Dosen PGSD UNMUH BABEL. dan Mahasiswa Doktoral Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta.
Hasil PISA 2025 kembali memberikan pesan penting bagi pendidikan Indonesia. Boleh kita angkat topi dengan pencapaian Literasi dan Sains yang menunjukkan angka yang lebih baik dari sebelumnya. Jangan bangga dulu, ternyata ada yang ditinggal sendiri dibelakang. Berdasarkan data yang disampaikan, skor matematika Indonesia berada pada angka 364, turun 2 Poin dari angka 366 pada PISA 2022. Pada saat yang sama, rata-rata OECD mencapai 463 poin. Yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya selisih skor tersebut, melainkan proporsi peserta didik yang mencapai kompetensi minimum. Hanya sekitar 16,9% siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam matematika.
Angka-angka tersebut seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai peringkat atau rapor buruk pada jenjang sekolah menengah. Bagi saya sebagai pemerhati pendidikan sekolah dasar, hasil tersebut perlu dibaca sebagai cermin dari proses panjang pembentukan kemampuan numerasi yang dimulai jauh sebelum seorang anak berusia 15 tahun. Dengan kata lain, persoalan PISA bukan semata-mata persoalan SMP atau SMA. Sebagian pondasinya dibangun sejak SD.
Selama ini numerasi sering kali masih dipahami secara sempit sebagai kemampuan berhitung: menjumlahkan, mengurangkan, mengalikan, membagi, atau menghafal rumus. Padahal, numerasi jauh lebih luas. Numerasi berkaitan dengan kemampuan seseorang memahami informasi kuantitatif, menggunakan konsep matematika dalam situasi nyata, menalar, mengambil keputusan, menafsirkan data, dan menjelaskan alasan dari suatu jawaban.
Seorang anak mungkin mampu menghitung luas persegi panjang dengan benar ketika angka dan rumus telah tersedia. Namun, apakah anak tersebut mampu menentukan bagaimana memperkirakan luas halaman sekolah yang bentuknya tidak beraturan? Apakah ia dapat membandingkan penggunaan air? Apakah ia dapat membaca tabel sederhana tentang jumlah sampah? Apakah ia mampu menjelaskan mengapa suatu strategi perhitungan lebih masuk akal daripada strategi lainnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggambarkan perbedaan antara belajar matematika dan mengembangkan kemampuan numerasi.
Karena itu, hasil PISA 2025 seharusnya mendorong perubahan paradigma pembelajaran matematika sejak SD, dari pembelajaran yang terlalu berorientasi pada jawaban menuju pembelajaran yang memberi ruang lebih besar pada pemahaman, penalaran, pemecahan masalah, komunikasi matematis, dan penerapan matematika dalam kehidupan.
Fondasi numerasi dibangun sejak SD
Sebagian orang menganggap usia SD anak tidak ada kaitannya dengan hasil PISA. Usia 15 tahun memang menjadi usia peserta PISA, tetapi kemampuan matematika yang mereka tampilkan merupakan hasil akumulasi pengalaman belajar bertahun-tahun. Pada kelas rendah SD, misalnya, anak membangun pemahaman tentang bilangan, operasi, pola, pengukuran, bentuk, ruang, dan hubungan antarbesaran. Pada kelas tinggi, fondasi tersebut berkembang menjadi kemampuan penalaran, pemecahan masalah, representasi, data, pecahan, rasio, dan hubungan proporsional.
Jika sejak awal anak terbiasa menghafal prosedur tanpa memahami makna, maka ketika menghadapi masalah yang berbeda dari contoh buku, mereka dapat mengalami kesulitan. Sebaliknya, apabila sejak SD anak terbiasa bertanya “mengapa?”, “bagaimana jika?”, “adakah cara lain?”, dan “apakah jawaban ini masuk akal?”, maka mereka sedang membangun fondasi berpikir matematis yang lebih kuat. Karena itu, reformasi numerasi tidak cukup dilakukan melalui program tambahan menjelang asesmen. Numerasi harus menjadi budaya belajar di sekolah.
Salah satu pendekatan yang penting adalah membawa matematika lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Anak-anak SD tidak hidup di dalam buku teks. Mereka hidup di lingkungan dengan pasar, sungai, kebun, jalan, rumah, permainan, tempat ibadah, transportasi, lingkungan pesisir, dan berbagai aktivitas sosial-ekonomi.
