26/08/2026 23

Memuliakan Guru, Menyelamatkan Masa Depan

author photo
By Dr. Muh. Ikhwan Ahada, S.Ag., M.A.

Dosen Universitas Ahmad Dahlan

Kita sering mengatakan bahwa guru adalah profesi mulia. Kalimat itu begitu sering diucapkan sampai begitu akrab di telinga dan hampir kehilangan daya gugahnya. Barangkali justru karena terlalu sering diucapkan, kita lupa mengajukan pertanyaan sederhana: sudahkah cara kita memperlakukan guru mencerminkan keyakinan tersebut?

Pertanyaan itu membawa kita kembali ke hakikat pendidikan. Jika pendidikan pada dasarnya merupakan proses memanusiakan manusia, sebagaimana ditegaskan Abdul Mu’ti dalam pidato Hardiknas 2026, melalui semangat asah, asih, dan asuh, maka orang yang menjalankan proses tersebut semestinya juga diperlakukan secara manusiawi. Guru tidak cukup hanya diminta untuk bekerja keras. Mereka membutuhkan kondisi yang memungkinkan profesinya dijalankan dengan martabat.

Barangkali persoalannya bukan pada seberapa sering kita mengatakan bahwa guru itu mulia. Justru persoalan utamanya terletak pada pertanyaan, apakah kemuliaan guru benar-benar hadir dalam kehidupan profesinya? Penghormatan terhadap guru memang tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan terima kasih, penghargaan, atau sebutan “pahlawan tanpa tanda jasa”. Sebab, mengajar dan mendidik bukan pekerjaan yang sekadar memindahkan pengetahuan. Di dalamnya ada keputusan pedagogis, pertimbangan etis, pengalaman, refleksi, dan hubungan antarmanusia.

Sudahkah Profesi Guru Dimuliakan?

Guru sejatinya tidak membutuhkan romantisasi. Guru membutuhkan penghormatan terhadap profesinya. Flores (2023) mengingatkan bahwa meningkatnya birokrasi, intensifikasi pekerjaan, dan persoalan kepercayaan terhadap profesionalisme menjadi tantangan bagi profesi guru. Ia juga memperingatkan bahaya deprofessionalisation ketika guru diposisikan hanya sebagai pelaksana teknis kurikulum, bukan sebagai tenaga profesional yang mampu berpikir dan mengambil keputusan secara reflektif. Setiap guru tentu harus mengikuti arah pendidikan nasional. Namun, mengikuti kebijakan tidak berarti kehilangan kemampuan untuk berpikir secara profesional.

Saat ini, harapan terhadap guru memang semakin bertambah besar. Mereka di ruang kelas mengajar, membentuk karakter, memahami perbedaan murid, menggunakan teknologi, berkomunikasi dengan orang tua, sekaligus terus belajar mengikuti perubahan. Tuntutan itu tidak perlu diturunkan standarnya. Satu hal yang perlu dipastikan adalah tersedianya dukungan yang sepadan dengan tanggung jawab tersebut.

Selain itu, ada satu pertanyaan yang layak diajukan. Mengapa seseorang memilih menjadi guru, dan apakah profesi tersebut mampu mempertahankan daya tariknya? Penelitian Augustinienė dan Stanišauskienė (2025) menunjukkan bahwa motivasi intrinsik dan altruistik rupanya menjadi alasan penting bagi seseorang untuk memasuki profesi tersebut. Keinginannya adalah memberikan kontribusi, memperbaiki pendidikan, dan membantu generasi muda menjadi sumber makna yang kuat. Namun demikian, prestise, pendapatan bulanan, tanggung jawab, dan kondisi kerja tetap turut membentuk pandangan terhadap pilihan tersebut. Panggilan hati memang penting bagi seorang guru. Tetapi, sebuah profesi sulit dapat bertahan hanya dengan panggilan hati.

Pembicaraan tentang daya tarik profesi guru ini pada akhirnya membawa kita pada topik tentang kesejahteraan. Kesejahteraan guru memang tidak semestinya dipandang sebagai hadiah atas pengabdian, melainkan sebagai bagian dari martabat profesi. Orang yang memikul tanggung jawab besar dalam mendidik generasi muda membutuhkan kehidupan yang layak agar dapat bekerja dengan tenang, fokus, dan berkelanjutan.

Dalam pada itu, ada hal lain yang juga sering luput dari pembicaraan kita, yakni soal waktu guru. Guru membutuhkan waktu untuk membaca, berpikir, memahami murid, berdiskusi dengan kolega, dan memperbaiki pembelajaran di kelas. Ketika waktu itu terlalu banyak terserap untuk urusan administratif, maka proses pendidikan boleh jadi akan kehilangan sesuatu yang tidak mudah diganti, yakni kesempatan guru untuk berpikir tentang muridnya.

Kabar baiknya, perubahan itu tidak datang dari ruang kosong. Pemerintah telah mulai membangun fondasi melalui peningkatan kualifikasi, kompetensi, kesejahteraan, serta pengembangan profesionalisme guru. Kebijakan Hari Belajar Guru, misalnya, memberi ruang bagi pengembangan profesional sekaligus diarahkan untuk mengurangi beban administratif. Guru membutuhkan waktu untuk menjadi seorang guru. Mengurangi beban administratif bukan sekadar meringankan pekerjaannya. Kebijakan itu berarti mengembalikan waktu kepada profesi.

