25/08/2026 17

Sekolah, Mau Berubah atau Tertinggal !

author photo
By Farid Setiawan

Direktur Pegiat Pendidikan Indonesia. Anggota Dewan Pendidikan DIY. Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan.

Dunia kerja sampai saat ini tidak pernah berjanji akan tetap sama. Teknologi berkembang, jenis pekerjaan bergeser, cara bekerja berubah, dan keterampilan yang dibutuhkan terus bergerak. Murid yang hari ini duduk di ruang kelas akan memasuki dunia kerja yang mungkin belum sepenuhnya terbentuk ketika mereka lulus. Karena itu, pertanyaan hari ini bukan lagi sekadar apa yang harus diajarkan, melainkan apakah sekolah di Indonesia sudah bergerak secepat perubahan di luar sana?

Kegelisahan itu bukan sekadar bayangan tentang masa depan. Penelitian Sari et al. (2025) menunjukkan adanya hubungan positif antara relevansi pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Kajian tersebut juga menekankan pentingnya kurikulum berbasis kompetensi, penguatan keterampilan teknis dan nonteknis, pengembangan budaya industri, serta pengalaman praktis seperti praktikum dan magang. Konteks penelitian ini memang terbatas, tetapi pesannya relevan bagi pendidikan di Indonesia, yakni sekolah tidak boleh berjalan terlalu jauh dari kehidupan yang kelak akan dijalani murid.

Persoalannya menjadi semakin kompleks ketika pendidikan berhadapan dengan perubahan teknologi dan struktur pekerjaan. Lauder dan Mayhew (2020) menunjukkan ekosistem pendidikan tidak selalu berjalan seiring dengan pertumbuhan pekerjaan berkualitas tinggi, sementara perkembangan teknologi membuat hubungan antara pendidikan dan pekerjaan semakin sulit diprediksi. Pendidikan yang semakin tinggi pun tidak otomatis menjamin seseorang memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasinya. Sekolah, karena itu, perlu menyiapkan murid bukan hanya untuk memperoleh pekerjaan, tetapi juga untuk menghadapi perubahan yang menyertai perjalanan profesional mereka di masa depan.

Sekolah Harus Bergerak

Kondisi tersebut membuat arah perubahan kebijakan pendidikan nasional semakin penting. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menunjukkan perhatian serius terhadap relevansi pendidikan dengan kebutuhan masa depan, termasuk penguatan kompetensi dan kesiapan murid dalam menghadapi kehidupan setelah sekolah. Arah kebijakan ini patut diapresiasi karena memperlihatkan kesadaran bahwa pendidikan tidak mungkin bisa berjalan sendiri ketika kehidupan sosial dan ekonomi terus bergerak. Pemerintah sejauh ini telah membuka banyak jalan perubahan, dan tantangan berikutnya adalah memastikan sekolah benar-benar melangkah.

Langkah itu tidak berarti sekolah selama ini diam. Banyak sekolah telah berinovasi, sementara banyak guru bekerja keras mencari cara yang lebih baik untuk mendidik murid. Yang perlu dikoreksi adalah kebiasaan ketika keberhasilan pendidikan terlalu mudah diukur melalui materi yang selesai, tugas yang terkumpul, ujian yang terlaksana, nilai yang diperoleh, dan kelulusan yang dicapai. Semua unsur tersebut tetap penting, tetapi pendidikan menjadi terlalu sempit jika proses belajar akhirnya berhenti pada angka dan ijazah.

Murid dapat memperoleh nilai tinggi, tetapi belum tentu terbiasa menyelesaikan persoalan nyata, bekerja dengan orang lain, berkomunikasi secara efektif, atau menerima umpan balik dengan bijak. Padahal, kajian tentang pendidikan karier selalu menunjukkan pentingnya komunikasi, pemecahan masalah, berpikir kritis, kerja sama, dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi dunia kerja. Persoalannya bukan sekolah terlalu banyak mengajarkan pengetahuan, melainkan pengetahuan itu belum selalu diterjemahkan menjadi kemampuan dan kebiasaan yang berguna dalam kehidupan murid.

Di sinilah budaya industri dapat menjadi salah satu jembatan antara sekolah dan dunia kerja. Budaya industri pada dasarnya adalah kebiasaan menyelesaikan pekerjaan dengan standar yang jelas, bertanggung jawab terhadap hasil, menghargai waktu dan mutu, mampu bekerja bersama, serta terbuka untuk memperbaiki kesalahan. Konsep ini tidak berarti sekolah berubah menjadi perusahaan atau menjadikan keuntungan sebagai ukuran pendidikan. Sekolah justru dapat mengambil nilai terbaik dari dunia kerja untuk membentuk kebiasaan belajar dan bekerja yang bertanggung jawab.

Budaya tersebut tidak cukup disampaikan melalui ceramah. Murid perlu mengalaminya dalam keseharian, seperti menyelesaikan tugas sesuai standar, menjaga kualitas pekerjaan, bekerja dalam tim, menyelesaikan persoalan, menerima kritik, dan memperbaiki kesalahan. Pengalaman praktis seperti magang, pendampingan, pengalaman kerja, dan kolaborasi dengan dunia industri dapat mempertemukan pengetahuan teoretis dengan situasi nyata. Dengan demikian, budaya industri bukanlah mata pelajaran tambahan, melainkan kebiasaan baik yang tumbuh melalui pengalaman belajar di sekolah.