Dalam konteks Bangka Belitung, misalnya, lingkungan bekas tambang timah atau kulong dapat menjadi sumber eksplorasi matematis. Anak dapat mengamati bentuk dan ukuran suatu area, membandingkan jarak, membaca data lingkungan, memperkirakan luas, mengidentifikasi bentuk geometris, atau membuat representasi sederhana berdasarkan kondisi lingkungan. Di sinilah pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) memiliki relevansi. Matematika tidak langsung diberikan sebagai kumpulan rumus, tetapi dikembangkan melalui masalah yang dapat dipahami peserta didik dan secara bertahap diarahkan menuju matematika yang lebih formal. Anak dapat mulai dari situasi konkret, membuat model, menemukan strategi, mendiskusikan strategi dengan teman, kemudian melakukan generalisasi. Proses semacam ini jauh lebih dekat dengan hakikat numerasi daripada sekadar latihan soal berulang.
Guru SD menjadi kunci perubahan
Namun, perubahan pembelajaran tidak mungkin hanya dibebankan kepada siswa. Guru SD memegang posisi strategis karena guru adalah pihak yang menerjemahkan kurikulum menjadi pengalaman belajar konkret. Guru perlu mendapatkan dukungan untuk mengembangkan soal yang tidak hanya memiliki satu prosedur penyelesaian. Misalnya, daripada bertanya: “Hitunglah luas persegi panjang dengan panjang 8 meter dan lebar 5 meter.”
guru dapat mengembangkan masalah: “Sekolah ingin membuat taman berukuran tertentu. Bagaimana cara menentukan luasnya? Apakah ada lebih dari satu rancangan yang mungkin?”
Pertanyaan kedua memberikan ruang bagi anak untuk mengukur, menggambar, memperkirakan, menghitung, membandingkan, dan memberikan alasan. Di situlah numerasi berkembang.
Jangan Mengejar PISA secara sempit
Kendati PISA menjadi sebuah patukan baik secara kurikulum, evaluasi, atau pembelajaran tetapi Jangan mengejar PISA secara sempit. Namun, ada satu hal yang juga harus diperhatikan. Hasil PISA tidak seharusnya membuat sekolah kemudian mengubah seluruh pembelajaran menjadi latihan soal PISA. Jika hal itu terjadi, kita hanya mengganti hafalan rumus dengan hafalan strategi menjawab soal. Yang perlu diperbaiki adalah fondasi proses belajarnya, bukan sekadar format soalnya.
PISA dapat menjadi salah satu cermin untuk melihat kemampuan siswa dalam menerapkan matematika. Akan tetapi, pendidikan matematika Indonesia tetap harus membangun manusia yang mampu berpikir, bernalar, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan menggunakan matematika secara bermakna dalam kehidupan.
Saatnya membangun ekosistem sekolah numerat, karena itu, respons terhadap PISA 2025 sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan, “Mengapa skor Indonesia 364?”. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang terjadi dalam proses belajar matematika anak Indonesia sejak kelas I SD hingga mereka berusia 15 tahun?”
Apakah anak mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi?
Apakah mereka terbiasa menggunakan matematika dalam kehidupan nyata?
Apakah kesalahan dipandang sebagai bagian dari proses belajar?
Apakah guru memberikan ruang untuk berbagai strategi?
Apakah sekolah menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar?
Dan yang tidak kalah penting, apakah anak merasa bahwa matematika adalah sesuatu yang dapat mereka pahami, bukan sesuatu yang hanya harus mereka takuti dan hafalkan?. Menurut saya, di situlah persoalan sebenarnya. Skor 364 bukan sekadar angka. Ia seharusnya menjadi alarm untuk memperkuat fondasi numerasi sejak pendidikan dasar. Penurunan dua poin dari PISA 2022 mungkin terlihat kecil secara statistik, tetapi proporsi siswa yang belum mencapai Level 2 menunjukkan bahwa tantangan numerasi Indonesia jauh lebih besar daripada sekadar perubahan skor.
Indonesia membutuhkan gerakan numerasi yang konsisten, berkelanjutan, dan dimulai sejak SD. Guru perlu diperkuat, pembelajaran perlu dikontekstualisasikan, asesmen perlu mendorong penalaran, dan lingkungan sekitar perlu dimanfaatkan sebagai laboratorium belajar.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan matematika bukan membuat anak mampu menjawab sebanyak mungkin soal. Tujuan yang lebih fundamental adalah membuat anak lebih dekat dengan Matematika dan mampu menggunakan matematika untuk memahami dunia di sekitarnya. Jika pondasi tersebut dibangun dengan serius sejak SD, maka PISA tidak lagi hanya menjadi rapor yang kita tunggu setiap beberapa tahun. PISA dapat menjadi salah satu indikator bahwa proses yang kita bangun di ruang-ruang kelas benar-benar sedang mengembangkan generasi yang mampu berpikir secara matematis, bernalar secara kritis, dan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi kehidupan nyata.
Tags: pendidikan literasi PISA Numerasi
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP