Direktur Pegiat Pendidikan Indonesia. Anggota Dewan Pendidikan DIY. Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan.
Sekolah bukan sekadar tempat murid memperoleh pengetahuan. Di sekolah, murid juga belajar berinteraksi, menghargai perbedaan, menyelesaikan persoalan, dan bertanggung jawab atas tindakannya. Karena itu, pengalaman murid selama berada di sekolah ikut menentukan kualitas pendidikannya. Sekolah yang aman memberi perlindungan, sedangkan sekolah yang nyaman membuat murid merasa dihargai dan diterima. Lingkungan seperti inilah yang memberi ruang bagi murid untuk belajar dan berkembang.
Persoalan keamanan dan kenyamanan memang tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan yang mudah terlihat. Perundungan, diskriminasi, komunikasi yang merendahkan, tekanan psikologis, lingkungan fisik yang berisiko, dan persoalan di ruang digital juga dapat mengganggu pengalaman belajar murid. Tidak semua sekolah menghadapi persoalan tersebut dalam bentuk dan tingkat yang sama. Namun, berbagai risiko itu menunjukkan pentingnya perhatian terhadap lingkungan tempat murid belajar. Dalam A Review of School Climate Research, Thapa, dkk. (2013) menempatkan keamanan dan kualitas hubungan sebagai bagian penting dari iklim sekolah.
Perhatian terhadap persoalan tersebut kini memperoleh landasan kebijakan yang lebih luas melalui Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN). Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 dan Kepmendikdasmen Nomor 17 Tahun 2026 mengarahkan sekolah untuk membangun lingkungan yang melindungi dan menyejahterakan warga sekolah. Kebijakan ini memperluas perhatian dari pencegahan dan penanganan kekerasan menuju pembentukan nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku dalam kehidupan sekolah. Sekolah tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat menangani persoalan, tetapi juga ruang untuk membangun budaya yang aman dan nyaman.
Kepmendikdasmen Nomor 17 Tahun 2026 memaknai BSAN sebagai keseluruhan nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku yang dibangun di sekolah untuk memenuhi kebutuhan spiritual, memberikan perlindungan fisik, menjamin kesejahteraan psikologis dan keamanan sosiokultural, serta membangun keadaban dan keamanan digital. Makna tersebut memperluas cara kita melihat keamanan sekolah. Sekolah perlu memastikan warga sekolah terlindungi secara fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan digital. Kenyamanan juga tidak cukup dipahami sebagai suasana yang menyenangkan, tetapi sebagai keadaan ketika warga sekolah merasa dihargai dan diterima. Karena itu, BSAN pada dasarnya berbicara tentang bagaimana sekolah memperlakukan manusia di dalamnya.
Tantangan BSAN bukan terutama membuat aturan baru, melainkan memastikan nilai yang ditetapkan benar-benar hidup dalam keseharian sekolah. Aturan tentang saling menghormati akan kehilangan makna jika komunikasi sehari-hari masih merendahkan. Begitu pula nilai empati tidak akan tumbuh hanya karena disampaikan dalam kegiatan sosialisasi. Murid belajar dari apa yang mereka lihat dan alami berulang kali. Karena itu, perilaku kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan murid menjadi bagian penting dalam membentuk budaya sekolah.
Hubungan antara guru dan murid memiliki posisi yang sangat penting dalam proses tersebut. Cara guru menyapa, mendengarkan, menegur, dan merespons kesalahan dapat menentukan apakah murid merasa diterima atau justru merasa terancam. Dalam What Schools Need to Know About Fostering School Belonging: A Meta-Analysis, Allen, dkk. (2018) menunjukkan pentingnya dukungan guru dalam membangun rasa memiliki murid terhadap sekolah. Temuan ini memperlihatkan bahwa kenyamanan tidak hanya dibentuk oleh fasilitas sekolah. Ia juga tumbuh dari hubungan yang membuat murid merasa dirinya dihargai.