Karena itu, pendidikan karier perlu berjalan seiring dengan pembentukan budaya tersebut. Career education, atau pendidikan karier, bukan berarti meminta anak menentukan profesi sejak dini, melainkan membantu mereka mengenal diri, memahami berbagai pekerjaan, melihat perubahan lingkungan, dan menemukan kemungkinan masa depan yang lebih luas. Kajian yang ditelaah oleh banyak akademisi menunjukkan bahwa pendidikan karier dapat memperkuat kesadaran karier, pengambilan keputusan, employability (seperti kemampuan memperoleh dan mengembangkan pekerjaan) serta career adaptability, yaitu kemampuan menyesuaikan diri ketika arah pekerjaan berubah. Anak tidak perlu segera menentukan masa depannya. Mereka perlu diberi kesempatan untuk mengenal luasnya kemungkinan masa depan.

Berubah Sebelum Tertinggal

Langkah berikutnya adalah membawa pengalaman tersebut lebih dekat ke kehidupan. Proyek nyata, pemecahan masalah, simulasi pekerjaan, kunjungan profesi, pendampingan praktisi, praktik, dan pengalaman kerja yang sesuai dengan jenjang dapat membuat murid melihat hubungan antara pengetahuan dan kehidupan. Keterhubungan dengan profesional, alumni, mentor, serta dunia kerja juga dapat memperluas wawasan tentang profesi dan pilihan masa depan murid. Karenanya, sekolah dalam hal ini tidak perlu meniru seluruh cara kerja di perusahaan. Yang dibutuhkan sekolah adalah menghadirkan pengalaman yang membuat pengetahuan terasa hidup dan berguna.

Hubungan sekolah dengan dunia kerja pun perlu dibangun secara dua arah. Sekolah perlu memahami perubahan profesi dan kebutuhan kompetensi, sementara dunia kerja perlu memahami bahwa pendidikan memiliki mandat yang lebih luas daripada menyediakan tenaga kerja. Studi yang dilakukan Salas-Velasco (2021) menunjukkan adanya education-job mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan, baik karena tingkat pendidikan tidak sejalan dengan tuntutan pekerjaan maupun bidang studi tidak berkaitan dengan pekerjaan yang dijalankan. Temuan tersebut mengingatkan bahwa kedekatan dengan dunia kerja penting, tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan kebebasannya untuk membangun manusia secara utuh sesuai bakat, minat dan potensinya.

Pengalaman di China memberi satu peringatan yang patut direnungkan. Riset yang dilakukan Wang (2023) menemukan lulusan vokasi dalam konteks yang mereka teliti memperoleh hasil pasar kerja yang kurang menguntungkan dibandingkan lulusan jalur akademik. Temuan itu memang tidak dapat dipindahkan begitu saja ke Indonesia, tetapi memberikan pelajaran penting, yakni kedekatan pendidikan dengan kebutuhan industri tidak otomatis menjamin pekerjaan yang adil, aman, dan bermutu. Sekolah perlu menyiapkan kompetensi, sementara pemerintah dan dunia kerja juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem pekerjaan yang menghargai kompetensi tersebut.

Dengan demikian, tujuan pendidikan tidak cukup dirumuskan sebagai siap kerja. Dalam konteks ini, satu hal yang lebih penting justru kemauan dan kesiapan untuk berubah. Siap kerja menjawab pertanyaan tentang hari ini, sedangkan siap berubah menjawab pertanyaan tentang hari esok. Murid mungkin memasuki dunia kerja dengan satu keterampilan, tetapi perjalanan profesionalnya tidak berhenti pada keterampilan tersebut karena teknologi, organisasi, kebutuhan masyarakat, dan jenis pekerjaan dapat terus bergeser.

Di sinilah kemampuan belajar kembali menjadi bekal yang tidak mudah kedaluwarsa. Pendidikan karier menempatkan kemampuan beradaptasi dan pembelajaran sepanjang hayat sebagai bagian penting dalam menghadapi tuntutan pekerjaan yang terus bergerak. Seseorang murid yang hanya menguasai satu keterampilan mungkin siap untuk satu pekerjaan. Tetapi mereka yang mampu belajar, beradaptasi, dan memecahkan masalah memiliki peluang lebih besar untuk tetap bertumbuh ketika keadaan berubah. Sekolah memang tidak perlu meramalkan pekerjaan di masa depan. Sekolah hanya perlu menyiapkan manusia yang mampu mengelola hidup dan kehidupannya dalam menghadapi masa depan.

Di sinilah kebijakan pendidikan menemukan ujian sesungguhnya. Kementerian dapat mengubah arah kebijakan, tetapi sekolah mengubahnya menjadi pengalaman di kelas. Perubahan pendidikan tidak selesai dalam dokumen atau program. Ia baru terasa ketika murid belajar lebih bertanggung jawab, bekerja lebih bermutu, mampu berkolaborasi, berani memecahkan masalah, dan terbiasa memperbaiki kesalahan.

Karenanya, sekolah tidak perlu mengetahui pekerjaan apa yang akan dilakukan murid dua puluh tahun mendatang. Sekolah hanya perlu memastikan bahwa ketika masa itu tiba, mereka memiliki pengetahuan yang kuat, karakter yang kokoh, budaya kerja yang baik, dan kemampuan untuk belajar kembali sesuai nilai-nilai dasar yang ditanamkan di sekolah. Sampai di titik ini, pendidikan menyiapkan manusia untuk bekerja, tetapi tidak boleh berhenti pada pekerjaan. Dunia kerja boleh berubah, teknologi boleh berganti, dan profesi boleh berkembang. Sekolah juga harus terus berubah dengan tanpa kehilangan tujuan utamanya, yaitu menumbuhkan manusia yang mampu bekerja, terus belajar, dan memaknai kehidupannya.



Prev Post

Psikologi Tidak Selalu Condong Ke Barat! Belajar Memahami Dari Perspektif Islam

Next Post

Merebut Kembali Makna Kampus

BACK TO TOP