Penikmat kopi asal Jepara, alumni Ilmu Hadis UAD. Aktif di PUNDI, IMM Yogyakarta, belajar di JIMM, dan gemar mendaki gunung.
Beberapa waktu terakhir, media sosial dipenuhi perbincangan mengenai ungkapan "membaca adalah hobinya orang have". Dalam bahasa gaul, orang have merujuk pada mereka yang memiliki privilege, baik berupa akses, waktu, lingkungan, maupun kemampuan ekonomi. Oleh karena itu, meme tersebut menyiratkan bahwa membaca bukan lagi aktivitas yang mudah dilakukan oleh semua orang, melainkan lebih dekat dengan mereka yang memiliki berbagai kemudahan.
Fenomena ini lahir bukan tanpa sebab. Ia muncul bersamaan dengan berbagai keresahan publik mengenai mahalnya harga buku, beban pajak terhadap industri perbukuan, terbatasnya akses terhadap bahan bacaan berkualitas, hingga kebijakan efisiensi anggaran yang turut menyentuh sektor pendidikan. Di tengah kondisi tersebut, membaca perlahan dipersepsikan sebagai aktivitas yang membutuhkan modal ekonomi dan sosial.
Dengan demikian, meme tersebut adalah gambaran dari keresahan masyarakat terhadap kondisi literasi Indonesia, termasuk kritik terhadap negara yang masih pincang dalam membangun ekosistem literasi dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan dasar masyarakat.
Masalah utama Indonesia bukan rendahnya kemampuan membaca, tetapi belum terbentuknya budaya membaca.
Selama ini, pendidikan lebih banyak mengajarkan kemampuan teknis membaca daripada menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya membaca. Di sekolah, membaca identik dengan tugas, rangkuman, dan persiapan ujian. Setelah lulus, kebiasaan tersebut perlahan menghilang karena membaca hanya menjadi bagian dari kegiatan formal di kelas dan tidak pernah tumbuh menjadi kesadaran pribadi.
Di sisi lain, ruang publik juga belum sepenuhnya mendukung lahirnya budaya literasi. Perpustakaan belum menjadi ruang hidup masyarakat, sementara taman baca masih terbatas. Akibatnya, membaca dipandang sebagai aktivitas tambahan, bukan bagian dari kebutuhan sehari-hari.
Di sisi lain, tuntutan kerja yang sangat padat di Indonesia membuat banyak orang kesulitan meluangkan waktu untuk membaca sebagai bentuk upgrade diri. Ditambah lagi, ruang digital lebih menarik perhatian masyarakat karena dipenuhi konten hiburan daripada pengetahuan.
Hal ini menjadi bukti bahwa pemerintah belum serius menjadikan kegiatan membaca sebagai kebutuhan primer melalui kebijakan dan program yang berkelanjutan.
Budaya membaca tidak lahir dengan sendirinya, melainkan dibangun melalui kebijakan publik dan program yang membentuk ekosistem literasi yang kuat.
Jepang menjadi salah satu contoh bagaimana negara berperan aktif membentuk budaya membaca masyarakat. Pemerintah tidak hanya menyediakan perpustakaan, tetapi juga menghadirkan ruang baca di berbagai fasilitas publik, seperti stasiun kereta, taman kota, hingga pusat transportasi. Waktu menunggu kereta atau kendaraan umum dimanfaatkan masyarakat untuk membaca karena lingkungan memang mendukung kebiasaan tersebut.
Selain itu, masyarakat Jepang mengenal istilah “tsundoku”, yaitu kebiasaan membeli dan mengoleksi buku meskipun belum sempat dibaca. Fenomena ini menunjukkan bahwa buku telah menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Hal serupa terlihat di Finlandia. Negara ini membangun budaya membaca sejak usia dini dengan menjadikan keluarga sebagai fondasi pendidikan. Tradisi membacakan dongeng sebelum tidur, perpustakaan yang mudah diakses, serta media berbahasa asing yang menggunakan subtitle membiasakan anak-anak membaca dalam kehidupan sehari-hari. Sistem pendidikan yang menekankan bermain, imajinasi, dan self-discovery juga membuat anak mencintai proses belajar tanpa tekanan.