Nilai yang telah menjadi kebiasaan kemudian perlu didukung oleh sistem sekolah. Pemetaan risiko, deteksi dini, aturan yang jelas, kanal pelaporan, dan prosedur respons membantu sekolah menghadapi persoalan secara lebih konsisten. Kepmendikdasmen Nomor 17 Tahun 2026 memang menempatkan penguatan tata kelola, edukasi, penguatan peran warga sekolah, serta respons dan penanganan pelanggaran sebagai bagian dari penyelenggaraan BSAN. Sistem tersebut seharusnya membantu sekolah bekerja lebih tertib, bukan menambah beban administratif. Yang penting bukan banyaknya dokumen, melainkan apakah warga sekolah tahu apa yang harus dilakukan ketika risiko atau persoalan muncul.
Tanggung jawab tersebut juga tidak berhenti di sekolah. Surat Edaran Sekretaris Jenderal Nomor 3 Tahun 2026 meminta pemerintah daerah mendukung BSAN melalui perencanaan dan penganggaran, koordinasi lintas sektor, peningkatan kapasitas, kanal aduan yang aman dan inklusif, serta dukungan sarana dan layanan. Pokja BSAN memiliki fungsi antara lain memberikan edukasi, meningkatkan kapasitas, menerima dan memverifikasi laporan, mengoordinasikan rujukan, serta melakukan pemantauan. Dukungan tersebut penting karena tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan sumber daya sekolah sendiri. Sekolah tetap menjadi tempat utama membangun budaya, sementara pihak lain memberikan dukungan sesuai kewenangannya.
Ketika pelanggaran terjadi, sekolah perlu merespons secara tepat dan proporsional. BSAN mengutamakan pendekatan promotif, preventif, dan kolaboratif, tetapi tetap menyediakan pendekatan kuratif dan rehabilitatif ketika pelanggaran terjadi. Penanganan pelanggaran tata tertib atau kode etik diarahkan untuk melindungi pihak yang dirugikan, memberikan edukasi kepada pelanggar, dan memulihkan keamanan serta kenyamanan sekolah. Untuk dugaan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan, penanganannya mengikuti ketentuan hukum yang berlaku. Dengan demikian, budaya aman bukan berarti sekolah menghindari ketegasan, tetapi memastikan ketegasan digunakan dengan cara yang tepat.
Membangun BSAN dapat dimulai dari membaca kondisi sekolah secara jujur. Dengarkan pengalaman murid, kenali ruang yang berisiko, lihat pola interaksi yang perlu diperbaiki, dan perhatikan pula persoalan yang muncul di ruang digital. Setelah itu, sepakati perilaku yang ingin dibangun dan pastikan orang dewasa di sekolah menjadi teladan pertama. Nilai tersebut kemudian perlu diperkuat dengan aturan, deteksi dini, kanal aduan, prosedur penanganan, dan pemulihan yang jelas. Semua langkah itu akan lebih kuat jika keluarga, komite sekolah, pemerintah daerah, masyarakat, dan layanan terkait dilibatkan sesuai kebutuhannya.
Ukuran keberhasilannya pun perlu dilihat dari pengalaman nyata warga sekolah. Apakah murid berani menyampaikan pendapat tanpa takut dipermalukan? Apakah mereka merasa diterima ketika berbeda? Apakah guru memiliki cara yang sehat dalam menghadapi kesalahan dan konflik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih bermakna daripada sekadar menghitung jumlah aturan atau kegiatan yang telah dilaksanakan. Sebab budaya sekolah terlihat dari apa yang dialami manusia di dalamnya setiap hari.
Membangun sekolah aman dan nyaman memang tidak dapat selesai dalam satu program. Perubahan membutuhkan ketekunan, keteladanan, dan keberanian untuk memperbaiki kebiasaan yang selama ini dianggap biasa. Pemerintah telah menyediakan arah kebijakan dan pedoman, sementara sekolah memiliki ruang untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan masing-masing. Karena itu, tidak perlu menunggu sekolah menjadi sempurna untuk mulai berubah. Mulailah dari satu kelas, satu kebiasaan, satu cara berbicara, dan satu tindakan yang membuat murid merasa lebih dihargai hari ini. Dari perubahan kecil yang dilakukan bersama dan terus-menerus, budaya sekolah yang aman dan nyaman akan tumbuh. Pada akhirnya, sekolah yang baik bukan hanya tempat murid belajar tentang dunia, tetapi tempat mereka mengalami bahwa dunia dapat dibangun dengan saling menghargai satu sama lain [. ]
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP