25/08/2026 61

Psikologi Tidak Selalu Condong Ke Barat! Belajar Memahami Dari Perspektif Islam

author photo
By Fajar Nurisa Khoirini

Seorang Guru Bimbingan dan Konseling (BK) memiliki ketertarikan di bidang psikologi dan pendidikan.

Menjadi membuat saya memiliki kegelisahan sederhana yang terus muncul dalam proses belajar: mengapa ketika membicarakan psikologi, kita sering kali lebih akrab dengan teori-teori yang lahir dari Barat daripada dengan khazanah Islam sendiri? Pertanyaan tersebut muncul bukan karena saya ingin menolak psikologi Barat. Justru saya menyadari perkembangan psikologi modern tidak lepas dari kontribusi ilmuwan Barat. Teori kepribadian, kognisi, perkembangan, perilaku, motivasi, hingga hubungan sosial yang  berkembang dari Barat membantu memahami manusia secara sistematis.

Ketika berproses dan belajar psikologi, saya menyadari manusia tidak dapat dipahami melalui satu sudut pandang. Apalagi ketika manusia dibicarakan adalah manusia yang hidup dalam lingkungan sosial dan budaya dominan islam di Indonesia. Sebagai mahasiswa, terlintas pertanyaan apakah konsep manusia yang berkembang dalam psikologi modern sudah cukup untuk menjelaskan manusia secara utuh? Pertanyaan ini bukan untuk mencari siapa yang paling benar tetapi menjadi pintu untuk belajar lebih kritis.

Ketika Manusia Hanya Dipahami Dari Apa Yang Terlihat

Psikologi modern membantu memahami perilaku dan proses mental manusia. Perilaku seseorang dipengaruhi pengalaman, kebutuhan, pola pikir, lingkungan, hubungan sosial, dan faktor lainnya. Bagi saya, ada sesuatu yang menarik ketika teori tersebut dilihat dari perspektif Islam. Manusia dari perspektif islam tidak hanya dipandang sebagai makhluk yang hanya berpikir dan berperilaku tetapi juga memiliki dimensi spiritual. Ada pembahasan mengenai nafs, qalb, 'aql, dan ruh. Manusia tidak hanya memiliki hubungan dengan dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya, tetapi juga memiliki hubungan dengan Tuhan.

Di sini saya melihat ada ruang untuk mengembangkan psikologi Islam. Ketika seorang mengalami kegagalan, secara psikologis, kita bisa melihat bagaimana ia menilai kegagalan tersebut, bagaimana pikirannya, bagaimana dukungan sosial dan bagaimana ia mengelola emosinya. Namun, bagi seorang muslim ada pertanyaan yang juga muncul: Bagaimana ia memaknai kegagalan di hadapan Allah? Bagaimana ia memahami ikhtiar dan tawakal? Apakah kegagalan membuatnya merasa tidak berharga? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan pengalaman psikologis manusia bersinggungan dengan keyakinan dan spiritualitas.

Bukan Menolak Barat, Tetapi Tidak Bergantung Sepenuhnya

Bagi saya, persoalannya, bukan terkait psikologi Barat harus ditolak atau diterima. Namun, apakah kita sebagai mahasiswa mampu menggunakan ilmu tersebut secara kritis. Teori psikologi bukanlah sesuatu yang harus diterima begitu saja. Setiap teori lahir dari latar belakang sejarah, budaya, masyarakat, dan pemikiran. Ketika teori tersebut digunakan untuk memahami masyarakat Indonesia, kita perlu bertanya: apakah seluruh konsepnya sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia yang memiliki keberagaman mulai dari keluarga, agama, budaya, komunitas, dan nilai sosial. Di Indonesia, agama bukan sekadar aktivitas ritual, tetapi bagian dari cara memahami kehidupan, mengambil keputusan, menghadapi masalah, bahkan menentukan tujuan hidup. Jika demikian keadaan di lapangan, rasanya kurang lengkap apabila psikologi hanya melihat manusia dari sisi individual tanpa mempertimbangkan konteks nilai dan spiritualitasnya. Bagi saya, belajar psikologi Islam justru mengajarkan bahwa boleh belajar dari Barat, tetapi juga harus berani berpikir dari identitas kita sendiri.