Finlandia telah membuktikan hasil dari revolusi pendidikannya. Dengan metode tersebut, anak-anak dapat belajar tanpa tekanan sehingga lahir generasi yang cerdas dan memiliki budaya membaca yang kuat.
Di Inggris, budaya membaca dipelihara melalui kebiasaan sederhana, seperti reading day di sekolah dan penyediaan pojok baca di setiap kelas. Berbagai praktik tersebut menunjukkan bahwa minat baca tidak tumbuh secara kebetulan, melainkan melalui kebijakan, lingkungan, dan pembelajaran yang tersistem.
Pelajaran penting dari beberapa negara di atas adalah bahwa masyarakat yang gemar membaca tidak lahir begitu saja, tetapi karena adanya peran negara yang secara serius menyediakan akses, ruang, serta kebijakan ekonomi dan politik yang menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Islam menempatkan membaca sebagai kebutuhan primer manusia sebagaimana wahyu pertama yang diturunkan dalam kitab suci umat Islam, yaitu perintah "Iqra" (bacalah) sebagaimana termaktub dalam QS. Al-'Alaq ayat 1.
Dalam perspektif Islam, membaca tidak terbatas pada teks tertulis. Membaca berarti membangun kesadaran dan cara berpikir karena di dalamnya terdapat proses memahami alam, sejarah, masyarakat, dan diri sendiri.
Karena itu, ketika membaca hanya dapat dilakukan oleh kelompok tertentu (orang have) akibat keterbatasan akses, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya budaya literasi, melainkan juga masa depan peradaban bangsa.
Jika ditelusuri lebih jauh, semangat menjadikan membaca sebagai kebutuhan hidup sebenarnya telah lama menjadi ruh gerakan pembaruan Islam di Indonesia. K.H. Ahmad Dahlan meyakini bahwa kemunduran umat disebabkan oleh rendahnya kualitas pendidikan dan minimnya tradisi keilmuan. Karena itu, pembaruan yang beliau lakukan melalui Muhammadiyah selalu dimulai dari pendidikan.
Hal itu tampak dari cara beliau mengajarkan Surah Al-Ma'un kepada murid-muridnya. Beliau tidak berhenti pada pembacaan teks, tetapi mendorong mereka untuk membaca realitas sosial, memahami penderitaan kaum miskin, lalu menghadirkan tindakan nyata sebagai wujud pengamalan ajaran Islam. Dengan demikian, membaca dalam perspektif Ahmad Dahlan selalu berujung pada proses membangun kesadaran dan perubahan sosial.
Semangat tersebut juga terlihat dalam pemikiran Buya Ahmad Syafii Maarif. Dalam berbagai tulisannya, Buya berulang kali menegaskan bahwa bangsa yang kehilangan tradisi membaca dan berpikir kritis akan sulit keluar dari kemiskinan intelektual, sekalipun memiliki sumber daya alam yang melimpah. Menurut Buya, pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan lulusan yang pandai menghafal, tetapi harus melahirkan manusia yang memiliki rasa ingin tahu, kebebasan berpikir, dan keberanian mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan.
Karena itu, meme "membaca adalah hobinya orang have" mungkin lahir sebagai candaan sekaligus sindiran yang merefleksikan keresahan masyarakat terhadap cara negara membangun ekosistem dan budaya membaca di Indonesia. Apabila membaca mulai dipersepsikan sebagai hobi orang yang memiliki privilege (have), hal itu menandakan adanya persoalan serius yang harus segera dibenahi.
Sudah saatnya negara menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pendidikan. Negara harus serius membangun pendidikan, baik formal maupun kultural. Sebab, bangsa yang besar dibangun oleh masyarakat yang menjadikan membaca sebagai kebutuhan hidup.
Dalam perspektif Islam, peradaban bahkan dimulai dari satu kata, "Iqra". Maka, membaca tidak boleh berhenti menjadi hobi segelintir orang have, melainkan harus menjadi hak sekaligus kebutuhan setiap warga negara.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP