29/09/2026 7

Fakta-Fakta Seputar Hari Sarjana Nasional

author photo
By Redaksi PUNDI

Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta

Ada sebuah kisah menarik dalam novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo, yang pertama kali terbit sebagai cerita bersambung di surat kabar Sinar Hindia pada 1918. Novel ini mengisahkan Hidjo, seorang pemuda priyayi Jawa yang dikirim orang tuanya ke negeri Belanda agar kelak menjadi insinyur dan mengangkat derajat keluarga. Pada masa itu, pendidikan tinggi adalah hak istimewa yang langka bagi seorang pribumi dari tanah jajahan. Apalagi pendidikan itu ditempuh di Belanda, negeri yang saat itu menjadi simbol kemajuan.

Bagi pembaca masa kini, kisah semacam ini mungkin terasa biasa. Sekarang orang lalu lalang berangkat studi ke luar negeri. Namun di awal abad ke-20, belajar di negeri yang jauh adalah pencapaian yang teramat luar biasa. Sayangnya, Hidjo tidak berhasil menuntaskannya. Di Den Haag ia menumpang di rumah keluarga Belanda dan terlibat hubungan dengan Betje, putri pemilik rumah. Studinya terbengkalai. Didera pertentangan batin dan panggilan dari keluarga, Hidjo akhirnya pulang ke Jawa tanpa menyelesaikan sekolahnya.

Hidjo memang tokoh fiksi. Namun dalam kenyataan, ada seorang pemuda pribumi yang menempuh jalan serupa dan berhasil sampai ke ujungnya. Ia adalah Raden Mas Panji Sosrokartono, kakak kandung tokoh emansipasi perempuan Raden Ajeng Kartini. Sosrokartono kerap disebut sebagai orang Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana. Tanggal kelahirannya pun konon menjadi dasar peringatan Hari Sarjana Nasional setiap 29 September.

Kekeliruan di Balik Sebuah Tanggal

Masalahnya, Sosrokartono tidak lahir pada 29 September. Ia lahir di Mayong, Jepara, pada 10 April 1877. Lalu dari mana tanggal 29 September berasal? Hingga kini asal-usulnya belum diketahui pasti. Jejak paling awal yang bisa ditelusuri adalah unggahan akun Twitter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (@kemdikbud_RI) pada 29 September 2014 yang berisi ucapan "Selamat Hari Sarjana Nasional". Sejak itu, tagar #HariSarjanaNasional ramai digaungkan warganet setiap tahun. Lama-kelamaan tanggal ini dikaitkan dengan kelahiran Sosrokartono, padahal peringatan ini tidak pernah ditetapkan melalui dasar hukum resmi.

Terlepas dari kekeliruan tersebut, sosok Sosrokartono tetap layak menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa Indonesia. Ia berjuang di tengah keterbatasan zaman kolonial dan justru menjadi salah satu putra Hindia yang paling cemerlang di panggung dunia.

Si Jenius dari Timur

Sosrokartono berangkat ke Belanda pada 1898 dan sempat belajar di Sekolah Teknik Tinggi Delft. Ia kemudian pindah ke Universitas Leiden untuk mendalami bahasa dan sastra Timur. Di sana ia meraih gelar sarjana muda pada 1901, lalu gelar Doctorandus in de Oostersche Talen pada 1908 dengan predikat summa cum laude.

Ada beberapa hal yang membuat Sosrokartono begitu istimewa. Pertama, penguasaannya atas banyak bahasa. Ia adalah seorang poliglot. Jumlah bahasa yang dikuasainya berbeda-beda menurut sumber, tetapi mencapai puluhan, baik bahasa asing maupun bahasa daerah di Nusantara, termasuk bahasa klasik seperti Yunani dan Latin. Kecerdasannya membuat orang Eropa menjulukinya "Si Jenius dari Timur".

Kedua, ia adalah seorang jurnalis. Kemampuan bahasanya menjadi modal untuk berkarier di dunia jurnalistik internasional. Pada 1917 ia terpilih sebagai wartawan perang The New York Herald Tribune di Wina, Austria, untuk meliput Perang Dunia I. Dalam ujian seleksinya, ia berhasil meringkas berita sepanjang satu kolom menjadi hanya 27 kata, lebih ringkas daripada para pelamar lain. Agar leluasa bergerak di medan perang, ia bahkan diberi pangkat mayor.

Ketiga, kiprahnya di panggung diplomasi. Seusai perang, ia menjadi kepala juru bahasa di Liga Bangsa-Bangsa di Jenewa pada 1919–1921. Lembaga itu adalah cikal bakal Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Keempat, kepeduliannya pada pergerakan. Selama di Belanda, ia turut membentuk Indische Vereeniging, perkumpulan pelajar Hindia yang kelak berkembang menjadi organisasi politik pergerakan kebangsaan.

Setelah hampir tiga dasawarsa di Eropa, Sosrokartono pulang ke tanah air. Ia memilih hidup sederhana sebagai guru dan ahli kebatinan, jauh dari sorotan. Ia wafat di Bandung pada 8 Februari 1952 dan dimakamkan di Kudus, Jawa Tengah.

Sarjana dan Tanggung Jawabnya

Salah satu ajaran Sosrokartono yang paling dikenal hingga kini berbunyi: sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji, nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Artinya, kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat, menyerbu tanpa bala tentara, dan menang tanpa merendahkan. Empat baris ini terasa seperti rangkuman hidupnya. Ia pernah berdiri di pusat peradaban Eropa, menguasai puluhan bahasa, dan dibayar mahal oleh surat kabar Amerika. Namun ia memilih pulang dan mengabdi dalam senyap.

Di sinilah kisahnya berpapasan dengan Hidjo. Keduanya anak priyayi yang berangkat ke Belanda membawa harapan keluarga. Hidjo pulang tanpa menyelesaikan apa-apa, sedangkan Sosrokartono pulang membawa ilmu yang ia bagikan. Perbedaannya bukan terletak pada kecerdasan, melainkan pada untuk apa ilmu itu dicari.

Seabad kemudian, pendidikan tinggi tak lagi menjadi hak istimewa segelintir bangsawan. Setiap tahun ratusan ribu sarjana diwisuda di seluruh Indonesia. Tetapi pertanyaan yang sama tetap berlaku: apakah gelar itu hanya untuk sugih dan digdaya bagi diri sendiri, atau untuk menang tanpa ngasorake, yaitu membawa kemajuan tanpa menjauh dari masyarakat yang membesarkan kita?

Kekeliruan tanggal di balik Hari Sarjana Nasional mungkin tak bisa diluruskan dalam semalam. Namun ada ironi yang pantas direnungkan: sebuah hari untuk kaum terdidik lahir dari informasi yang tak pernah diperiksa. Mungkin justru itulah pelajaran pertamanya. Sarjana adalah orang yang mau memeriksa, bertanya, dan meluruskan, termasuk meluruskan kisah tentang dirinya sendiri.



Prev Post

Pekerjaan Rumah Numerasi Indonesia

Next Post

Kritik Dibalas dengan Kata “Goblok”: Menguji Batas Komunikasi Kekuasaan

BACK TO TOP