Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) secara resmi tercatat masuk dalam daftar 10 besar provinsi dengan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) tertinggi di tingkat nasional pada tahun 2026. Fenomena ini kembali menyoroti secara tajam ketimpangan akses dan kualitas pendidikan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah, khususnya dalam memastikan pemerataan fasilitas belajar bagi anak-anak di wilayah timur Indonesia.
Mengutip laporan data yang dipublikasikan oleh detik.com, tingginya akumulasi angka ATS di wilayah NTT tidak terlepas dari kombinasi permasalahan sistemik di lapangan. Keterbatasan ekonomi keluarga, letak geografis kepulauan yang menyulitkan mobilitas siswa menuju sekolah, hingga minimnya infrastruktur pendidikan di daerah pelosok atau 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) menjadi faktor pendorong utama. Kondisi krisis ini semakin diperparah oleh dampak gempa bumi yang mengguncang kawasan Flores pada Agustus 2026 lalu, yang mengakibatkan rusaknya ratusan fasilitas belajar dan memaksa banyak anak kehilangan akses pendidikan karena harus tinggal di posko pengungsian.
Menyikapi lonjakan angka putus sekolah tersebut, sejumlah pengamat pendidikan mendesak adanya intervensi darurat dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) beserta pemerintah daerah setempat. "Kondisi di NTT pasca-bencana sangat kompleks. Banyak keluarga yang kehilangan mata pencaharian sehingga pendidikan anak terpaksa dikesampingkan demi bertahan hidup. Jika pemerintah tidak segera menyalurkan skema bantuan afirmatif yang spesifik untuk daerah terdampak, angka putus sekolah ini akan menjadi bom waktu," tegas salah seorang pengamat pendidikan dalam wawancaranya yang dilansir detik.com.
Masuknya NTT ke dalam daftar 10 besar darurat ATS nasional ini menjadi rapor merah bagi implementasi program wajib belajar di Tanah Air. Realitas di lapangan menuntut pemerintah untuk tidak sekadar memberikan bantuan administratif, melainkan segera merealisasikan pembangunan ulang infrastruktur sekolah yang tahan gempa serta memberikan jaring pengaman sosial pendidikan bagi keluarga prasejahtera. Pembiaran terhadap tingginya angka putus sekolah ini berisiko memperlebar jurang ketimpangan sumber daya manusia, sekaligus merenggut masa depan ribuan anak di NTT yang berhak mendapatkan pengajaran yang layak.
Copyright By@PUNDI - 2024
BACK TO TOP