Islam Bukan Sekadar Tambahan dalam Psikologi

Ada hal penting menurut saya yang perlu diperhatikan: jangan sampai psikologi Islam hanya menjadi psikologi Barat yang kemudian diberi tambahan ayat Al-Qur’an atau hadis sebagai pelengkap. Jika Membangun psikologi islam semestinya berawal dari perspektif Islam mengenai manusia, kemudian berdialog dengan perkembangan psikologi modern. Nilai-nilai sabar, syukur, tawakal, muhasabah, dan ikhlas tidak hanya dipahami secara normatif, tetapi juga dikaji secara ilmiah untuk melihat kaitannya dengan kehidupan psikologis manusia. Agama dan ilmu tidak harus dipertentangkan. Keduanya bisa berdialog dan saling memperkaya memahami manusia secara lebih utuh.

Menjadi Mahasiswa yang Tidak Sekadar Menghafal Teori

Bagi saya, menjadi mahasiswa psikologi bukan sekadar menghafalkan nama tokoh dan teori. Kita perlu belajar bertanya. Mengapa teori tersebut muncul? Konteks pada masyarakat seperti apa? Apakah teori tersebut relevan dengan masyarakat kita? Apa yang belum mampu dijelaskan? Apakah ada perspektif lain yang dapat memperkaya pemahaman kita Pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru membuat proses belajar menjadi lebih hidup. Sebagai mahasiswa Psikologi Islam, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menjadi pengguna teori, tetapi  menjadi generasi yang berani mengembangkan ilmu, tidak perlu minder karena banyak teori besar dari Barat. Kita harus percaya terhadap kekayaan intelektual Islam.

Sejarah peradaban Islam mengenal pembahasan mengenai jiwa, akhlak, pendidikan, dan perilaku manusia jauh sebelum psikologi modern berkembang sebagai disiplin ilmu. Tokoh-tokoh seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Ibnu Miskawaih memiliki pemikiran yang menarik untuk dikaji pada konteks ilmu manusia. Pemikiran tokoh tersebut tentu tidak bisa langsung disamakan dengan psikologi modern, di situlah tantangannya: bagaimana kita membaca kembali khazanah tersebut secara kritis dan menghubungkannya dengan kebutuhan manusia masa kini.

Psikologi yang Lebih Dekat dengan Manusia Indonesia

Pada akhirnya, saya tidak ingin psikologi Islam dipahami sebagai usaha untuk membenturkan Islam dengan Barat. Bagi saya, psikologi Islam adalah cara untuk memperluas bagaimana kita melihat manusia. Melihat manusia tidak hanya dari perilaku, kapasitas pola pikir, kemampuan meregulasi emosi dan bersosial saja. Manusia memiliki dimensi yang sangat kompleks, oleh karena itu, ilmu yang mempelajari manusia seharusnya memiliki keberanian melihat kompleksitas tersebut.

Sebagai mahasiswa yang berada pada tahap belajar dan mencari jawaban saya menemukan satu keyakinan: Kita tidak selalu melihat manusia melalui kacamata Barat untuk menjadi ilmiah. Kita dapat belajar dari Barat tanpa kehilangan identitas. Kita menghargai penelitian modern tanpa menutup mata pada khazanah Islam. Kita menggunakan metode ilmiah sekaligus membuka ruang bagi nilai dan spiritualitas.

Sebab, menjadi ilmuwan bukan berarti berhenti mempertanyakan. Menjadi mahasiswa bukan berarti hanya menerima dan belajar psikologi bukan berarti harus memilih satu perspektif lalu menutup pintu terhadap perspektif lainnya. Sudah saatnya kita tidak lagi bertanya, “Apakah psikologi harus Barat atau Islam?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Bagaimana kita membangun ilmu psikologi yang mampu memahami manusia secara ilmiah, kritis, kontekstual, sekaligus tidak kehilangan dimensi kemanusiaan dan spiritualnya?” Bagi saya, perjalanan sebagai mahasiswa adalah perjalanan untuk terus mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, itulah bagian paling menarik dari belajar psikologi.


Prev Post

Kemerdekaan dan Keadilan Ekonomi bagi Guru: Kajian Kritis terhadap Problematika Penghasilan Guru

Next Post

Sekolah, Mau Berubah atau Tertinggal !

BACK TO TOP