Jika guru yang menghidupkan kurikulum tidak memiliki cukup waktu untuk berpikir, belajar, dan memahami murid, lalu bagaimana mungkin pendidikan dapat benar-benar memuliakan manusia? Pertanyaan itu membawa kita pada persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana memastikan perubahan kebijakan dapat tumbuh menjadi lingkungan pendidikan yang memungkinkan guru bekerja dengan baik?

Mari Selamatkan Masa Depan

Guru memang tidak bekerja sendirian. Kepala sekolah, institusi sekolah, pemerintah, orang tua, dan masyarakat sama-sama ikut membentuk lingkungan tempat guru bekerja. Kepala sekolah memberi kepercayaan, sekolah menyediakan ruang belajar, pemerintah membangun kebijakan, sementara orang tua dan masyarakat ikut serta menjaga martabat pendidikan. Pemerintah telah membuka sejumlah jalan melalui kebijakan peningkatan kualifikasi, kompetensi, kesejahteraan, serta pengembangan profesionalisme guru. Tantangan berikutnya adalah memastikan jalan tersebut benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari guru di sekolah.

Kebijakan yang baik pada akhirnya diuji di sekolah. Apakah kepala sekolah memberi ruang kepada guru untuk belajar? Apakah administrasi bagi guru benar-benar disederhanakan? Apakah budaya kerja di sekolah menyediakan ruang bagi percakapan profesional, refleksi, dan kolaborasi? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut berdampak signifikan terhadap perubahan ekosistem pendidikan. Karena itu, perubahan pendidikan tidak selesai setelah kebijakan tersebut diterbitkan. Ia baru menemukan maknanya ketika hadir dalam keseharian di sekolah, sehingga martabat guru akan semakin meningkat.

Sebab, martabat guru tidak dibangun oleh satu bentuk penghargaan. Ia tumbuh dari kondisi yang membuatnya merasa layak secara material, kuat secara profesional, dipercaya dalam mengambil keputusan, memiliki waktu untuk belajar, serta memiliki kesempatan untuk terus tumbuh dan berkembang. Kesejahteraan memberi ketenangan, kompetensi memberi kemampuan, kepercayaan memberi keberanian, dan ruang belajar memberi kesempatan untuk bertumbuh.

Kendati demikian, menghormati profesi guru juga bukan berarti membebaskan mereka dari tanggung jawab. Guru yang bermartabat tetap harus kompeten, berintegritas, terbuka terhadap evaluasi, dan bersedia untuk terus belajar. Sebab, semakin tinggi martabat sebuah profesi, maka akan semakin tinggi pula standar profesional yang harus dijaga. Penghormatan tidak membuat guru kebal terhadap kritik. Justru karena profesi yang dihormati itu, guru harus selalu bersedia mempertanggungjawabkan pekerjaannya.

Demikian pula dengan kepercayaan terhadap guru. Kepercayaan bukan berarti membiarkan guru bekerja tanpa arah. Kepercayaan berarti memberi mereka ruang untuk menggunakan pengetahuan dan pertimbangan profesional ketika berhadapan dengan murid yang berbeda-beda. Kebebasan dan kepercayaan terhadap guru harus selalu berjalan bersama etika, kompetensi, tanggung jawab, dan akuntabilitas. Sebab, pendidikan yang sungguh-sungguh menghargai murid sulit diwujudkan jika guru yang berada di garis terdepan tidak memiliki waktu, kepercayaan, dan dukungan yang memadai.

Dalam pada itu, pertanyaan kini menjadi lebih jauh lagi. Guru seperti apa yang ingin kita hadirkan untuk masa depan? Kita membutuhkan guru yang menguasai ilmu, memahami manusia, terbuka terhadap perubahan, dan tetap peka terhadap realitas sosial. Kita membutuhkan pendidik yang tidak berhenti belajar karena dunia yang dihadapi murid juga tidak pernah berhenti bergerak.

Masa depan memang tidak dibentuk oleh teknologi. Masa depan justru dibentuk oleh manusia yang menggunakan teknologi tersebut. Manusia tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia tumbuh melalui relasi, interaksi, pengalaman, pendidikan, dan keteladanan. Di ruang kelas, semua itu sering kali ditemukan melalui sosok guru. Di sinilah hubungan antara guru dan masa depan menjadi nyata. Seorang guru yang membantu murid memahami pelajaran, memotivasinya agar berani bertanya, bangkit setelah gagal, atau menghargai orang lain sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang jauh melampaui batas waktu 1 jam pelajaran. Ia sedang ikut membentuk manusia yang kelak akan hidup dan mengambil keputusan di tengah masyarakat.

Kita tidak tahu persis seperti apa dunia yang akan dihadapi anak-anak di masa depan. Kita juga tidak tahu pekerjaan apa yang akan mereka jalani, teknologi apa yang akan mereka gunakan, atau persoalan apa yang akan mereka hadapi. Yang kita tahu, mereka membutuhkan orang dewasa yang mampu membantu mereka tumbuh dengan pengetahuan, keteladanan, kepedulian, dan keberanian. Di ruang kelas, orang dewasa yang sering hadir adalah guru. Karena itu, kualitas guru hari ini bukan hanya persoalan profesi. Ia merupakan bagian dari ikhtiar untuk menentukan kualitas manusia yang akan menjalani hari esok. Dengan demikian, memuliakan guru bukanlah hadiah bagi guru. Sebab, memuliakan guru adalah cara sebuah bangsa untuk memuliakan dan menyelamatkan masa depannya.



Prev Post

Membaca Ekonomi Indonesia Hari Ini dengan Kacamata Ibnu Khaldun

Next Post

Pelajaran dari Jambi

BACK TO TOP