur yang banyak dipilih adalah publikasi melalui prosiding konferensi karena dinilai lebih mudah dibandingkan dengan menerbitkan artikel pada jurnal ilmiah bereputasi. Kondisi ini kemudian membuka ruang tumbuhnya penyelenggara konferensi yang menawarkan publikasi secara cepat dengan standar akademik yang dipertanyakan.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menyebut konferensi predator memiliki sejumlah indikator, antara lain mengangkat tema yang terlalu luas, mencatut nama pakar tanpa persetujuan, menerapkan proses telaah sejawat (peer review) yang minim, serta memiliki profil penyelenggara yang tidak bereputasi. Karakteristik tersebut dinilai dapat mengurangi kredibilitas publikasi ilmiah sekaligus merugikan peserta yang mengikuti konferensi.
Berangkat dari informasi pada situs agregator International Conference Alert, tim investigasi Kompas menelusuri penyelenggaraan The 2nd International Academic Conference on Teaching Education and Recent Learning Technologies (ICTERLT) 2026 yang dijadwalkan berlangsung secara hibrida pada 17–18 Juni 2026 di Hotel Ciputra, Jakarta.
Berdasarkan hasil investigasi Kompas, tidak ditemukan aktivitas konferensi di Hotel Ciputra pada hari kedua pelaksanaan yang dijadwalkan. Tidak terlihat spanduk, poster, meja registrasi, maupun keramaian peserta di area ballroom. Manajemen hotel juga menyatakan tidak terdapat agenda konferensi tersebut.
“Untuk acara tersebut tidak ada di Hotel Ciputra,” kata Direktur Sales dan Marketing Hotel Ciputra, Kigunawan, sebagaimana dikutip dalam hasil investigasi Kompas.
Hasil penelusuran juga menemukan nama Guru Besar Universitas Jambi berinisial AM tercantum sebagai conference chair, sedangkan dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung berinisial FR tercatat sebagai conference co-chair. Saat dimintai konfirmasi, AM melalui Ketua Tim Kerja Humas Universitas Jambi, Tri Imam Munandar, menyatakan belum bersedia memberikan keterangan.
“Saat ini Prof. AM belum bersedia dikonfirmasi,” ujar Tri Imam Munandar.
Sementara itu, FR menyatakan terkejut ketika mengetahui namanya dicantumkan sebagai wakil ketua konferensi.
“Itu bisa dikatakan sebetulnya mencatut nama saya di dalam konferensi tersebut,” ujar FR.
Dalam investigasi tersebut, ICTERLT juga tercatat mengundang Associate Professor JFD sebagai pembicara utama. Pimpinan Universitas Sugeng Hartono Sukoharjo, Jawa Tengah, itu mengaku menerima undangan melalui surat elektronik dan mengira konferensi hanya berlangsung secara virtual.
“Saya lihat dari materinya, tidak ada dari Indonesia,” ujarnya.
Penelusuran Kompas juga menemukan adanya ketidakkonsistenan identitas penyelenggara Institute for Educational Research and Publication (IFERP). Sedikitnya terdapat empat situs berbeda yang menggunakan identitas IFERP. Dua diantaranya memuat informasi mengenai ICTERLT, sementara situs lain menampilkan kepanjangan IFERP yang berbeda, yakni Institute for Educational Research and Publication dan Institute for Engineering Research and Publication. Selain itu, alamat kantor yang dicantumkan juga berbeda-beda meskipun seluruhnya berada di India. Upaya konfirmasi yang dilakukan Kompas kepada IFERP terkait berbagai kejanggalan tersebut tidak memperoleh tanggapan.
Selain dugaan penyelenggaraan konferensi, investigasi Kompas juga menyoroti dugaan keterlibatan aktif Guru Besar Universitas Negeri Jakarta berinisial SH dalam sejumlah konferensi yang dinilai meragukan. Nama SH tercatat pada tiga konferensi berbeda, salah satunya yang diselenggarakan oleh Indonesian Financial Management Association (IFMA), organisasi yang turut didirikannya.
Pada situs IFMA, SH mencantumkan tujuh akademisi luar negeri sebagai anggota dewan penasihat. Salah satunya adalah Associate Professor National University of Singapore, Anand Srinivasan. Saat dikonfirmasi melalui surat elektronik, Anand menyatakan tidak memiliki hubungan dengan IFMA.
“Dia pernah mengirim surel ke saya berkisar 8–10 tahun lalu untuk jadi pembicara. Namun, tidak pernah ada tindak lanjut setelah itu. Hingga saya berasumsi dia menemukan sosok lain,” ujar Anand.
Pernyataan tersebut dibantah oleh SH. Ia menyatakan pernah bertemu Anand di Singapura pada periode 2007–2012 dan menawarkan posisi sebagai dewan penasihat IFMA, yang menurutnya diterima secara lisan.
“Saya pernah menawarinya menjadi dewan penasihat IFMA saat bertemu di Singapura. Ia mengiyakan,” ujar SH.
Temuan investigasi Kompas tersebut memperlihatkan bahwa persoalan konferensi ilmiah predator tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan forum akademik, tetapi juga menyangkut tata kelola publikasi ilmiah, kredibilitas lembaga penyelenggara, serta perlindungan terhadap integritas akademik. Di tengah meningkatnya tuntutan publikasi bagi dosen dan peneliti, penguatan mekanisme verifikasi penyelenggara konferensi, transparansi proses peer review, serta kehati-hatian dalam penggunaan identitas akademisi menjadi bagian penting untuk menjaga kualitas ekosistem pendidikan tinggi dan kepercayaan terhadap hasil-hasil penelitian.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP