15/10/2026 11

Bally Bagayoko Berdiri di Hadapan Polisi demi Pelajar

author photo
By Redaksi PUNDI

Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta

Prancis - Seorang pemimpin tidak selalu menunjukkan keberpihakannya melalui pidato atau kebijakan yang diumumkan dari balik meja. Dalam situasi tertentu, keberpihakan justru terlihat ketika ia bersedia hadir di tengah warga, menghadapi risiko, dan menempatkan keselamatan orang lain di atas kenyamanan dirinya sendiri.

Sikap itu tergambar dalam tindakan Wali Kota Saint-Denis, Prancis, Bally Bagayoko, yang turun langsung ke tengah demonstrasi pelajar di Paris pada Selasa (6/10/2026). Di tengah tuntutan perbaikan pendidikan yang mencakup kekurangan guru, kepadatan ruang kelas, dan buruknya fasilitas sekolah, Bagayoko berdiri di antara polisi antihuru-hara dan para demonstran untuk meminta aparat menghentikan tindakan mereka.

Dalam situasi yang memanas, ia bahkan dilaporkan turut terkena gas air mata ketika berusaha melindungi para pelajar. Tindakannya memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan tidak selalu dapat dipisahkan dari persoalan perlindungan warga, terutama ketika aspirasi disampaikan melalui demonstrasi yang berisiko menimbulkan benturan.

Bagayoko menjelaskan bahwa para pelajar yang berada di hadapannya bisa saja merupakan anak-anaknya sendiri. Sebagai ayah empat anak, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk melindungi mereka. Pernyataan tersebut membawa persoalan ke ruang yang lebih mendasar: anak-anak muda yang turun ke jalan bukan semata-mata kerumunan yang harus dikendalikan, melainkan warga yang menyuarakan kegelisahan tentang masa depan mereka.

Pendidikan Bukan Hanya Persoalan Ruang Kelas

Tuntutan mengenai kekurangan guru, ruang kelas yang padat, dan fasilitas sekolah yang buruk memperlihatkan bahwa mutu pendidikan tidak cukup diukur dari kurikulum, nilai ujian, atau jumlah peserta didik yang lulus. Pendidikan juga bergantung pada kondisi nyata yang memungkinkan proses belajar berlangsung secara layak.

Kekurangan guru, misalnya, dapat mengurangi kesempatan siswa memperoleh perhatian dan pendampingan yang memadai. Ruang kelas yang terlalu padat berpotensi membatasi interaksi antara guru dan murid, sementara fasilitas yang tidak memadai dapat menghambat kegiatan belajar. Jika persoalan tersebut berlangsung terus-menerus, kesenjangan kesempatan belajar dapat semakin sulit diatasi.

Karena itu, demonstrasi pelajar tidak semestinya hanya dibaca sebagai gangguan terhadap ketertiban umum. Aksi tersebut juga dapat menjadi tanda bahwa terdapat kebutuhan yang belum terjawab melalui saluran kebijakan yang tersedia. Pemerintah perlu mendengar substansi tuntutan, memeriksa kondisi sekolah, dan menjelaskan langkah konkret untuk memperbaikinya.

Tentu saja, dukungan terhadap tuntutan pendidikan tidak berarti semua tindakan dalam demonstrasi dapat dibenarkan. Namun, penanganan ketertiban dan perlindungan hak untuk menyampaikan aspirasi seharusnya tidak diperlakukan sebagai dua kepentingan yang selalu bertentangan.

Ketika Pemimpin Memilih Hadir di Tengah Demonstran

Keputusan Bagayoko untuk berdiri di antara aparat dan pelajar mengandung pesan tentang tanggung jawab jabatan publik. Seorang wali kota memang tidak memiliki kewenangan untuk menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan nasional seorang diri. Namun, ia dapat menggunakan kedudukannya untuk menyuarakan kepentingan warga, mendorong dialog, dan mengingatkan bahwa keselamatan manusia harus menjadi perhatian utama dalam situasi konflik.

Di sinilah kehadiran seorang pemimpin memiliki arti yang melampaui simbol. Kehadiran langsung dapat menjadi bentuk solidaritas, tetapi juga mengandung risiko. Ketika seorang pejabat bersedia menghadapi situasi berbahaya, tindakannya dapat menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi warga tidak dianggap sebagai urusan yang jauh dari tanggung jawabnya.

Meski demikian, keberanian personal tidak boleh menjadi pengganti kebijakan. Melindungi pelajar di tengah demonstrasi merupakan tindakan penting, tetapi perlindungan yang berkelanjutan membutuhkan langkah yang lebih luas: evaluasi kondisi sekolah, pemenuhan kebutuhan tenaga pengajar, perbaikan fasilitas, serta mekanisme dialog yang memungkinkan keluhan siswa didengar sebelum berkembang menjadi konflik.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan kepemimpinan bukan hanya keberanian tampil pada saat krisis, melainkan juga kemampuan mendorong perubahan setelah perhatian publik mereda.

Pelajar Bukan Sekadar Objek Penertiban

Demonstrasi yang berlangsung selama lebih dari dua pekan, sebagaimana disebutkan dalam bahan pemberitaan, dilaporkan diwarnai ribuan penangkapan dan korban luka. Angka-angka tersebut perlu dibaca dengan merujuk pada laporan terverifikasi, termasuk rincian waktu, wilayah, dan pihak yang melakukan pendataan.

Namun, apabila situasi tersebut terkonfirmasi, besarnya dampak demonstrasi menunjukkan pentingnya evaluasi terhadap cara negara merespons aksi massa. Penggunaan kekuatan oleh aparat harus dinilai berdasarkan kebutuhan, proporsionalitas, dan perlindungan terhadap orang-orang yang berisiko mengalami cedera.

Pelajar yang menyampaikan tuntutan pendidikan tetap memiliki martabat dan hak yang harus dihormati. Mereka bukan hanya penerima kebijakan, melainkan bagian dari masyarakat yang akan menanggung dampak keputusan pemerintah dalam jangka panjang. Mendengar suara mereka bukan berarti menyerahkan seluruh keputusan kepada demonstran, melainkan mengakui bahwa kebijakan pendidikan akan lebih kuat jika persoalan yang dialami peserta didik turut dipertimbangkan.

Pada akhirnya, tindakan Bally Bagayoko mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak hanya terlihat dari seberapa besar kewenangan yang dimiliki seseorang, tetapi juga dari bagaimana kewenangan itu digunakan ketika warga berada dalam keadaan rentan.

Keberanian berdiri di antara polisi dan pelajar dapat menarik perhatian publik. Namun, ujian yang lebih panjang terletak pada apakah tuntutan di balik demonstrasi tersebut benar-benar memperoleh jawaban. Sebab, melindungi pelajar pada saat benturan terjadi merupakan langkah penting, tetapi memastikan mereka memperoleh pendidikan yang layak adalah tanggung jawab yang tidak boleh berhenti ketika demonstrasi berakhir.



Prev Post

Darurat Pendidikan, Provinsi NTT Masuk 10 Besar Nasional Angka Anak Tidak Sekolah Tertinggi

BACK TO TOP