28/10/2026 27

Direktorat SMK Kunjungi Yayasan PUNDI, Bahas Hasil Riset Budaya Industri

author photo
By Redaksi PUNDI

Dewan Redaksi Pegiat Pendidikan Indonesia Yogyakarta

Subdirektorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), berkunjung ke Yayasan PUNDI pada Rabu (28/10/2026). Kunjungan ini bertujuan meninjau dan mendiskusikan secara langsung hasil riset PUNDI tentang budaya industri di 20 SMK yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

Ke-20 SMK tersebut mewakili tiga kategori letak geografis, yaitu SMK di perkotaan, pedesaan, dan daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Melalui riset ini, PUNDI memetakan bagaimana budaya industri terbangun di SMK pada ketiga kategori wilayah tersebut. Dari pemetaan itu, terlihat tantangan sekaligus peluang yang akan dihadapi SMK ke depan dalam menyelaraskan diri dengan DUDI.

Diskusi antara PUNDI dan Subdirektorat Kemitraan dan Penyelarasan DUDI berlangsung hangat. Kedua pihak membahas cara memanfaatkan hasil riset untuk memetakan peluang tersebut, sekaligus menyusun panduan implementasi budaya industri bagi seluruh SMK di Indonesia.

Direktur Yayasan PUNDI, Dr. Farid Setiawan, S.Pd., M.Pd.I., menyambut antusias kunjungan tim Direktorat SMK.

"Kami sangat senang menyambut rekan-rekan dari Direktorat SMK. Ini menjadi bukti bahwa Direktorat SMK memaksimalkan kebijakan berdasarkan riset yang utuh di lapangan. Dengan demikian, kerja-kerja Direktorat SMK dalam menyukseskan penyelarasan SMK dengan dunia usaha dan dunia industri dilandasi oleh riset yang objektif," tegas Farid.

Sementara itu, Kepala Subdirektorat Kemitraan dan Penyelarasan DUDI, Sartana, S.Pd., M.M., menyampaikan bahwa PUNDI sebagai mitra telah membantu pihaknya menyusun panduan implementasi budaya industri. Setelah rampung, panduan tersebut diharapkan dapat diterapkan di seluruh SMK di Indonesia.

"Ketika laporan ini sudah jadi, pada tahun berikutnya, yaitu 2027, kami akan memprogramkan kembali implementasi panduan ini," ujar Sartana.

Menurut Sartana, panduan ini penting karena menyangkut karakter SMK yang bermitra dengan industri. "SMK punya kewajiban untuk bermitra dengan industri. Tetapi, karakter yang dimiliki SMK harus disinkronkan dengan karakter dunia usaha dan dunia industri itu sendiri, supaya kebutuhan dunia usaha dan dunia industri bisa terpenuhi," jelasnya.

Ia menambahkan, penyelarasan karakter tidak berhenti di situ. Hal ini juga berkaitan dengan program keahlian serta kompetensi yang dimiliki SMK agar selaras dengan kebutuhan DUDI.


Prev Post

MBG, Karhutla, dan Pangan: Tiga Masalah yang Ternyata Satu Paket

Next Post

ANGKA MENGATAKAN STABIL, JALANAN MENGATAKAN LAIN : MEMBACA KRISIS RESPONSIVITAS PEMERINTAHAN

BACK TO TOP